Ledakan Terowongan PLTA di India Renggut 25 Nyawa Pekerja

Jumali
Jumali Jum'at, 24 Juli 2026 13:07 WIB
Ledakan Terowongan PLTA di India Renggut 25 Nyawa Pekerja

Ilustrasi Ledakan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Operasi pencarian dan penyelamatan terhadap puluhan pekerja yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air di Negara Bagian Sikkim, India, berakhir tragis. Seluruh 25 pekerja yang terperangkap setelah terjadi ledakan pada Senin (20/7/2026) ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Kabar tersebut disampaikan pihak berwenang setempat pada Kamis (23/7/2026) setelah tim penyelamat menyelesaikan proses evakuasi yang berlangsung selama empat hari.

Dilansir dari Anadolu, insiden terjadi di Distrik Namchi, wilayah timur laut India, tepatnya di sebuah terowongan yang masih berada dalam tahap pembangunan untuk mendukung proyek pembangkit listrik tenaga air.

Menurut keterangan perusahaan listrik milik negara, National Hydroelectric Power Corporation (NHPC), ledakan diduga dipicu oleh semburan mendadak gas yang berasal dari lapisan batuan di dalam terowongan.

Gas tersebut diyakini merupakan gas metana yang terakumulasi di area pekerjaan bawah tanah. Saat terjadi pelepasan mendadak, ledakan besar tidak dapat dihindari.

Ledakan menghasilkan kepulan asap tebal dan gas beracun yang memenuhi ruang terowongan. Kondisi tersebut membuat para pekerja tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri dan akhirnya terjebak di dalam lokasi kejadian.

Dari total korban yang meninggal dunia, sebanyak 19 orang diketahui merupakan pekerja dari Patel Engineering Limited, salah satu perusahaan yang terlibat dalam pengerjaan proyek tersebut.

Sejak insiden terjadi, berbagai lembaga penyelamat dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian dan evakuasi. Tim gabungan bekerja dalam kondisi yang tidak mudah karena harus menghadapi ruang bawah tanah yang sempit, minim oksigen, serta dipenuhi asap dan gas berbahaya.

Meski upaya penyelamatan dilakukan secara intensif selama beberapa hari, harapan menemukan korban dalam keadaan hidup tidak terwujud.

“Secara tragis, seluruh 25 orang tersebut meninggal dunia, dan jenazah mereka berhasil dievakuasi selama operasi berlangsung,” demikian pernyataan resmi pihak berwenang setempat.

Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan kerja paling mematikan yang terjadi dalam proyek infrastruktur di India sepanjang tahun 2026.

Hasil investigasi awal mengarah pada dugaan kebocoran gas mudah terbakar yang memicu ledakan di dalam terowongan. Namun, otoritas setempat menegaskan bahwa penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil penyelidikan teknis yang lebih mendalam.

Tim ahli akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi geologi, sistem keselamatan proyek, hingga prosedur operasional yang diterapkan di lokasi pembangunan.

Penyelidikan tersebut diharapkan dapat mengungkap secara jelas penyebab ledakan sekaligus menjadi dasar evaluasi untuk mencegah kejadian serupa pada proyek-proyek konstruksi bawah tanah di masa mendatang.

Tragedi ini kembali menyoroti tingginya risiko pekerjaan di sektor konstruksi dan pertambangan bawah tanah, terutama pada proyek-proyek berskala besar yang melibatkan aktivitas pengeboran dan pembangunan terowongan.

Pemerintah India bersama pihak terkait kini menghadapi tekanan untuk memastikan standar keselamatan kerja diterapkan secara lebih ketat guna melindungi para pekerja yang terlibat dalam proyek infrastruktur strategis.

Sementara itu, keluarga korban masih menunggu proses identifikasi dan penyerahan jenazah. Duka mendalam menyelimuti para kerabat yang selama empat hari terakhir berharap anggota keluarga mereka dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Dengan berakhirnya operasi evakuasi, fokus berikutnya kini tertuju pada proses investigasi yang diharapkan mampu mengungkap penyebab pasti ledakan serta menentukan langkah pencegahan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online