Peta NASA Tampilkan Sebaran Karbon Monoksida di Indonesia, Ini Penjelasan BMKG

Newswire
Newswire Rabu, 21 Oktober 2026 16:57 WIB
Peta NASA Tampilkan Sebaran Karbon Monoksida di Indonesia, Ini Penjelasan BMKG

Citra dari NASA\'s Eyes on the Earth dan menampilkan sebaran gas karbon monoksida berwarna merah di wilayah Indonesia./NASA

Harianjogja.com, JOGJA—Peta satelit NASA menampilkan sebaran karbon monoksida (CO) dengan konsentrasi relatif tinggi di atmosfer Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Visualisasi tersebut kembali menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta potensi dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Dalam pantauan pada 13–15 Oktober 2026, warna merah hingga jingga terlihat di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, warna mencolok pada peta tidak serta-merta menunjukkan bahwa udara yang dihirup masyarakat berada dalam kondisi berbahaya.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menjelaskan peta NASA Eyes on the Earth menampilkan konsentrasi karbon monoksida pada lapisan atmosfer sekitar lima hingga enam kilometer di atas permukaan tanah. Dengan demikian, data tersebut tidak secara langsung menggambarkan kadar polutan yang berada di dekat permukaan dan dihirup masyarakat sehari-hari.

Karbon monoksida merupakan gas berbahaya yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk melalui pembakaran tidak sempurna dan dapat mengganggu kemampuan tubuh memperoleh oksigen.

Karhutla menjadi salah satu sumber emisi yang perlu diperhatikan, terutama ketika kebakaran menjalar ke kawasan gambut. Pembakaran di bawah permukaan tanah dapat terus berlangsung meskipun kobaran api besar tidak terlihat secara langsung.

Namun, emisi karbon monoksida tidak hanya berasal dari kebakaran hutan. Kendaraan bermotor, pembangkit listrik, kegiatan industri, dan pembakaran sampah juga dapat menghasilkan gas tersebut.

Warna Merah pada Peta NASA Bukan Penanda Bahaya Langsung
Peta NASA Eyes on the Earth menggunakan data Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua NASA untuk memperlihatkan sebaran karbon monoksida di Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama 13–15 Oktober 2026.

Dalam visualisasi itu, warna merah hingga jingga menunjukkan konsentrasi relatif lebih tinggi pada lapisan atmosfer yang diamati dibandingkan wilayah lain. Akan tetapi, pembacaan peta perlu mempertimbangkan ketinggian atmosfer yang menjadi objek pengamatan.

"Citra dari NASA's Eyes on the Earth dan menampilkan sebaran gas karbon monoksida pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar. Atau kira-kira 5 sampai 6 kilometer di atas permukaan," kata Marjuki dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).

Dia menjelaskan warna pada peta menunjukkan perbedaan jumlah karbon monoksida di lapisan atmosfer tersebut. Informasi itu tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan tingkat pencemaran udara di permukaan tanah.

"Cara membacanya, warna merah hingga jingga menunjukkan jumlah CO di lapisan tersebut yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain. Warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang kita hirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan," ucapnya.

Menurut Marjuki, karbon monoksida dapat bertahan di atmosfer sekitar satu hingga dua bulan dalam kondisi tertentu. Selama periode tersebut, pergerakan angin memungkinkan gas menyebar hingga ribuan kilometer dari lokasi awal emisinya.

Meski dapat menyebar jauh, luasnya sebaran tidak selalu berarti konsentrasi karbon monoksida di setiap wilayah juga tinggi. Kadarnya dapat berbeda-beda selama gas bergerak mengikuti dinamika atmosfer.

Karena itu, data satelit perlu dilengkapi hasil pengukuran kualitas udara di dekat permukaan tanah untuk memberikan gambaran lebih relevan mengenai kondisi yang dialami masyarakat.

Pakar UGM Ingatkan Pentingnya Pengukuran di Permukaan Tanah
Pakar lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Chandra Wahyu Purnomo, juga mengingatkan bahwa citra satelit tidak otomatis mencerminkan kualitas udara yang dihirup manusia.

Menurutnya, pengamatan dari satelit memberikan informasi mengenai kondisi atmosfer dari ketinggian tertentu. Sementara itu, penilaian terhadap paparan polutan sehari-hari membutuhkan pengukuran pada lapisan udara yang bersentuhan langsung dengan manusia.

“Ya memang citra satelit itu adalah fakta data yang tidak terbantahkan, hanya saja kan itu dari satelit, artinya kan itu gambar dari atas. Belum tentu itu adalah lapisan atmosfer yang memang kita hirup setiap saat ini," ujar Chandra dalam wawancara bersama RRI Pro3, Sabtu (17/10/2026).

Dia menjelaskan atmosfer memiliki lapisan dengan karakteristik berbeda. Oleh karena itu, hasil pengamatan satelit tidak dapat begitu saja disamakan dengan hasil pemantauan kualitas udara di permukaan.

“Jadi harus diukur di permukaan tanah ataupun di lapisan yang paling bawah, yang langsung kita hirup sehari-hari begitu. Jadi data NASA itu adalah (atmosfer) lapisan atas, yang memang kita tidak berkontak dengannya, karena kan dari satelit ya citranya begitu,” katanya.

Penjelasan tersebut menegaskan pentingnya membedakan informasi mengenai sebaran polutan di atmosfer atas dengan kondisi udara di lingkungan tempat masyarakat beraktivitas.

BMKG Pantau Lapisan Asap di Sejumlah Wilayah
Selain memantau sebaran karbon monoksida, BMKG menggunakan satelit Himawari-9 untuk mengamati keberadaan lapisan asap di sejumlah daerah.

Hasil pengamatan menunjukkan lapisan asap terdeteksi di atas Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada ketinggian sekitar dua hingga tiga kilometer.

Marjuki menjelaskan lapisan asap tersebut terbawa oleh pergerakan angin di atmosfer bagian atas. Keberadaannya pada ketinggian tersebut belum tentu menyebabkan peningkatan pencemaran udara di dekat permukaan tanah.

Meski demikian, lapisan asap yang melintas dapat membuat langit tampak lebih keruh atau kelabu. Perubahan tampilan langit itu belum cukup untuk memastikan tingkat pencemaran udara di suatu wilayah.

Untuk mengetahui kondisi kualitas udara yang lebih aktual, Marjuki menyarankan masyarakat memanfaatkan data pengukuran PM2.5 dari BMKG. Masyarakat juga dapat merujuk Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang disediakan Kementerian Lingkungan Hidup.

Pemantauan tersebut penting karena asap kebakaran dapat mengandung partikel halus dan senyawa berbahaya lainnya. Dalam paparan yang disampaikan, Kementerian Kesehatan juga disebut mencatat ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut di tujuh provinsi terdampak karhutla.

Dengan demikian, risiko kesehatan akibat kebakaran tidak cukup dinilai hanya berdasarkan warna peta satelit atau perubahan warna langit. Informasi pengukuran kualitas udara, penanganan sumber pembakaran, dan upaya perlindungan kesehatan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak karhutla.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online