Kepala BGN Jawab Desakan Hentikan MBG, Fokus Benahi Tata Kelola
Kepala BGN Sudaryono menegaskan Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat dihentikan oleh BGN karena merupakan program Presiden Prabowo Subianto.
Orang tua murid melihat pengumuman Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2014 di SMA Negeri 1 Solo, Jawa Tengah, Kamis (3/7/2014). Peserta yang telah dinyatakan diterima di suatu sekolah dan telah melakukan pendaftaran ulang, akan menjalani hari pertama masuk sekolah pada 14 Juli 2014. (Septian Ade Mahendra/JIBI/Solopos)
Harianjogja.com, JOGJA – Meski telah diimbau untuk memerhatikan daftar nilai ujian sekolah terendah dan tertinggi, tak sedikit wali murid yang mendaftarkan siswa ke sekolah tertentu, tanpa mempertimbangkan nilai yang dimiliki berada di bawah standar nilai terendah. Memasuki hari terakhir Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP dengan Sistem Real Time Online (RTO), Sabtu (5/7/2014), banyak orangtua yang harus mencabut nilai dari sekolah favorit. Sekolah menilai beberapa wali murid terlalu percaya diri dengan nilai anaknya.
Hal tersebut terlihat di SMPN 15 dan SMPN 5 Jogja. Akibatnya, keputusan mengundurkan diri dari sekolah pilihan, masih tinggi. Di SMPN 15, hingga pukul 12.30 WIB, terakhir verifikasi total ada 108 siswa yang mengundurkan diri dari PPDB sekolah tersebut.
"Saya prediksi, yang paling rendah itu 25,00. Tapi ternyata, ada yang nilainya 20,00 atau sekitar 21,00 mendaftar ke sini [SMP N 15]. Ya mau tidak mau, karena sudah sistem, mereka tidak dapat diterima," ujar Subandiyo, Kepala SMP N 15, Sabtu.
Seharusnya, kata dia, wali murid bisa lebih teliti lagi untuk dapat melihat prediksi nilai di sekolah yang dituju. Jangan jumawa dengan perolehan nilai anak.
"Ada yang nilainya 24 koma sekian, di sekolah dasar asal, nilai dia yang tertinggi. Lalu mendaftar kemari. Merasa sudah bagus, ternyata di sini, nilai terendah justru 25,00. Kan tergeser juga," lanjut Subandiyo.
Keadaan tidak jauh berbeda di SMPN 5 Jogja. Dengan nilai terendah 28,15, masih ada wali murid yang mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut, dengan membawa nilai di bawah 28,15.
"Itu namanya idealis. Ya otomatis sudah tergeser dan harus mengambil pilihan lain. Tapi kejadian seperti ini tidak banyak. Malah sempat saya temui wali murid yang mendaftarkan anaknya dengan sangat idealis, yakni ke SMPN 5, SMPN 8, dan SMPN 1. Makanya tadi saya juga sempat menyarankan resep aman, minimal memprediksi bahwa nilai terendah sekolah tersebut pada 2013, naik satu angka pada 2014," ungkap Edy Riyanto, Waka Hubungan Masyarakat SMPN 5, ditemui terpisah.
Di SMPN 5 sendiri, kuota bagi calon peserta didik yang berasal dari luar kota, sebanyak 63 siswa, telah terpenuhi dengan nilai terendah 29,75.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepala BGN Sudaryono menegaskan Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat dihentikan oleh BGN karena merupakan program Presiden Prabowo Subianto.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya hari ini berdasarkan data resmi KAI Access.
BPBD DIY memprediksi puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026. Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah paling kritis akibat krisis air bersih.
Dinkes Kota Jogja menargetkan 3.146 anak menerima vaksin HPV pada BIAS 2026. Tahun ini, imunisasi juga menyasar anak laki-laki kelas 5 SD.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.