Antrean Truk Mengular, ASDP Optimalkan 24 Kapal di Penyeberangan Ketapang-Bali

Newswire
Newswire Jum'at, 18 September 2026 21:37 WIB
Antrean Truk Mengular, ASDP Optimalkan 24 Kapal di Penyeberangan Ketapang-Bali

Sebuah mobil masuk ke dalam kapal penyeberangan feri milik PT ASDP. ANTARA/HO-ASDP\r\n

Harianjogja.com, BANYUWANGI—PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengoptimalkan layanan penyeberangan di lintasan Ketapang, Banyuwangi-Gilimanuk, Bali, untuk mempercepat penguraian antrean kendaraan. Sebanyak 24 kapal saat ini dioperasikan untuk melayani kendaraan yang akan menyeberang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.

Antrean panjang kendaraan angkutan logistik kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Kepadatan tersebut terjadi pada kendaraan yang hendak menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk.

Sekretaris PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, mengatakan pola operasi kapal disesuaikan secara dinamis dengan kondisi di lapangan. Penyesuaian tersebut mempertimbangkan cuaca, gelombang, angin, arus, pasang surut, serta kesiapan kapal dan dermaga.

"Dalam setiap penyesuaian pola operasi, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dan krusial, semua keputusan operasional dilakukan melalui koordinasi dengan para regulator, KSOP dan BPTD," ujarnya dalam keterangannya yang diterima di Banyuwangi, Jumat (18/9/2026).

24 Kapal Dikerahkan di Empat Dermaga

Dari total 24 kapal yang dioperasikan di lintasan Ketapang-Gilimanuk, sebanyak 22 kapal merupakan kapal reguler. Sementara itu, dua kapal lainnya merupakan kapal perbantuan, yakni KMP Jatra I dan KMP Portlink VII.

Windy menjelaskan kapal-kapal tersebut ditempatkan di sejumlah dermaga. Sebanyak lima kapal beroperasi di Dermaga MB 1 dan lima kapal lainnya di Dermaga MB 3.

Kemudian, Dermaga MB 4 digunakan oleh tiga kapal reguler dan dua kapal perbantuan. Sementara itu, sembilan kapal ditempatkan di Dermaga LCM.

Optimalisasi armada tersebut dilakukan untuk meningkatkan jumlah kendaraan yang dapat diseberangkan. Langkah itu sekaligus ditujukan untuk mengurangi kepadatan kendaraan secara bertahap.

"Fokus kami saat ini adalah menjaga produktivitas kapal dan dermaga agar kendaraan yang telah antre dapat diseberangkan secara konsisten, dan seluruh armada yang siap operasi terus dioptimalkan dengan memperhatikan kondisi cuaca dan perairan, dan pastinya keselamatan tetap menjadi prioritas utama dan tidak dapat dikompromikan dalam setiap pengaturan operasional," ucap Windy.

Antrean Kendaraan Merupakan Akumulasi

Windy mengatakan kepadatan kendaraan angkutan logistik yang masih terlihat di sekitar akses menuju Pelabuhan Ketapang merupakan akumulasi kendaraan dari periode sebelumnya. Karena itu, proses penguraian antrean membutuhkan waktu.

Menurut dia, jumlah kapal bukan satu-satunya faktor yang menentukan produktivitas layanan penyeberangan. Kondisi cuaca dan perairan juga turut memengaruhi kelancaran operasi.

Selain itu, dinamika pasang surut, proses manuver dan sandar kapal, siklus bongkar muat, serta kesiapan dermaga menjadi faktor lain yang memengaruhi produktivitas penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk.

"Produktivitas penyeberangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan perairan, dinamika pasang surut, proses manuver dan sandar, siklus bongkar muat, serta kesiapan dermaga," kata Windy.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online