Kerugian Kebakaran Desa Adat Sade Rp33,84 Miliar, 320 Pelaku Wisata Ikut Terdampak

Newswire
Newswire Senin, 31 Agustus 2026 20:07 WIB
Kerugian Kebakaran Desa Adat Sade Rp33,84 Miliar, 320 Pelaku Wisata Ikut Terdampak

Tim Laboratorium Forensik Polda Bali melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) setelah kebakaran melanda Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB, Senin (24/8/2026). Petugas menyisir puing-puing bangunan rumah adat tersebut untuk menyelidiki penyebab kebakaran yang terjadi di Desa Adat Sade pada Sabtu (22/8/2026) malam./Antara-Ahmad Subaidi\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA— Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade di Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan menimbulkan kerugian hingga Rp33,84 miliar. Dampaknya tidak hanya mengenai bangunan tradisional dan fasilitas desa, tetapi juga aktivitas ekonomi ratusan pelaku pariwisata yang menggantungkan penghasilan dari kawasan tersebut.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan perkiraan nilai kerugian tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah dan pihaknya melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani dampak kebakaran.

"Kami telah mendapat laporan total kerugian ada Rp33,84 miliar dan kami telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah," kata Widiyanti dalam Rapat Kerja Bersama Komisi VII di Jakarta, Senin.

Puluhan Hunian dan Bangunan Tradisional Terdampak

Widiyanti menjelaskan kebakaran menyebabkan sejumlah bangunan di Desa Adat Sade terdampak. Total terdapat 75 unit hunian yang terdampak, sedangkan bangunan yang berada di luar desa dan ikut terdampak mencapai 20 unit.

Sejumlah bangunan pertemuan tradisional khas Suku Sasak di Lombok juga mengalami dampak kebakaran. Rinciannya terdiri atas 4 unit Berugak Sekenam, 6 unit Berugak Sakepat, dan 1 unit Bale Beleq.

Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas pendukung aktivitas masyarakat dan wisata. Fasilitas yang terdampak meliputi 8 lumbung padi, 1 toilet umum, 1 gerbang, 1 pelonggu, 1 masjid adat, serta 69 artshop milik UMKM lokal.

Besarnya dampak terhadap artshop menjadi perhatian karena tempat tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat lokal yang berhubungan langsung dengan kunjungan wisatawan.

320 Pelaku Pariwisata Ikut Terdampak

Kebakaran Desa Adat Sade juga memberikan dampak terhadap masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata. Pemerintah mencatat terdapat ratusan pelaku wisata yang kehilangan atau terganggu aktivitas ekonominya akibat kejadian tersebut.

Mereka terdiri atas 75 pemandu lokal, 120 perajin tenun, 60 penjual suvenir dan UMKM, 30 penari dan pemain gendang belek, 15 pengelola parkir dan keamanan, serta 20 orang yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

"Sehingga total pelaku pariwisata ada 320 orang yang terdampak atau 189 kepala keluarga," ujar Widiyanti.

Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran Desa Adat Sade tidak hanya diarahkan pada pemulihan bangunan, tetapi juga pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat dan pelaku wisata.

Pemerintah Siapkan Penanganan Jangka Pendek

Widiyanti mengatakan Kementerian Pariwisata telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait untuk menyusun langkah penanganan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Untuk tahap awal, pemerintah menyiapkan stok makanan dan distribusinya bagi korban terdampak. Selain itu, masyarakat dan pelaku pariwisata akan mendapatkan program pemberdayaan.

Penanganan juga mencakup trauma healing, bimbingan teknis, serta pemberdayaan Pokdarwis agar masyarakat terdampak dapat kembali menjalankan aktivitasnya.

Kementerian Pariwisata juga berupaya menyiapkan dapur umum dan bantuan logistik melalui Politeknik Pariwisata Lombok. Upaya tersebut dilakukan dengan menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana, TNI/Polri, serta Palang Merah Indonesia (PMI).

Selain bantuan darurat, terdapat rencana pembangunan museum sementara dan masjid.

"Sehingga saat event MotoGP nanti masih bisa dikunjungi oleh wisatawan," katanya.

Ada Rencana Pemulihan Desa Sade

Untuk penanganan jangka panjang, pemerintah berencana membentuk tim kerja lintas kementerian/lembaga untuk menghidupkan kembali Desa Sade.

Rencana lainnya mencakup pembentukan satu akun donasi, penyusunan master plan rekonstruksi, hingga pembangunan rumah layak tinggal bagi masyarakat terdampak.

Desa Adat Sade sendiri merupakan salah satu dari 21 dusun yang berada di Desa Wisata Rembitan. Berdasarkan aplikasi Jejaring Desa Wisata (Jadesta), statusnya masih berada dalam kategori desa wisata berkembang.

Desa Sade Punya Potensi Ekonomi Wisata Besar

Sebelum kebakaran, Desa Sade menjadi salah satu kawasan yang ramai dikunjungi wisatawan. Dalam kondisi normal, jumlah kunjungan ke desa tersebut dapat mencapai sekitar 200 wisatawan per hari.

Jumlah itu meningkat signifikan ketika memasuki musim ramai atau peak season. Pada libur tahun baru 2026, kunjungan wisatawan bahkan dapat mencapai 500 hingga 1.000 orang per hari.

Aktivitas wisata tersebut turut menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat. Widiyanti mencatat pada musim sepi atau low season, perputaran ekonomi di Desa Sade berkisar Rp22,5 juta hingga Rp35 juta per hari.

Sementara ketika memasuki musim ramai, perputaran ekonomi di kawasan tersebut dapat mencapai Rp50 juta per hari.

Data tersebut menunjukkan besarnya aktivitas pariwisata yang menopang perekonomian masyarakat Desa Adat Sade. Karena itu, pemulihan kawasan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali bangunan yang terdampak, tetapi juga menghidupkan kembali kegiatan wisata dan sumber penghasilan masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online