BMKG Waspadai Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Sabtu Ini
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga sedang di sejumlah kota pada Sabtu, disertai cuaca berawan, udara kabur, asap, dan kabut
Foto ilustrasi tempat kejadian perkara. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Polda Metro Jaya mengungkap kronologi meninggalnya seorang warga dalam peristiwa kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026).
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan proses evakuasi korban tidak dapat dilakukan secara langsung karena situasi di lokasi masih tidak kondusif.
Menurutnya, petugas harus mempertimbangkan keselamatan personel sekaligus menunggu kondisi yang memungkinkan untuk melakukan evakuasi.
"Begitu lokasi sudah berhasil diamankan, Tim Biddokkes Polda Metro Jaya langsung mengevakuasi seorang laki-laki yang ditemukan dalam kondisi pingsan," kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Setelah dievakuasi, korban dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat, yakni Rumah Sakit Mintohardjo. Korban kemudian mendapatkan penanganan medis, tetapi dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan.
Jenazah selanjutnya dipindahkan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk keperluan identifikasi dan visum.
Budi mengatakan kepolisian juga telah menemui keluarga korban, termasuk anak kandungnya, untuk berkoordinasi terkait penanganan jenazah.
"Guna keperluan proses identifikasi dan visum, jenazah korban kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Pihak kepolisian juga telah menemui keluarga almarhum, yakni anak kandung korban untuk berkoordinasi secara langsung," ujar Budi.
Penyidik sebelumnya telah mengajukan permohonan untuk dilakukan otopsi guna memastikan penyebab pasti kematian korban. Namun, keluarga menolak tindakan medis tersebut.
"Pihak keluarga tidak bersedia dilakukan otopsi. Kami memahami dan berempati atas kondisi duka yang dialami keluarga, sehingga untuk sementara, penyidik belum meminta keterangan lebih lanjut," tutur Budi.
Pedagang Cermin Keluar Rumah Saat Kericuhan
Korban diketahui merupakan Bambang Setiyawan, 59, pedagang cermin yang tinggal di kawasan Pejompongan. Bambang meninggal setelah keluar dari rumahnya ketika kericuhan berlangsung pada Kamis (27/8) malam.
Istri korban, Sudarsi, 56, mengatakan Bambang sebelumnya masih berjualan cermin bersamanya di Pejompongan pada Kamis sore.
Sudarsi menuturkan dirinya masih menemani Bambang berjualan hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Padahal, biasanya mereka baru menutup tempat usaha sekitar pukul 18.00 WIB.
Namun, situasi berubah setelah Sudarsi melihat massa mulai berdatangan. Ia kemudian meminta Bambang menutup tempat usaha lebih awal demi menghindari situasi yang tidak aman.
"Sebenarnya kita belum tutup. Tutupnya itu jam 18.00. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak, akhirnya saya bilang sama Bapaknya, 'Itu massa sudah banyak, tutup'," kata Sudarsi saat ditemui wartawan, Jumat.
Kondisi kericuhan yang terjadi di kawasan tersebut kemudian menjadi rangkaian peristiwa hingga Bambang ditemukan dalam kondisi pingsan dan dievakuasi oleh petugas setelah lokasi dinyatakan aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga sedang di sejumlah kota pada Sabtu, disertai cuaca berawan, udara kabur, asap, dan kabut
Akademisi mendorong RPPLH DIY 2026–2056 terintegrasi dengan tata ruang, pembangunan, penganggaran, dan program lingkungan.
Kemenhub mempercepat perbaikan terminal, bandara, dan pelabuhan terdampak gempa NTT. Distribusi logistik dialihkan lewat jalur laut jika akses darat terganggu.
Muktamar Ke-35 NU membahas perubahan AD/ART dan mekanisme pemilihan PBNU. Simak agenda Komisi Organisasi dan tahapan sidang muktamar.
24 lurah petahana dan 4 pamong maju Pilur Bantul 2026. Simak aturan cuti, pengunduran diri, serta jadwal tahapan pemilihan lurah.
Polda Metro Jaya mengungkap kronologi Bambang Setiyawan meninggal saat kericuhan Pejompongan. Keluarga menolak otopsi.