Gerakan Kecoak Picu Gelombang Protes Besar di India

Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho Rabu, 22 Juli 2026 06:07 WIB
Gerakan Kecoak Picu Gelombang Protes Besar di India

Tangkapan layar aksi demonstrasi ribuan pemuda di India di bawah gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang berakhir ricuh di New Delhi, Senin (20/7/2026)./Telegram-CJP\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Gelombang demonstrasi besar yang dipimpin anak muda mengguncang New Delhi, India, pada Senin (20/7/2026). Ribuan demonstran yang didominasi generasi Z turun ke jalan menuntut reformasi sistem pendidikan dan pengunduran diri Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan. Aksi ini dipimpin oleh Cockroach Janta Party (CJP), gerakan yang berawal dari satir di media sosial dan kini berkembang menjadi salah satu gerakan protes terbesar terhadap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi dalam beberapa tahun terakhir.

Aksi demonstrasi berlangsung bertepatan dengan dimulainya sidang musim hujan parlemen India. Puluhan ribu mahasiswa dan anak muda bergerak menuju kompleks parlemen untuk memprotes dugaan kebocoran soal National Eligibility cum Entrance Test (NEET) atau ujian masuk kedokteran nasional yang memicu pelaksanaan ujian ulang bagi jutaan peserta.

Melansir BBC pada Selasa (21/7/2026), isu pendidikan yang semula hanya menjadi polemik akademik kini berkembang menjadi persoalan politik nasional. Demonstrasi semakin meluas setelah aktivis pendidikan dan lingkungan Sonam Wangchuk dipindahkan secara paksa ke rumah sakit saat menjalani mogok makan selama 20 hari sebagai bentuk dukungan terhadap tuntutan demonstran.

Cockroach Janta Party dipimpin oleh Abhijeet Dipke, mantan mahasiswa Boston University sekaligus konsultan komunikasi politik. Gerakan ini awalnya lahir sebagai bentuk satire di media sosial sebelum kemudian berkembang menjadi gerakan sosial dan politik yang mendapat dukungan luas dari kalangan anak muda.

Perkembangan CJP bermula ketika Dipke membuka pendaftaran anggota melalui Google Form. Respons publik yang besar membuat puluhan ribu anak muda bergabung sehingga gerakan tersebut berubah menjadi wadah protes nasional yang mengangkat berbagai persoalan pendidikan di India.

Nama Cockroach Janta Party memiliki latar belakang yang unik. Istilah "cockroach" atau kecoak diadopsi dari pernyataan Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant yang sempat membandingkan sebagian anak muda pengangguran yang beralih ke dunia jurnalisme dan aktivisme dengan "kecoak" dan "parasit". Meskipun Surya Kant kemudian menjelaskan bahwa pernyataannya ditujukan kepada pemilik ijazah palsu, istilah tersebut telanjur digunakan sebagai identitas gerakan oleh para aktivis muda.

Selain itu, nama Cockroach Janta Party juga merupakan bentuk parodi dari Bharatiya Janata Party (BJP), partai politik pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi yang memegang pemerintahan India sejak 2014.

Tuntutan utama demonstran adalah reformasi penyelenggaraan NEET. Ujian yang diikuti sekitar 2,28 juta peserta pada Mei 2026 itu dibatalkan setelah muncul dugaan kebocoran soal sehingga seluruh peserta diwajibkan mengikuti ujian ulang.

Demonstran menilai peristiwa tersebut menunjukkan lemahnya tata kelola sistem pendidikan nasional. Mereka mendesak adanya akuntabilitas dalam penanganan dugaan kebocoran soal serta meminta Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri dari jabatannya.

CJP juga menyoroti dampak psikologis yang dialami peserta ujian. Gerakan ini mengungkap adanya laporan sekitar 20 kasus bunuh diri yang diduga berkaitan dengan tekanan mental setelah pembatalan ujian nasional tersebut.

Perhatian publik terhadap demonstrasi semakin meningkat setelah Sonam Wangchuk ikut menyuarakan tuntutan reformasi pendidikan. Wangchuk yang dikenal sebagai insinyur, inovator, dan aktivis lingkungan menjadi inspirasi tokoh utama dalam film Bollywood 3 Idiots serta aktif mengampanyekan pembangunan berkelanjutan di kawasan Himalaya.

Ia menjalani mogok makan selama 20 hari di Jantar Mantar, New Delhi, untuk memberikan dukungan moral kepada mahasiswa yang terdampak polemik NEET. Namun, pada Sabtu (18/7/2026), aparat memindahkannya secara paksa ke rumah sakit setelah kondisi kesehatannya dilaporkan memburuk.

Insiden tersebut memicu kemarahan para pendukung CJP yang menilai pemerintah berupaya membungkam aksi protes damai. Setelah peristiwa itu, tuntutan demonstran pun berkembang dari reformasi pendidikan menjadi desakan agar Perdana Menteri Narendra Modi turut mengundurkan diri dari jabatannya.

Gerakan Cockroach Janta Party juga memperoleh dukungan dari sejumlah tokoh oposisi India, di antaranya Ketua Partai Kongres Mallikarjun Kharge, anggota parlemen Mahua Moitra, dan Ketua Samajwadi Party Akhilesh Yadav.

Besarnya mobilisasi massa menunjukkan bahwa persoalan pendidikan kini menjadi salah satu isu politik yang mendapat perhatian besar di India. Polemik penyelenggaraan ujian nasional tidak lagi dipandang sekadar masalah administrasi pendidikan, tetapi telah berkembang menjadi tuntutan yang lebih luas mengenai transparansi dan akuntabilitas kebijakan publik di negara tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis