Macan Kumbang Masuk Permukiman di Batang, BKSDA Tambah Kamera Trap
Macan kumbang turun ke permukiman Batang. BKSDA Jateng mempertimbangkan penambahan kamera trap dan pemasangan rambu-rambu.
Pelajar SMK Binatama menunjukkan produk keperawatan hasil karyanya dalam Pameran Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK 2018, Senin (7/8/2018)./Harian Jogja-Sunartono
Harianjogja.com, JAKARTA--Masih sulitnya iklim industri pengolahan dan peliknya permasalahan struktural dalam pembinaan vokasional membuat lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) sulit terserap di dunia kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2018, jumlah tenaga kerja lulusan SMK mencapai 14,54 juta, dengan penyerapan 91,08%. Angka itu masih di bawah serapan tenaga kerja lulusan SD dan tidak lulus SD yang masing-masing 97,09% dan 97,46%.
Direktur Eksekutif Institute for Development Economics dan Finance Enny Sri Hartati menjelaskan penyebab utama minimnya penyerapan tenaga kerja lulusan SMK adalah lemahnya pertumbuhan poduk domestik bruto (PDB) sektor industri pengolahan.
Pada kuartal II/2018, industri pengolahan tumbuh 3,97% atau lebih lambat dari sektor perdagangan yang naik 5,24% secara year on year.
“Jadi memang permasalahan utama dari penyerapan tenaga kerja lulusan SMK adalah sektornya yang memang masih belum menggeliat,” katanya, Rabu (31/10/2018).
Enny menambahkan rendahnya serapan tenaga kerja lulusan SMK juga dipicu oleh kurangnya perencanaan pemerintah dalam merancang kurikulum pendidikan vokasi yang dibutuhkan pelaku usaha.
Menurut Enny, pengelola SMK kurang aktif dalam mempromosikan sekolah dan tidak menjalankan tugas asli dari SMK, yaitu menciptakan tenaga kerja siap pakai dengan memperbanyak mata pelajaran praktik, minimal 60% dari total jam pelajaran siswanya.
Pengamat pendidikan Mohamad Abduhzen berpendapat SMK selama ini memiliki stigma sebagai sekolah pilihan kedua bagi para siswa, sehingga membuat pengelola SMK kesulitan memperbaiki kualitas dan citra sekolahnya.
Selain itu, pemerintah terlalu memaksakan siswa SMK untuk belajar dengan waktu yang lama. Padahal, pendidikan vokasi seharusnya hanya membekali siswa dengan satu kemampuan teknis yang siap diaplikasikan di dunia kerja.
“Contohnya, kalau tukang las, tukang cukur, atau perawat lansia, buat saja pendidikannya. Tidak perlu lama-lama, satu tahun cukup tetapi siap pakai. Namun, harus ada lisensi internasional,” ujarnya.
Direktur Pengembanagan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bakhrun mengaku baru 30% dari rerata 1,5 juta lulusan SMK setiap tahun terserap pasar tenaga kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Macan kumbang turun ke permukiman Batang. BKSDA Jateng mempertimbangkan penambahan kamera trap dan pemasangan rambu-rambu.
Cek rute Trans Jogja aktif dan tarif terbaru 2026. Pembayaran bisa memakai QRIS, GoPay, kartu elektronik, hingga kartu pelajar.
Jadwal DAMRI Bandara YIA lengkap dengan rute ke Sleman, Kota Jogja, Gamping, Condongcatur, dan tarif Rp80.000.
Jadwal KA Bandara YIA Jogja hari ini lengkap reguler dan Xpress. Cek jam berangkat agar tak ketinggalan pesawat.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan berdasarkan data resmi KAI Access.
Jadwal KRL Solo-Jogja tersedia 12 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal lengkap tiap stasiun.