BRIN Imbau Warga Tak Konsumsi Ikan Mati Usai Erupsi Krakatau

Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari Senin, 07 September 2026 17:47 WIB
BRIN Imbau Warga Tak Konsumsi Ikan Mati Usai Erupsi Krakatau

Hasil tangkapan ikan. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat dan nelayan tidak mengonsumsi ikan maupun biota laut lain yang ditemukan mati mendadak saat atau setelah erupsi Gunung Anak Krakatau.

Imbauan tersebut disampaikan karena penyebab kematian biota laut tidak dapat langsung dikaitkan dengan aktivitas erupsi. Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN Muhammad Reza Cordova mengatakan hingga Senin (7/9/2026), belum ada laporan mengenai kematian biota laut di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Reza mengatakan pihaknya juga belum dapat memastikan ada atau tidaknya kematian biota laut tanpa laporan dari lapangan dan proses verifikasi. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengambil kesimpulan mengenai penyebab kematian ikan hanya berdasarkan waktu terjadinya erupsi.

Apabila nantinya ditemukan ikan atau biota laut yang mati secara mendadak, penyebabnya perlu dilihat berdasarkan sejumlah faktor. Di antaranya lokasi dan waktu kejadian, arah arus, kondisi perairan, serta kemungkinan penyebab lainnya.

“Namun sikap paling aman bagi masyarakat dan nelayan adalah tidak mengonsumsi biota laut yang mati mendadak sebelum ada kepastian penyebabnya,” kata Reza saat dihubungi Bisnis pada Senin (7/9/2026).

Kualitas Perairan di Sekitar Anak Krakatau

Mengenai kondisi kualitas perairan terkini di sekitar Gunung Anak Krakatau, Reza mengatakan BRIN belum dapat menyampaikan angka spesifik. Pengukuran langsung di lapangan masih diperlukan untuk memastikan kondisi perairan setelah aktivitas erupsi.

Meski demikian, secara ilmiah material yang keluar dari aktivitas erupsi seperti abu, lava, batu apung, dan partikel halus berpotensi memengaruhi kualitas air. Dampak tersebut antara lain dapat berupa peningkatan kekeruhan, perubahan kimia perairan, hingga masuknya unsur mineral tertentu.

Material vulkanik juga memiliki sisi lain terhadap ekosistem laut. Reza menjelaskan abu vulkanik dalam jumlah tertentu dapat membawa unsur mineral seperti besi, fosfor, dan silika yang berpotensi mendukung produktivitas fitoplankton.

Namun, dampak tersebut sangat bergantung pada jumlah material yang masuk ke perairan, komposisi abu vulkanik, serta kondisi perairan pada saat material tersebut masuk.

Dengan demikian, keberadaan abu vulkanik di laut tidak secara otomatis berarti memberikan dampak positif bagi ekosistem. Kondisi lingkungan dan konsentrasi material menjadi faktor penting dalam menentukan dampaknya.

Material Vulkanik Bisa Menekan Biota Laut

Sebaliknya, apabila material vulkanik masuk ke perairan dalam jumlah terlalu banyak dalam waktu singkat, dampaknya dapat berubah menjadi negatif. Kondisi tersebut berpotensi membuat air menjadi sangat keruh dan menyebabkan biota laut mengalami stres.

Material vulkanik juga dapat mengganggu insang ikan. Selain itu, partikel halus yang mengendap berpotensi menutup habitat laut seperti terumbu karang.

Reza mengatakan pada prinsipnya material vulkanik memang dapat memberikan masukan mineral bagi laut. Namun, hal tersebut tidak berarti material erupsi selalu memberikan dampak positif terhadap lingkungan perairan.

Dalam jangka pendek, terutama ketika konsentrasinya tinggi, material erupsi dapat menjadi tekanan ekologis bagi biota laut. Karena itu, diperlukan data lapangan untuk mengetahui apakah dampak tersebut telah terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau.

“Untuk memastikan dampaknya sudah terjadi atau belum, tetap diperlukan data lapangan,” kata Reza.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online