BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi 6 Meter Selatan Bali Mulai 5 Agustus
BMKG memprakirakan gelombang laut di perairan selatan Bali mencapai 6 meter pada 5-8 Agustus 2026 akibat aktifnya monsun Australia.
Bendera Brazil/magnific
Harianjogja.com, WASHINGTON—Hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Brasil kembali memanas setelah pemerintah AS mencabut visa Duta Besar Brasil untuk Washington, Maria Luiza Ribeiro Viotti, pada Selasa (4/8/2026). Langkah tersebut diambil sebagai respons atas penundaan persetujuan Brasil terhadap calon duta besar AS untuk Brasília serta penolakan visa bagi dua pejabat senior Departemen Luar Negeri (Deplu) AS.
Menurut seorang pejabat senior Deplu AS yang dikutip Reuters, pencabutan visa tersebut merupakan balasan atas belum disetujuinya pencalonan Daniel Perez, calon duta besar Amerika Serikat untuk Brasil, serta penolakan visa terhadap dua pejabat senior yang diajukan pemerintahan Presiden Donald Trump sebulan sebelumnya.
Bukan Pengusiran Diplomat
Pejabat senior Deplu AS menegaskan pencabutan visa terhadap Maria Luiza Ribeiro Viotti tidak sama dengan pengusiran diplomat atau penetapan sebagai persona non grata.
“Tindakan yang diambil adalah pencabutan atau pembatalan visa seorang diplomat senior di sini. Itu tidak sama dengan mengusir orang tersebut dari negara,” ujar pejabat tersebut.
Ia menyebut visa Viotti akan segera dipulihkan apabila pemerintah Brasil memberikan persetujuan terhadap Daniel Perez.
“Kami terus berkomunikasi dengan pemerintah Brasil selama berminggu-minggu dan telah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk melakukan langkah yang tepat, namun mereka terus menunda dan mengaburkan masalah ini.”
Washington menilai proses persetujuan terhadap Daniel Perez, legislator asal Florida yang juga sekutu dekat Menteri Luar Negeri Marco Rubio, telah berlangsung terlalu lama sejak dinominasikan Presiden Donald Trump pada 1 Juni 2026.
Selain itu, AS juga menyoroti penolakan visa terhadap Riley Barnes, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Ketenagakerjaan, serta wakilnya Samuel Samson pada Juli lalu.
Brasil Sebut Alasan AS Tidak Benar
Pemerintah Brasil langsung menolak alasan yang disampaikan Washington.
Dalam pernyataan resmi, Sekretariat Komunikasi Kepresidenan Brasil menyebut alasan pemerintah AS sebagai sesuatu yang "palsu" dan menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari eskalasi hubungan bilateral.
“bukan kejadian terisolasi, melainkan bagian dari eskalasi yang disengaja atas tindakan-tindakan yang bermotif ideologis, yang tidak sejalan dengan kemitraan bilateral yang selalu dilandasi saling menghormati.”
Brasil juga mengkritik langkah Washington yang telah mengumumkan nama Daniel Perez kepada publik sebelum memperoleh persetujuan resmi dari pemerintah Brasil.
“Nama calon duta besar seharusnya baru diumumkan kepada publik setelah persetujuan diberikan,” tulis pernyataan tersebut.
Pemerintahan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menegaskan permintaan persetujuan terhadap calon duta besar AS masih dalam proses analisis dan tidak terdapat batas waktu penyelesaian sebagaimana diatur dalam Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik.
Penolakan visa terhadap Riley Barnes dan Samuel Samson terjadi ketika pemerintah Brasil menaruh perhatian terhadap agenda kunjungan kedua pejabat tersebut.
Keduanya dijadwalkan membahas isu kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, serta integritas pemilu bersama otoritas Brasil dan perwakilan masyarakat sipil.
Menurut sumber pemerintah Brasil yang dikutip Reuters, agenda tersebut memunculkan kekhawatiran karena dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk mencampuri dinamika politik domestik menjelang pemilihan presiden Brasil pada 4 Oktober 2026.
Perselisihan diplomatik ini juga berlangsung di tengah memburuknya hubungan antara pemerintahan Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden AS Donald Trump dalam beberapa bulan terakhir.
Lula, yang kembali maju untuk masa jabatan keempat non-berurutan, dijadwalkan menghadapi Senator Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, dalam pemilihan presiden Brasil.
Keluarga Bolsonaro dikenal memiliki kedekatan politik dengan Donald Trump. Sementara itu, Jair Bolsonaro saat ini menjalani tahanan rumah terkait kasus dugaan upaya kudeta, sedangkan Flávio Bolsonaro menjadi salah satu figur utama oposisi sayap kanan.
Pemerintah Brasil memandang setiap langkah Washington yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu sebagai isu yang sensitif. Brasília menilai kedekatan politik Trump dengan kubu Bolsonaro membuat agenda kunjungan pejabat AS terkait integritas pemilu berpotensi menjadi instrumen pengaruh asing.
Sebaliknya, pemerintahan Trump menuduh pemerintahan Lula melakukan penyensoran terhadap kelompok konservatif dan memanfaatkan proses peradilan untuk melemahkan lawan politik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BMKG memprakirakan gelombang laut di perairan selatan Bali mencapai 6 meter pada 5-8 Agustus 2026 akibat aktifnya monsun Australia.
Pemkab Boyolali menemukan ratusan naskah kuno koleksi Cipto Raharjo. Sebagian telah didigitalisasi untuk pelestarian.
Fadli Zon menilai setiap Presiden RI memiliki gaya pidato berbeda. Menurutnya, gaya komunikasi Prabowo tetap konsisten dan konseptual.
BPS mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen pada Maret 2026.
ALVA memperluas pasar di DIY dan Jateng dengan skema sewa baterai motor listrik mulai Rp125.000 per bulan.
UGM mewajibkan mahasiswa baru mengambil 2 SKS Literasi Kesehatan yang memuat literasi finansial untuk mencegah pinjol dan judol.