Sjamsul Kahar, Tokoh Pers Aceh dan Pendiri Serambi Indonesia Meninggal Dunia

Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari Kamis, 24 September 2026 11:27 WIB
Sjamsul Kahar, Tokoh Pers Aceh dan Pendiri Serambi Indonesia Meninggal Dunia

Sjamsul Kahar, tokoh pers Aceh dan pendiri Serambi Indonesia, meninggal dunia. Ia dikenal sebagai wartawan senior dan ayah Nezar Patria. /Antara.

Harianjogja.com, JAKARTA— Tokoh pers Aceh sekaligus pendiri Harian Serambi Indonesia, H. Sjamsul Kahar, meninggal dunia pada Kamis (24/9/2026) pukul 02.20 WIB di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Sjamsul Kahar merupakan ayahanda Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. Kabar duka tersebut disampaikan melalui laman resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Sjamsul Kahar dikenal sebagai wartawan senior yang puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk dunia jurnalistik dan perkembangan pers di Aceh.

Perjalanan Sjamsul Kahar di Serambi Indonesia

Sjamsul Kahar lahir di Sigli pada 9 Oktober 1945. Namanya tidak dapat dipisahkan dari sejarah Harian Serambi Indonesia.

Bersama M. Nourhalidyn, Sjamsul Kahar mengembangkan Mimbar Swadaya menjadi Harian Serambi Indonesia yang terbit perdana pada 9 Februari 1989.

Sebelum dipercaya menjadi pemimpin redaksi Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar dikenal sebagai wartawan Kompas yang bertugas di Aceh.

Dari ruang redaksi, ia turut membangun Serambi Indonesia hingga menjadi salah satu media yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Di bawah kiprahnya, Serambi Indonesia menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai berbagai persoalan daerah, mulai dari sosial, politik, ekonomi, budaya hingga peristiwa kemanusiaan.

Perjalanan Sjamsul Kahar dalam dunia jurnalistik juga berlangsung di tengah situasi konflik Aceh. Pada 1999, rumahnya diserang bom molotov.

Ia juga menerima ancaman kematian terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia.

Serambi Indonesia Bangkit Setelah Tsunami Aceh

Salah satu bagian penting dalam perjalanan Sjamsul Kahar terjadi ketika tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004.

Bencana tersebut menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia. Puluhan pekerja media menjadi korban maupun hilang sehingga surat kabar tersebut sempat berhenti terbit.

Sjamsul Kahar bersama rekan-rekannya kemudian memilih menghidupkan kembali Serambi Indonesia.

Enam hari setelah tsunami, tepatnya pada 1 Januari 2005, koran tersebut kembali terbit dengan sumber daya terbatas dan menggunakan mesin cetak di Lhokseumawe.

Terbitnya kembali Serambi Indonesia menjadi penting karena masyarakat Aceh ketika itu membutuhkan informasi di tengah kondisi pascabencana.

Informasi mengenai anggota keluarga, kondisi wilayah, hingga proses pemulihan menjadi kebutuhan masyarakat yang terdampak tsunami.

Kembalinya Serambi Indonesia juga menunjukkan peran pers dalam situasi krisis. Pers tidak hanya berfungsi mencatat peristiwa, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memahami kondisi yang terjadi dan memperoleh informasi selama proses pemulihan.

Tiga Periode Memimpin PWI Aceh

Selain membangun Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar juga meninggalkan jejak dalam organisasi profesi wartawan.

Ia tercatat memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode. Ia menjabat Ketua PWI Aceh pada periode 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1999.

Pada masa kepemimpinannya, kelembagaan PWI Aceh berkembang, termasuk pembangunan gedung PWI Aceh di Jalan T. Angkasah, Banda Aceh.

Perhatian Sjamsul Kahar terhadap sejarah pers dan profesi wartawan juga tetap terlihat hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya.

Pada 2023, saat PWI Aceh menampilkan sejarah perjalanan organisasi dalam Pekan Kebudayaan Aceh, ia mengingatkan pentingnya sejarah pers diketahui masyarakat dan generasi muda.

Kepergian Sjamsul Kahar meninggalkan catatan panjang dalam perjalanan pers Aceh. Ia merupakan bagian dari generasi yang membangun fondasi jurnalistik di daerah tersebut, termasuk melalui Serambi Indonesia yang tetap berupaya hadir ketika Aceh menghadapi konflik dan bencana tsunami.

Bagi keluarga, Sjamsul Kahar merupakan ayahanda Nezar Patria. Sementara bagi komunitas pers, ia dikenang sebagai salah satu tokoh yang turut membangun perjalanan jurnalistik Aceh.

“Selamat jalan, Abu. Pejuang pers ka neuwoe bak Rahmatullah. Geutanyoe kaleuh meureuluih sangee, pers Aceh kaleuh geutinggai le sago peukateuen nyang raya.”

(Selamat jalan, Ayah. Pejuang pers telah kembali ke rahmatullah. Kita telah kehilangan pelindung/panutan, pers Aceh telah ditinggalkan oleh pilar pergerakan yang besar).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online