Eksim Bisa Kambuh Berulang, Dokter Ungkap Pentingnya Kenali Pemicu
Eksim dapat berlangsung lama dan berulang. Kenali pemicu serta perubahan kondisi kulit untuk membantu mencegah kekambuhan.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri), Ketua KPU Arief Budiman (tengah) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). /Bisnis-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, JAKARTA-- Dua calon presiden yang akan berkompetisi dalam Pemilu 2019, Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, memiliki pendekatan berbeda mengenai politik luar negeri. Hal itu diungkapkan Ketua Departemen Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Shafiah Muhibat.
“Kalau boleh saya simpulkan, capres 01 (Jokowi) mengedepankan diplomasi sedangkan capres 02 (Prabowo) lebih memajukan isu-isu pertahanan dan militer,” kata Shafiah dalam "Forum Diskusi Seri Pemilu 2019” yang diselenggarakan CSIS di Jakarta, Senin (1/4/2019).
Dalam debat capres keempat yang salah satu topiknya adalah hubungan internasional, Sabtu (30/3/2019) lalu, Capres Nomor Urut 01 Jokowi menyoroti mengenai pentingnya diplomasi untuk menjalin hubungan dengan negara lain, terutama dalam bidang perdagangan dan investasi.
Pendekatan yang dipaparkan Jokowi, menurut Shafiah, sangat berbeda dibandingkan pandangannya mengenai kebijakan luar negeri saat Pemilu 2014 yang lebih mengemukakan pendekatan geopolitik.
"Kalau kita ingat debat lima tahun lalu, banyak ide-ide terkait maritim yang disampaikan Jokowi, sedangkan dalam debat dua hari lalu sangat minim referensi mengenai ide-ide awal beliau mengenai maritim,” tutur dia.
Sementara Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto, dinilai lebih melihat kebijakan luar negeri dari pendekatan militer, sehingga teritori menjadi isu yang sangat penting.
Menurut Shafiah, Prabowo melihat kebijakan luar negeri seharusnya dilakukan semaksimal mungkin untuk bisa mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia.
“Berarti sifatnya melihat hubungan kita dengan negara lain bukan memajukan sifat-sifat kooperatif, tetapi bagaimana menjaga teritori Indonesia supaya tidak ada serangan atau ancaman dari negara lain,” ujar dia.
Doktor lulusan Ilmu Politik Universitas Hamburg, Jerman, itu tidak bisa menentukan pendekatan mana yang lebih baik diantara dua calon, mengingat perbedaan pandangan mengenai kebijakan luar negeri lumrah dimiliki oleh berbagai negara di dunia.
Namun, Shafiah memprediksi kebijakan politik luar negeri Indonesia tetap akan berlandaskan prinsip bebas aktif, yang pertama kali dikemukakan oleh Mohammad Hatta pada 2 September 1948.
Bebas aktif mengacu pada kebijakan yang dirancang untuk melayani kepentingan nasional dan secara bersamaan memungkinkan Indonesia untuk bekerjasama dengan negara-negara lain, serta berkontribusi pada perdamaian dan keadilan sosial dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Eksim dapat berlangsung lama dan berulang. Kenali pemicu serta perubahan kondisi kulit untuk membantu mencegah kekambuhan.
Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95% pada kuartal III/2026. Investasi asing dan produksi pabrik menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Harga kakao dunia kembali naik pada 2026. Petani masih terkendala produktivitas, sementara industri Indonesia bergantung pada impor biji kakao.
Pengamat UGM Fahmy Radhi menilai Bahlil rangkap Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran.
Program Gentengisasi Prabowo dimulai dengan penyaluran 500.000 genteng UMKM Plered untuk meningkatkan kualitas hunian MBR.
Dmitry Medvedev menyebut serangan AS ke Iran menaikkan harga minyak dan membebani pembayar pajak AS.