Ratusan Siswa SMKN 1 Boyolangu Keracunan Usai Menyantap Menu MBG
Ratusan siswa SMKN 1 Boyolangu Tulungagung mengeluh diare usai santap menu MBG. Dinkes amankan sampel makanan untuk uji laboratorium.
Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific
Harianjogja.com, NGAWI— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan hutan lindung Gunung Lawu masih menyisakan kepulan asap. BPBD Kabupaten Ngawi menyebut asap terpantau di kawasan perbatasan petak 39 RPH Manyol dan petak 41 RPH Campurejo, BKPH Lawu Utara, KPH Lawu Ds.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ngawi, Prila Yuda Putra, mengatakan kepulan asap yang masih terlihat hingga siang ini berasal dari sisa api yang sebelumnya belum benar-benar padam.
Meski demikian, kondisi vegetasi di lokasi disebut membantu menghambat perambatan api. Tanaman eucalyptus atau kayu putih serta ranting dan serasah yang masih hijau membuat pergerakan api cenderung berhenti di kawasan tersebut.
"Saat ini masih ada asap bekas kepulan api di perbatasan petak 39 dan 41. Kebetulan di situ tanamannya eucalyptus [kayu putih], serta ranting dan serasahnya masih hijau, jadi pergerakannya biasanya berhenti di situ saja," ujarnya, Jumat (18/9/2026).
BPBD Ajukan Bantuan Water Bombing
Untuk mempercepat penanganan karhutla, BPBD Ngawi sebelumnya telah mengajukan bantuan pemadaman melalui udara atau water bombing kepada BPBD Provinsi Jawa Timur.
Namun, hingga Jumat (18/9/2026), pengajuan bantuan tersebut masih dalam proses. BPBD Ngawi masih menunggu kepastian mengenai dukungan pemadaman dari udara tersebut.
"Terkait usulan water bombing ke provinsi, saat ini masih dalam proses. Sebab, armada unit pemadaman dari provinsi juga sedang dikerahkan untuk membantu penanganan di wilayah lain," jelas Prila.
Sambil menunggu bantuan udara, BPBD Ngawi bersama tim gabungan dan relawan terus melakukan penanganan dari darat.
Salah satu upaya yang menjadi fokus adalah pembuatan jalur ilaran atau sekat bakar. Jalur tersebut dibuat untuk memutus perambatan api sehingga kobaran tidak meluas dan menembus petak hutan lainnya.
20 Kilometer Ilaran Dibuat
Asisten Perhutani BKPH Lawu Utara, Nanang Sunarko, mengatakan petugas gabungan juga terus berupaya melokalisasi rambatan api.
Upaya tersebut dilakukan agar api tidak bergerak menuju kawasan hutan produksi maupun wilayah Jawa Tengah.
Hingga perkembangan terbaru, petugas telah membuat ilaran sepanjang lebih dari 20 kilometer dengan lebar antara 2-3 meter. Pembuatan ilaran tersebut masih akan terus diperpanjang untuk memutus rembetan api.
Sejumlah petugas bahkan memilih menginap di lokasi pembuatan ilaran agar pekerjaan dapat dilakukan lebih efektif dan cepat.
"Kalau sekarang sudah lebih dari 20 kilometer ya untuk ilaran, memang titik apinya sudah agak reda karena dari tadi malam anginnya mengarah ke atas, tapi lambat. Makanya ada petugas yang sudah menginap biar cepat geraknya. Kalau tidak, bisa-bisa merembet ke Jawa Tengah yang jaraknya sekitar 7 kilometer dari titik api paling atas," kata dia.
Kondisi angin turut menjadi perhatian dalam penanganan karhutla Gunung Lawu. Meski titik api disebut mulai agak reda, arah angin yang bergerak ke atas dengan kecepatan lambat membuat petugas tetap melakukan upaya pelokalisasian.
Pembuatan ilaran terus dilakukan sebagai langkah untuk mengendalikan perambatan api sekaligus mencegah kebakaran mencapai wilayah Jawa Tengah yang berjarak sekitar 7 kilometer dari titik api paling atas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Ratusan siswa SMKN 1 Boyolangu Tulungagung mengeluh diare usai santap menu MBG. Dinkes amankan sampel makanan untuk uji laboratorium.
Borobudur Indonesia Expo 2026 di Kota Magelang ditargetkan menarik 40.000 pengunjung dan transaksi Rp2 miliar untuk menggerakkan ekonomi daerah.
ASDP mengoperasikan 24 kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk untuk mengurai antrean kendaraan logistik dengan tetap mengutamakan keselamatan.
Sebanyak 114 sekolah di Bantul masuk program revitalisasi 2026. Pembangunan ditargetkan selesai maksimal pertengahan Desember.
TNGM mencatat 36 pendaki ilegal Merapi lahir 2006–2008. Sebanyak 13 orang lahir 2008, sementara jalur masih ditutup.
Komisi C DPRD Gunungkidul meminta proyek infrastruktur 2026 selesai tepat waktu dan berkualitas agar tak mengganggu penyerapan anggaran.