Rusia Buka Opsi Nuklir Terapung untuk Indonesia

Newswire
Newswire Kamis, 17 September 2026 23:47 WIB
Rusia Buka Opsi Nuklir Terapung untuk Indonesia

Ilustrasi Kilang minyak.ist

Harianjogja.com, JOGJA – Pengembangan energi nuklir Indonesia memasuki pembahasan baru setelah teknologi Floating Power Unit (FPU) dari Rusia mulai dikaji untuk menjawab kebutuhan listrik di wilayah kepulauan, kawasan pesisir, hingga lokasi industri dan pertambangan yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.

Opsi tersebut mengemuka setelah delegasi perwakilan dunia usaha dan industri Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Rusia. Delegasi melihat langsung Akademik Lomonosov, pembangkit nuklir terapung yang telah beroperasi di Pevek, Chukotka, serta fasilitas pembangunan FPU generasi berikutnya yang menggunakan teknologi reaktor keluarga RITM.

Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai teknologi yang sudah beroperasi sekaligus proses pembangunan unit baru. Bagi Indonesia, pengalaman itu dinilai relevan karena karakter geografis sebagai negara kepulauan membuat penyediaan infrastruktur ketenagalistrikan tidak selalu mudah dilakukan melalui pembangunan jaringan transmisi jarak jauh.

Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, Yudi Utomo Imardjoko, mengatakan FPU dapat menjadi salah satu opsi untuk memasok energi ke wilayah dengan tantangan infrastruktur.

“Dalam kunjungan kami, kami melihat secara langsung baik proses pembangunan FPU maupun pengalaman pengoperasian FNPP yang sudah ada dalam kondisi nyata. Bagi Indonesia, FPU merupakan salah satu solusi yang menarik untuk memasok listrik ke wilayah pesisir terpencil, pulau-pulau, serta fasilitas industri dan pertambangan berskala besar, terutama di lokasi yang pembangunan jaringan listriknya secara teknis kompleks atau secara ekonomi kurang layak," ujarnya, Selasa (15/9/2026) di UGM. 

Rusia Punya Pengalaman Operasional

Pengalaman Rusia menjadi salah satu rujukan dalam pembahasan teknologi tersebut. BAPETEN mencatat Rusia saat ini merupakan negara yang mengoperasikan PLTN terapung komersial, yakni Akademik Lomonosov, sejak 2020.

Akademik Lomonosov menggunakan dua reaktor KLT-40S dengan total kapasitas listrik 70 MW. Fasilitas tersebut memasok listrik dan panas untuk Pevek serta wilayah sekitarnya.

Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menuju generasi FPU berikutnya. Teknologi reaktor RITM sebelumnya telah digunakan dalam kapal pemecah es nuklir Rusia. Pengembangan FPU juga diarahkan untuk memasok energi ke kawasan terpencil dan klaster industri.

Dalam laporan Rosatom, pengembangan FPU berbasis RITM-200 disebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kawasan terpencil dan fasilitas industri baru. Salah satu proyek sebelumnya bahkan dirancang dengan kapasitas hingga 110 MW per unit.

Indonesia Mulai Siapkan Regulasi

Pembahasan FPU bukan lagi sebatas wacana teknologi. Sepanjang 2026, BAPETEN telah melakukan sejumlah pembahasan bersama Rosatom dan kementerian/lembaga terkait mengenai kesiapan regulasi dan perizinan PLTN terapung.

Pada Juni 2026, BAPETEN membahas rencana pemanfaatan FPU 100 dari Rusia, termasuk persoalan status bendera kapal, badan hukum pemegang izin, tanggung jawab hukum apabila terjadi keadaan darurat nuklir, hingga aspek keselamatan dan keamanan.

BAPETEN juga menggelar koordinasi lintas kementerian pada Juni untuk mempersiapkan kerangka regulasi FNPP. Pembahasan mencakup karakteristik teknologi, mekanisme perizinan, keselamatan, keamanan, serta sinkronisasi aturan.

Perkembangan itu berlanjut pada Agustus 2026 ketika BAPETEN bertemu regulator nuklir Rusia, Rostechnadzor. Kedua pihak membahas kerangka perizinan FNPP, hubungan antara perizinan nuklir dan maritim, operator reaktor, penggunaan kapal berbendera asing, hingga peluang penyusunan panduan FPU-NPP.

Rusia Siap Mendukung

Kerja sama nuklir Indonesia-Rusia juga memperoleh dukungan politik tingkat tinggi. Presiden Rusia Vladimir Putin pada pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Moskow pada Desember 2025 menyatakan Rusia siap membantu jika Indonesia memutuskan melibatkan Rusia dalam pengembangan energi nuklir.

Komitmen tersebut kembali menjadi bagian dari pembicaraan kedua negara pada 2026. Dalam pertemuan di Kremlin pada April 2026, Indonesia dan Rusia membahas penguatan kerja sama strategis, termasuk sektor energi.

Sementara itu, kunjungan delegasi Indonesia ke Rusia memberikan perspektif berbeda karena melihat langsung teknologi dan fasilitasnya. Yudi menilai pengalaman lapangan diperlukan agar pembahasan FPU tidak hanya berfokus pada kapasitas pembangkit, tetapi juga keselamatan, regulasi, keekonomian, dan kesiapan sistem pendukung.

“Bagi kami, melihat langsung fasilitas yang telah beroperasi dan fasilitas yang sedang dibangun memberikan perspektif yang jauh lebih konkret. Indonesia perlu memastikan seluruh persyaratan keselamatan, regulasi, dan kepentingan nasional terpenuhi," ujarnya.

Selain pembangkitan listrik, kunjungan tersebut juga membuka pembahasan mengenai kemungkinan pemanfaatan teknologi nuklir untuk produksi radioisotop bagi kebutuhan medis dan industri.

Dengan demikian, opsi kerja sama Indonesia-Rusia kini tidak hanya berbicara mengenai PLTN konvensional. Teknologi nuklir terapung menjadi salah satu alternatif yang sedang dikaji, terutama untuk menjawab kebutuhan energi di lokasi yang menghadapi keterbatasan jaringan listrik.

Bagi Indonesia, tahap berikutnya akan sangat bergantung pada kesiapan regulasi, keselamatan, aspek ekonomi, kelembagaan, serta keputusan pemerintah mengenai teknologi dan skema implementasinya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online