Martha Tilaar, dari Salon Garasi hingga Membangun Bisnis Kosmetik

Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa Rabu, 14 Oktober 2026 17:02 WIB
Martha Tilaar, dari Salon Garasi hingga Membangun Bisnis Kosmetik

Martha Tilaar merintis bisnis kecantikan dari garasi pada 1970 hingga membangun grup usaha kosmetik yang membawa kekayaan alam dan budaya Indonesia. /Instagram.

Harianjogja.com, JAKARTA—Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group, meninggal dunia pada Rabu (14/10/2026). Pengusaha yang merintis usaha kecantikan dari sebuah garasi di Menteng, Jakarta Pusat, itu meninggalkan jejak panjang dalam industri kosmetik Indonesia melalui pengembangan produk yang mengangkat kekayaan alam dan budaya lokal.

Kabar meninggalnya Martha disampaikan keluarga besar Martha Tilaar Group melalui pernyataan resmi di akun Instagram perusahaan. Martha dijadwalkan dimakamkan pada Jumat (16/10/2026) di pemakaman keluarga di Karawang.

"Dengan duka cita yang mendalam, keluarga besar Martha Tilaar Group menyampaikan kabar berpulangnya DR. [H.C] Martha Tilaar, founder Martha Tilaar Group, pada hari ini, Rabu, 14 Oktober 2026," tulis Martha Tilaar Group dalam pernyataan tersebut, Rabu (14/10/2026).

Manajemen mengenang Martha sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan industri kecantikan di Indonesia. Selain membangun bisnis, ia juga dinilai memberikan kontribusi terhadap pelestarian alam dan budaya, dunia pendidikan, serta pemberdayaan perempuan.

“Dedikasi, kebijaksanaan, dan kontribusinya terhadap pelestarian alam dan budaya, dunia pendidikan, serta pemberdayaan perempuan akan selamanya menjadi inspirasi dan suri teladan yang terus kami ikuti jejaknya,” tulis manajemen.

Perjalanan Martha menjadi salah satu gambaran perkembangan usaha kecantikan lokal, dari layanan salon berskala kecil hingga kelompok usaha yang memiliki berbagai merek kosmetik dan perawatan tubuh. Salah satu tonggak pentingnya adalah pengembangan PT Martina Berto Tbk. (MBTO), yang kemudian tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Berawal dari salon di garasi pada 1970

Perjalanan bisnis Martha dimulai pada 1970. Saat itu, ia membuka salon kecantikan berukuran 4 x 6 meter di garasi rumah orang tuanya, Yakob Handana, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Dua tahun kemudian, Martha membuka salon kedua bernama Martha Griya Salon. Usaha tersebut menjadi salah satu pijakan awal untuk mengembangkan layanan kecantikan yang memadukan perawatan tradisional dengan pemanfaatan tanaman herbal.

Dari layanan salon, Martha kemudian memperluas usahanya ke produk kosmetik dan perawatan tubuh. Pendekatan yang mengangkat kekayaan alam serta tradisi Indonesia menjadi salah satu ciri dalam perjalanan bisnisnya.

Pada 1977, Martha mendirikan PT Martina Berto bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady. Perusahaan itu kemudian mengembangkan Sariayu sebagai salah satu merek utama dalam portofolio bisnis Martha Tilaar.

Pengembangan usaha berlanjut ke sektor produksi. Pada 1981, PT Martina Berto mulai mengoperasikan pabrik sendiri di kawasan industri Pulogadung, Jakarta. Dua tahun berselang, perusahaan mendirikan pabrik kedua untuk mendukung kegiatan produksinya.

Pada 1983, PT SAI Indonesia juga didirikan untuk mendukung distribusi produk kosmetik perseroan.

Mengembangkan beragam merek kecantikan

Ekspansi produk berlanjut pada akhir dekade 1980-an hingga awal 1990-an. Sejumlah merek yang dikembangkan dalam periode tersebut antara lain Cempaka, Jamu Martina, Pesona, Biokos Martha Tilaar, Caring Colours Martha Tilaar, dan Belia Martha Tilaar.

Memasuki periode 2001–2009, perusahaan memperluas portofolio ke segmen kosmetik profesional dan perawatan tubuh. Merek yang dikembangkan antara lain Professional Artist Cosmetics (PAC), Dewi Sri Spa, dan Jamu Garden.

Perubahan kepemilikan juga menjadi bagian dari perjalanan perusahaan. Pada 1999, Martha Tilaar Group membeli saham PT Martina Berto yang sebelumnya sebagian dimiliki Kalbe Group. Langkah tersebut membuat perusahaan sepenuhnya berada di bawah manajemen Martha Tilaar Group.

Perjalanan bisnis itu kemudian memasuki tahap baru ketika PT Martina Berto resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2011 dengan nama PT Martina Berto Tbk. (MBTO).

Di luar aktivitas bisnis, Martha juga mendapat pengakuan atas kontribusinya dalam pelestarian budaya Indonesia. Pada 2016, pemerintah menganugerahinya Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma sebagai salah satu bentuk penghargaan atas kiprahnya dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Indonesia.

Warisan bisnis di tengah tantangan industri kecantikan

Kepergian Martha terjadi ketika industri kecantikan nasional terus berkembang di tengah persaingan pasar. Martha Tilaar Group, termasuk PT Martina Berto Tbk., masih menghadapi tantangan sekaligus peluang pertumbuhan di sektor kosmetik dan perawatan tubuh.

Pada 2026, MBTO menargetkan penjualan bersih sekitar Rp501 miliar, meningkat lebih dari 24% dibandingkan realisasi 2025. Perseroan juga membidik laba usaha Rp47 miliar, EBITDA Rp61 miliar, dan laba setelah pajak Rp24 miliar.

Target tersebut sejalan dengan perbaikan kinerja perusahaan pada semester I/2026. Penjualan bersih MBTO tumbuh 36,55% secara tahunan menjadi Rp254 miliar, dibandingkan Rp186 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja operasional perusahaan juga berbalik positif. Setelah mencatat rugi usaha Rp6,5 miliar pada semester I/2025, MBTO membukukan laba usaha Rp25 miliar pada semester I/2026.

Sementara itu, laba setelah pajak berubah dari rugi Rp16 miliar menjadi laba Rp13 miliar.

Untuk mempertahankan pertumbuhan, MBTO memperketat efisiensi biaya, meningkatkan efektivitas operasional, dan memperkuat penetrasi pasar pada segmen konsumen kelas menengah atas dan atas. Pengembangan produk diarahkan pada kategori tata rias, perawatan kulit, perawatan rambut, serta perawatan tubuh.

Perseroan juga melihat peluang dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kecantikan dan kesehatan, perkembangan saluran distribusi, serta pasar di luar Pulau Jawa.

Perjalanan Martha Tilaar dari salon kecil di garasi hingga membangun kelompok usaha kosmetik menunjukkan bagaimana bisnis lokal dapat berkembang dengan mengangkat kekayaan alam dan budaya Indonesia. Warisan tersebut kini berlanjut melalui perusahaan dan merek yang dikembangkannya, di tengah perubahan serta persaingan industri kecantikan nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online