Pasal Penghinaan Presiden, Rieke: Kritik Bukan Tindak Pidana
Rieke Diah Pitaloka menilai putusan MK soal Pasal Penghinaan Presiden menjadi penyeimbang antara kehormatan pejabat dan kebebasan kritik.
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno mengikuti debat cawapres di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019)./Antara-Wahyu Putro
Harianjogja.com, JOGJA—Film dokumenter produksi Watchdoc, Sexy Killers, menjadi obrolan masyarakat dan sudah ditonton lebih dari delapan juta kali Youtube.
Film yang mengangkat sisi hitam pertambangan dan perkebunan kelapa sawit tersebut menyeret beberapa tokoh politik yang ada di Indonesia hingga pasangan capres dan cawapres yang berlaga dalam kontestasi politik Tahun 2019.
Salah satunya adalah cawapres nomor Urut 02 Sandiaga Uno. Saat diminta tanggapan mengenai film dokumenter tersebut, Sandi mengaku belum menonton film yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono tersebut.
“Saya belum nonton terus terang. Saya nonton dulu," kata Sandiaga di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Selasa (16/4/2019).
Meski dirinya tidak mengetahui soal film tersebut, Sandiaga tetap akan menyaksikan film tersebut jika ada waktu luang. Untuk meyakinkan diri, Sandiaga sempat menanyakan kalau film tersebut bukanlah film bernuansa seks.
“Itu bukan film tentang seks kan? Sexy Killers ya. Nanti saya nonton.”
Oleh beberapa pihak, Sexy Killers dituding menggiring opini publik untuk menjadi golongan putih (golput) dalam Pilpres 2019. Tuduhan itu mencuat lantaran film dokumenter tersebut membeberkan nama-nama pemegang saham dari perusahaan-perusahaan tambang dan perusahaan energi yang menggarap proyek pembangkit listrik.
Para pengusaha tersebut yang juga dikenal dalam kancah politik Indonesia. Bahkan, beberapa dari mereka terlibat langsung dengan pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo - Maruf Amin dan pasangan capres - cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Meski begitu, produser film Sexy Killer Didit Haryo Wicaksono menampik tuduhan tersebut. Sebaliknya, menurut penggiat lingkungan dari Greenpeace Indonesia itu, film Sexy Killers mengajak masyarakat untuk menjadi pemilih cerdas.
“Jadi kalau respons semacam, film ini mendorong untuk golput. Enggak benar sama sekali. Di film ini sama sekali kita tidak mengajak publik untuk tidak memilih, tapi kita mengajak publik untuk lebih cerdas dalam memilih. Keputusan tetap ada di tangan masyarakat,” kata Haryo kepada suara.com, jaringan harianjogja.com, Senin (15/04/2019).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Rieke Diah Pitaloka menilai putusan MK soal Pasal Penghinaan Presiden menjadi penyeimbang antara kehormatan pejabat dan kebebasan kritik.
Masyarakat bisa mengajukan pembaruan data DTSEN melalui aplikasi Cek Bansos atau kelurahan. Simak cara, syarat, dan alasan desil tidak langsung berubah.
Penyaluran bantuan air bersih dilaksanakan pada Jumat (14/8/2026) di Dusun Klayu, Gude 1, dan Gude 2, Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungki
Dispetaru Kabupaten Bantul menegaskan, pendirian bangunan di sempadan pantai harus mengikuti aturan merespons sejumlah bangunan yang rusak diterjang gelombang
Road trip makin populer di 2026. Simak 5 tips persiapan sebelum perjalanan jarak jauh
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.