Update Korban Banjir Nepal-China: 1.280 Tewas, 5.620 Masih Hilang

Newswire
Newswire Jum'at, 04 September 2026 23:37 WIB
Update Korban Banjir Nepal-China: 1.280 Tewas, 5.620 Masih Hilang

Salah satu wilayah Nepal yang diterjang banjir bandang. ANTARA/Anadolu/py.\r\n

Harianjogja.com, ISTANBUL—Banjir bandang dahsyat yang melanda Nepal dan China telah menewaskan 1.280 orang hingga Kamis (3/9). Operasi pencarian dan penyelamatan yang memasuki pekan kedua masih berupaya menemukan lebih dari 5.620 orang yang dilaporkan hilang.

Di Nepal, Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana mencatat 1.259 orang tewas dan 5.083 orang masih hilang. Dari jumlah korban hilang tersebut, sebanyak 583 orang merupakan warga asing.

Lebih dari 21.400 personel keamanan telah dikerahkan untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan di berbagai wilayah terdampak banjir bandang.

Sementara itu, di negara tetangga, China, pihak berwenang melaporkan 21 orang tewas dan 541 orang masih hilang. Korban hilang di China tersebut termasuk 261 warga asing.

Keluarga Korban Mulai Gelar Pemakaman Simbolis

Besarnya jumlah korban hilang membuat sebagian keluarga di Nepal mulai menghadapi kenyataan pahit. Sejumlah keluarga menggelar upacara pemakaman simbolis bagi kerabat mereka yang hingga kini belum ditemukan.

Di Rasuwa, salah satu wilayah yang terdampak paling parah, keluarga korban membuat patung pemakaman menggunakan kaas-kush atau rumput suci. Ritual tersebut dilakukan untuk membebaskan jiwa kerabat mereka yang hilang.

Menurut laporan Kathmandu Post, ritual itu dilakukan karena keluarga telah kehilangan harapan untuk menemukan jenazah kerabat mereka yang hilang akibat banjir bandang.

Pada Rabu (2/9), puluhan patung tersebut kemudian dikremasi dalam upacara pemakaman massal di Kuil Pashupati Aryaghat, yang berada di tepi Sungai Bagmati, Kathmandu.

Kondisi serupa juga terjadi di Chitwan, daerah lain yang mengalami dampak paling parah. Otoritas setempat membakar jasad-jasad yang tidak dikenali setelah terlebih dahulu mengumpulkan sampel DNA.

Langkah tersebut dilakukan karena jumlah korban yang sangat besar membuat proses identifikasi dan penyimpanan jasad menjadi amat sulit.

Banjir Menghanyutkan Rumah dan Kerabat

Di sejumlah distrik terdampak, tidak sedikit korban yang bahkan tidak memiliki tempat layak untuk melangsungkan ritual pemakaman. Banjir bandang telah menghanyutkan kerabat sekaligus rumah mereka.

Para korban yang kehilangan semuanya dan tengah berupaya mencari tempat di Kathmandu juga menghadapi persoalan serupa. Mereka tidak dapat menemukan fasilitas publik yang layak untuk melaksanakan ritual.

Di tengah kondisi tersebut, personel militer, kepolisian, dan unsur lainnya masih melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan di kawasan yang terdampak banjir.

Upaya tersebut menghadapi sejumlah kendala karena akses jalan, pasokan listrik, dan jaringan komunikasi masih terputus di beberapa wilayah.

Selain mencari korban, para petugas juga terus berupaya menyalurkan bantuan kemanusiaan. Kebersihan di lokasi-lokasi pengungsian turut dijaga untuk menekan risiko penyakit menular.

Banjir Dipicu Pecahnya Gletser

Banjir bandang melanda perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus setelah sebuah gletser pada ketinggian 5.200 meter pecah dari Gunung Langtang Lirung di Nepal.

Pecahan gletser tersebut memicu longsor es dan bebatuan. Material itu kemudian mengalir bersama puing-puing dan menyapu lembah-lembah yang berada di kawasan perbatasan.

Banjir bandang dan longsor lumpur selanjutnya menghancurkan sejumlah wilayah di Nepal, yakni distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre, kemudian Lembah Kathmandu.

Dampaknya juga mencapai titik lintas batas Gyirong di bagian barat daya Kawasan Otonom Xizang atau Tibet, China.

Dengan operasi pencarian yang memasuki pekan kedua, ribuan personel masih berupaya menelusuri kawasan terdampak untuk menemukan korban yang belum diketahui keberadaannya. Di sisi lain, keluarga korban di sejumlah wilayah mulai melaksanakan ritual pemakaman simbolis setelah kehilangan harapan menemukan kerabat mereka.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online