Raffi Ahmad Minta Maaf Usai Hadiri Acara Sumpah Pemuda Polda Metro
Raffi Ahmad meminta maaf setelah menghadiri acara Sumpah Pemuda Polda Metro Jaya yang menuai sorotan dan menjadi perbincangan warganet.
Prabowo Subianto-Joko Widodo. Olah foto (nuc)./JIBI-doc
Harianjogja.com, SEMARANG- Politik di Indonesia dinilai terpolarisasi dengan sitilah cebong dan kampret.
Istilah "kecebong" dan "kampret" menjadi wajah buruk polarisasi politik Indonesia yang selama ini sudah menggurita di ranah akar rumput, kata dosen Komunikasi Politik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang Suryanto, Kamis (27/12/2018) petang.
Menurut Suryanto, jurang pemisah tersebut bermula sejak Pemilihan Umum Presiden 2014, masyarakat terbelah menjadi dua kubu yang sampai sekarang berlanjut dan makin dalam jurang pemisah antarkubu tersebut.
"Polarisasi yang selama ini kita takutkan, kemarin sudah menelan korban. Bahkan, jatuhnya korban karena saling membunuh hanya perbedaan pilihan politik," katanya di Semarang ketika merespons kejadian di Madura, beberapa waktu lalu.
Peristiwa Semarang itu berawal saling cekcok di media sosial yang berimbas pada sakit hati salah satu pihak.
Di lain pihak, Suryanto menyayangkan konten kampanye Pilpres 2019 yang tidak sehat juga terjadi di media arus utama. Para kandidat dan para elite pendukungnya bahkan saling serang, fitnah, dan mencari kelemahan satu sama lain.
Menurut dia, pada saat kampanye, seharusnya tidak saling mencela, menjelekkan, mencemooh, dan menjatuhkan.
"Terkadang kita sering lupa saat kampanye bahwa kita ini adalah satu, yaitu sebagai bangsa Indonesia dan bersaudara, ini yang harus kita rawat dan kita pelihara," ujarnya.
Namun, pada kenyataanya di berbagai media televisi yang menyajikan debat publik juga tidak kalah membosankan, bahkan memuakkan karena perdebatan nirsubstansi di ruang publik yang makin sesak dengan narasi dan pembicaraan dari permasalahan politik.
Masyarakat makin ke sini, katanya lagi, dihadapkan dengan berbagai realitas publik yang membicarakan politik yang tidak tentu.
Pasalnya, dalam hal esensi, senantiasa diperdebatkan hanya persoalan fisik, fitnah, kebohongan (hoaks), kebencian, caci maki, dan adu domba.
Kalau melihat dari segi pendidikan politik, kata Suryanto, politik itu untuk kemuliaan dalam hal menciptakan kesejahteraan, keamanan, ketertiban, dan kelayakan dalam bernegara.
Namun, yang diperlihatkan kepada publik sekarang ini adalah perseteruan antarkubu pilihan masing-masing.
Suryanto lantas menyebutkan sejumlah istilah yang mengemukan pada masa kampanye Pemilu 2019, seperti "politikus sontoloyo", "gendruwo", "wajah Boyolali", "Indonesia akan bubar", dan "Indonesia akan punah" yang diciptakan para politikus untuk mencari simpati dan menyerang pihak lawan demi kekuasaan.
Ia mengutarakan bahwa politikus seyogianya tidak mengedepankan narasi kebencian yang senantiasa menampilkan diri ketika perbedaan pandangan menjadi sebuah landasan untuk saling membenci dan menjatuhkan antarsesama anak bangsa.
"Yang patut dipertanyakan kemudian adalah ke mana selama ini politik kebangsaan yang dicontohkan oleh para pendiri bangsa ini?" katanya.
Menurut dia, beda pilihan semestinya telah diterima sebagai sebuah keniscayaan.
Masalahnya, setiap orang akan selalu punya cara pandang dan penilaian yang tidak sama dengan orang lain, termasuk dengan teman atau dengan ayah dan ibu serta anggota keluarga lainnya.
Ia lantas menekankan bahwa seharusnya beda pilihan tidak boleh merusak iklim kondusif yang sejatinya selalu menjadi kebutuhan semua orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Raffi Ahmad meminta maaf setelah menghadiri acara Sumpah Pemuda Polda Metro Jaya yang menuai sorotan dan menjadi perbincangan warganet.
Penerimaan PBB-P2 Bantul mencapai sekitar Rp58 miliar, melampaui target Rp57 miliar. Pemkab tetap mendorong kepatuhan wajib pajak.
Polri akan mengecek kabar dua petinggi kepolisian diperiksa terkait dugaan keterlibatan dalam kerusuhan di Jogja.
FK-KMK UGM menggelar Summer Course 2026 yang diikuti 56 mahasiswa dari empat negara untuk memperkuat pemahaman kesehatan mental melalui pembelajaran interprofes
Pemerintah menyiapkan diskon Nataru untuk mengompensasi tekanan inflasi pangan dan transportasi, termasuk tarif angkutan udara.
Bank Jateng meraih empat penghargaan Indonesia CSR Brilliance Award 2026, tiga di antaranya berpredikat Platinum, atas komitmen dalam keberlanjutan lingkungan,