OPINI: Prestasi Tak Berhenti di Gerbang PTN, Saatnya Mengubah Persepsi terhadap PTS
Prestasi siswa tak hanya diukur dari keberhasilan masuk PTN. Perguruan tinggi swasta (PTS) juga menawarkan pendidikan berkualitas dan peluang ber
Guguran Lava Merapi terpantau dari Srunen, Minggu (13/1/2019)./Twitter-BPPTKG
Harianjogja.com, JOGJA—Gunung Merapi mengeluarkan awan panas, Kamis (7/2/2019). Luncuran awan panas tersebut teramati pukul 18.28 WIB. Sementara itu, sekitar pukul 19.20 WIB, hujan abu dirasakan warga di wilayah Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Sekretaris Desa Genting Triyono mengatakan hujan abu tipis terlihat dari sorot lampu kendaraan yang melintas. Selain itu, abu yang sudah jatuh juga tampak di jok-jok kendaraan roda dua yang diparkir di luar ruangan. “Genting terjadi hujan abu tipis pukul 19.20 WIB terlihat dari jok motor dan sorot lampu kendaraan,” ujar dia kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia.
Dia mengatakan hujan abu juga tidak berlangsung lama. Selain itu, aktivitas warga tidak terganggu akibat hujan abu itu karena sebagian besar sudah berada di dalam rumah. “Tidak mengganggu aktivitas warga.”
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja Hanik Humaida mengatakan berdasarkan data seismik jarak luncur awan panas sekitar 2 km ke arah hulu Kali Gendol, amplitudo 70 dengan durasi 215 detik. Ini merupakan luncuran awan panas kedua kalinya setelah sebelumnya terjadi sebanyak tiga kali pada Selasa (29/1/2019) lalu.
“Benar ada awan panas. Ada potensi hujan abu. Warga diharap tetap tenang dan selalu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik,” katanya saat dikonfirmasi Harian Jogja.
Berdasarkan catatan Harian Jogja, jarak luncur awan panas sejauh 2 km itu merupakan yang terpanjang dibandingkan sebelumnya. Walaupun begitu masih di bawah jarak aman yang direkomendasikan oleh BPPTKG sejauh 3 km.
Adapun jarak luncuran awan panas yang tiga kali terjadi pada 29 Januari lalu masing-masing mencapai 1.400 meter dengan durasi 141 detik, 1.350 meter dan durasi 135 detik dan 1.100 meter dengan durasi 111 detik.
Sebelumnya, Kepala Seksi Gunung Merapu BPPTKG Agus Budi Santoso luncuran awan panas tergantung dari proses dan faktor yang memicunya. Peningkatan laju eksrusi magma disertai gas memungkinkan munculnya kembali awan panas. “Awan panas terjadi kalau eksrusi magma tinggi, kandungan gasnya tinggi,” kata dia.
Berdasarkan data BPPTKG sebelum terjadi luncuran awan panas, kondisi di sekitar Gunung Merapi pada Kamis (7/2/2019) petang diselimuti cuaca mendung dan berkabut. Suhu udara di sekitar lokasi antara 19,4 hingga 22,6 derajat Celcius, dengan tingkat kelembaban udara antara 86-78% rh dengan pressure 871,9-917,4 hpa.
Angin di sekitar Merapi cukup tenang. Di sekitar lokasi selama satu jam sebelum keluar awan panas, hujan sempat turun dengan skala 40 mm. Adapun guguran yang terjadi sejak siang hingga sore hari tercatat sebanyak 32 kali dengan durasi antara 12-157 detik.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementrian ESDM Kasbani saat berkunjung ke Kantor BPPTKG Jogja pada Rabu (6/2/2019) kemarin mengatakan aktivitas Merapi saat ini memasuki fase erupsi kecil. Hal itu menyebabkan kondisi kubah saat ini masih stabil meskipun beberapa kali terjadi guguran lava. “Awan panas yang muncul skalanya masih kecil. Ini karena pertumbuhan kubah juga relatif rendah,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Prestasi siswa tak hanya diukur dari keberhasilan masuk PTN. Perguruan tinggi swasta (PTS) juga menawarkan pendidikan berkualitas dan peluang ber
Veda Ega Pratama naik ke peringkat ketujuh klasemen Moto3 2026 setelah finis kedua di GP Malaysia dengan koleksi 131 poin.
DPRD Bantul meminta BPBD dan masyarakat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi angin kencang, pohon tumbang, dan genangan saat pancaroba.
Menteri LH Jumhur Hidayat mendorong pemulihan tata air gambut melalui water intake dan sekat kanal untuk mencegah karhutla di Sumatera Selatan.
Polisi akan memeriksa kejiwaan pria yang diduga menganiaya ayah kandungnya hingga meninggal dunia di Boyolali.
Pemkab Gunungkidul memecat Lurah Bohol Margana setelah kasus korupsi anggaran kalurahan 2022-2024 berkekuatan hukum tetap.