Surat Utang Krisis 1997-1998 Lunas, Ini Penjelasan Menkeu Suahasil
Surat utang untuk penanganan krisis 1997-1998 telah lunas pada Agustus 2026. Suahasil menyebut pembayarannya memakai surplus BI.
Gunung Anak Krakatau. /Ist- BNPB via Suara.com
Harianjogja.com, LAMPUNG- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda Provinsi Lampung dan sering meletus sebanyak 56 kali sejak, Rabu (11/7/2018).
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), melaporkan Gunung Anak Kraktau yang berada di Selat Sunda, mengalami letusan sebanyak 56 kali selama 24 jam sejak, Rabu (11/7/2018) pukul 00.00 WIB.
Dalam siaran pers yang diterima Antara, Kamis, PVMGB menjelaskan tinggi kolom debu dari letusan Gunung Anak Krakatau berkisar 200-1.000 meter di atas puncak kawah.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan amplitude letusan Gunung Anak Krakatau berkisar 25-53 mm, dengan durasi 20-100 detik.
"Letusan disertai lontaran debu volkanik, pasir dan suara dentuman. Secara visual pada malam hari teramati sinar api dan lava pijar. Hembusan 141 kejadian dengan durasi 20-172 detik," katanya.
Sebelumnya, kata dia, pada Selasa (10/7/2018), Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 99 kali dengan amplitudo 18-54 mm dan durasi 20-102 detik. Hembusan tercatat 197 kali dengan durasi 16-93 kali. "Letusan disertai dentuman sebanyak 10 kali yang menyebabkan kaca pos pengamatan bergetar," ujarnya.
Banyaknya letusan itu sebenarnya sudah terjadi sejak 18 Juni 2018, dimana Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan volkanik, akibat adanya pergeseran magma keluar permukaan sehingga menyebabkan getaran, katanya.
Meski terjadi letusan cukup banyak sejak 18 Juni 2018, namun status gunung tersebut masih "waspada" (level 2) atau tidak ada perubahan status gunung.
"Status waspada pada Gunung Anak Krakatau sudah diberlakukan sejak 26 Januari 2012, dan sampai sekarang belum berubah," ujarnya menjelaskan.
Ia menjelaskan, status waspada, artinnya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga letusan bisa terjadi kapan saja. Letusan Gunung Anak Krakatau, kata dia, merupakan hal yang biasa. Gunung ini masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Gunung yang bisa liat dari Pantai Carita Pandeglang ini, muncul ke permukaan laut pada 1927, dengan rata-rata tumbuh 4-6 meter per tahun.
Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. karena itu sangat kecil kemungkinan terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883. "Bahkan beberapa ahli menyatakan tidak mungkin (letusan besar) untuk saat ini, jadi tidak dikhawatirkan," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Surat utang untuk penanganan krisis 1997-1998 telah lunas pada Agustus 2026. Suahasil menyebut pembayarannya memakai surplus BI.
Sekitar 180 komunitas motorsport Jogja mengikuti Road to Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 melalui konvoi dan Watch Party AustrianGP.
Manchester City menang 5-3 atas Sunderland pada pekan kelima Liga Inggris 2026/27. Semenyo cetak dua gol, Brobbey hattrick.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Basarnas menggunakan ROV untuk memetakan bagian dalam KM Virgo Transport 8 sebelum penyelam melanjutkan pencarian 125 korban yang belum ditemukan.
Atletico Madrid menang 2-1 atas Real Madrid dalam Derby Madrileno. Kartu merah Dean Huijsen mengubah jalannya laga dan posisi klasemen La Liga.