Rektor UIN Jogja Tekankan Inisiatif dan Inovasi di Era Disrupsi

Newswire
Newswire Kamis, 13 Agustus 2026 19:27 WIB
Rektor UIN Jogja Tekankan Inisiatif dan Inovasi di Era Disrupsi

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—UIN Sunan Kalijaga mengukuhkan 538 lulusan dalam Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Kamis (13/8/2026). Dalam momentum tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi menekankan pentingnya inisiatif, kreativitas, dan inovasi bagi para lulusan untuk menghadapi dunia yang terus berubah.

Prosesi wisuda berlangsung melalui Sidang Senat Terbuka yang dibuka oleh Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. Kamsi. Ratusan lulusan tersebut berasal dari empat fakultas, yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Rinciannya, sebanyak 105 lulusan berasal dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 188 lulusan dari Fakultas Syariah dan Hukum, 149 lulusan dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, serta 96 lulusan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Dalam pidatonya, Rektor menyampaikan apresiasi kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan perjalanan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga.

“Selama menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Anda telah dibekali kompetensi keilmuan melalui kurikulum yang terus diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman.”

Menurutnya, pendidikan di kampus tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik. Para lulusan juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, membangun karakter, dan menumbuhkan akhlakul karimah sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Bicara Makna Rindu, Pulang, dan Angkringan

Rektor kemudian mengajak para wisudawan memaknai kelulusan secara lebih filosofis. Ia mengutip puisi Joko Pinurbo yang menggambarkan Jogja sebagai kota istimewa yang terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.

Ketiga kata tersebut digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan hubungan emosional para lulusan dengan kampus sekaligus tanggung jawab setelah mereka meninggalkan lingkungan akademik.

Menurutnya, UIN Sunan Kalijaga bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, menemukan sahabat, dan membangun cara pandang terhadap dunia serta kemanusiaan.

“UIN Sunan Kalijaga bukan sekadar tempat Anda menimba ilmu, melainkan ruang istimewa tempat ikatan emosional tumbuh. Di kampus ini, Anda berproses menempa diri, menemukan sahabat, serta membentuk cara pandang terhadap dunia dan kemanusiaan,” tuturnya.

Sementara itu, kata pulang dimaknai sebagai kembalinya ilmu, pengalaman, dan keterampilan kepada diri setiap lulusan. Rektor mengingatkan bahwa pencapaian akademik tidak akan berarti apabila pengetahuan yang diperoleh selama kuliah tidak dikembangkan.

“Setinggi apa pun IPK yang diraih, ilmu itu pada akhirnya berpulang kepada diri Anda: akan dikembangkan atau dibiarkan begitu saja. Tanpa upaya untuk memberdayakannya, ijazah hanya akan tersimpan di lemari,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat Empowering Knowledge, Shaping the Future, yakni ilmu tidak cukup sekadar dimiliki, tetapi harus diberdayakan untuk membuka jalan menuju masa depan.

Lulusan Diminta Berani Berinovasi

Rektor mengatakan tanggung jawab para lulusan semakin besar karena mereka memasuki dunia yang menghadapi berbagai tantangan. Kondisi tersebut antara lain perlambatan ekonomi, krisis iklim, konflik, melemahnya sejumlah sektor industri, serta perkembangan otomatisasi.

Karena itu, lulusan UIN Sunan Kalijaga diminta tidak hanya menjadi pencari pekerjaan. Mereka juga didorong berani menciptakan peluang dan menghadirkan gagasan baru.

“Jangan berhenti berinisiatif, jangan berhenti berpikir, jangan berhenti kreatif, dan jangan berhenti membuka kesempatan untuk menembus masa depan,” pesannya.

Adapun angkringan dimaknai Rektor sebagai ruang sosial yang mempertemukan berbagai orang tanpa sekat. Kesederhanaan angkringan, menurutnya, mengajarkan pentingnya percakapan, kepedulian, dan kebersamaan.

“Begitu pula ketika Anda mengaktualisasikan diri, jangan pernah lupa bahwa kita adalah bagian dari umat manusia. Kita hidup tanpa sekat dan harus siap memberikan yang terbaik kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang,” katanya.

Lulusan UIN Sunan Kalijaga Diingatkan Utamakan Kemanusiaan

Sementara itu, Ratu Sheba Sofie Ahimsa yang mewakili para lulusan mengatakan toga dan gelar akademik bukan sekadar simbol keberhasilan. Keduanya juga membawa tanggung jawab agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai sarana mencapai kenyamanan pribadi.

Ia mengutip pesan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bahwa kemanusiaan lebih penting daripada politik. Menurut Sheba, jabatan, pendidikan, dan harta akan kehilangan makna apabila tidak dibangun di atas penghormatan terhadap martabat manusia.

Sebagai lulusan UIN Sunan Kalijaga, para wisudawan juga membawa amanah untuk menerapkan integrasi keilmuan dan nilai-nilai keislaman dalam profesi masing-masing.

“Guru diharapkan mengajar dengan hati, peneliti bekerja demi kemaslahatan, birokrat melayani dengan integritas, dan pemimpin menghadirkan keadilan,” ungkapnya.

Ia berharap apa pun profesi yang dipilih para lulusan setelah meninggalkan kampus, manusia tetap menjadi pusat dalam setiap keputusan.

“Setelah keluar dari kampus ini, kita tidak hanya mengejar gaji, tetapi juga kebermanfaatan. Tidak hanya mengejar jabatan, tetapi juga kejujuran. Dan tidak hanya mengejar kesuksesan, tetapi juga keberanian untuk membela yang benar. Hari ini kita lulus sebagai sarjana, semoga esok kita dikenang sebagai manusia,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online