Abu Anak Krakatau Dikurangi lewat Modifikasi Cuaca, BMKG Target 1-2 Hari

Newswire
Newswire Selasa, 08 September 2026 11:57 WIB
Abu Anak Krakatau Dikurangi lewat Modifikasi Cuaca, BMKG Target 1-2 Hari

Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Pembagian masker secara swadaya tersebut bertujuan untuk melindungi pernapasan warga dan nelayan setempat dari paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus mengantisipasi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Antara/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menargetkan kepekatan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berkurang dalam 1 sampai 2 hari melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan operasi tersebut sebelumnya disiapkan melalui Pondok Cabe. Namun, pelaksanaannya dialihkan ke Semarang dan Kertajati karena pesawat tidak dapat terbang dari Pondok Cabe.

"Kalau yang hari ini, modifikasi cuacanya itu untuk mengurangi kepekatan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau ya. Jadi ini kita di Posko Pondok Cabe nggak bisa terbang karena bandara closed," katanya di Graha Marinir, Senin (7/9/2026).

Dua Metode OMC Kurangi Abu Vulkanik

BMKG menyiapkan dua metode modifikasi cuaca untuk mengurangi kepekatan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Apabila kondisi di lapangan tidak terdapat awan, pesawat akan melakukan penyemprotan menggunakan larutan berupa air yang dicampur surfaktan.

"Jadi larutan tertentu yang mampu mengikat debu sehingga dia akan jatuh," ucapnya.

Sementara itu, apabila mulai terbentuk awan, metode modifikasi cuaca akan disesuaikan.

Pesawat akan melakukan penyemaian awan menggunakan air yang dicampur bahan semi-higroskopis untuk mengaktivasi pertumbuhan awan hingga menghasilkan hujan.

Seto berharap dua metode tersebut dapat membantu mengurangi persoalan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam satu hingga dua hari ke depan.

Namun, keberhasilan upaya tersebut tetap bergantung pada kondisi erupsi, terutama apabila tidak terjadi letusan baru yang kembali menyemburkan debu vulkanik.

"Dengan catatan tidak ada letusan-letusan baru ya yang menyemburkan debu-debu vulkanik yang baru," jelasnya.

Kemarau Panjang hingga Dua Bulan ke Depan

Selain membahas penanganan abu vulkanik, Seto menyampaikan kondisi cuaca Indonesia terkait fenomena El Nino.

Menurutnya, musim kemarau akan berlangsung panjang dan diperkirakan mencapai fase yang kuat pada September hingga satu bulan ke depan.

Seto mengatakan dampak El Nino sangat kuat ketika bersamaan dengan musim kemarau. Namun, dia memperkirakan wilayah Indonesia bagian Utara mulai perlahan diguyur hujan pada Oktober.

"Jadi paling berat memang sampai dengan akhir September. Kemudian perlahan-lahan eskalasi ini akan melemah, dimulai dengan bulan Oktober, November seluruh persoalan kekeringan, kebakaran hutan, sudah mulai selesai," kata Seto.

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material tersebut memiliki karakteristik yang dapat membahayakan pesawat apabila berada di wilayah yang dilalui penerbangan.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menjelaskan abu vulkanik berbeda dengan abu sisa pembakaran karena berasal dari material di dalam gunung yang terlontar ketika terjadi erupsi.

Menurut Alvin, abu vulkanik memiliki karakter panas dan tajam karena material tersebut terlontar dari dalam gunung pada suhu yang sangat tinggi.

“Jadi, abu vulkanik itu karakternya berbeda dari abu sisa pembakaran. Kalau abu sisa pembakaran itu disentuh saja hancur. Nah, kalau abu vulkanik ini berbeda karena terdiri dari material yang ada di dalam perut gunung dan dilontarkan pada suhu yang sangat tinggi,” kata Alvin Lie, Senin (7/9/2026).

Karakter tersebut membuat abu vulkanik dapat merusak berbagai bagian pesawat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online