Gelombang Panas Eropa Tewaskan 212 Orang di Spanyol

Newswire
Newswire Kamis, 25 Juni 2026 18:27 WIB
Gelombang Panas Eropa Tewaskan 212 Orang di Spanyol

\r\ncuaca panas di daerah Jawa Tengah/Twitter @Jogja_Uncover

Harianjogja.com, ISTANBUL—Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa menelan korban jiwa dalam jumlah signifikan. Di Spanyol, sebanyak 212 kematian dilaporkan terjadi hanya dalam kurun waktu empat hari, sejak 21 hingga 24 Juni 2026.

Data tersebut dirilis oleh sistem pemantauan kematian nasional Spanyol, MoMo, yang mencatat lonjakan angka kematian sejak gelombang panas mulai melanda pada 20 Juni. Kematian harian meningkat tajam, dari 13 kasus pada hari pertama menjadi 95 kasus pada 23 Juni.

Kondisi ini diperparah oleh suhu ekstrem yang memecahkan sejumlah rekor di berbagai wilayah. Di Cantabria, suhu mencapai 43,7 derajat Celsius, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah di wilayah utara Spanyol.

Tak hanya siang hari, suhu malam juga mencatat rekor tertinggi di sejumlah kota seperti Zamora dan wilayah Almeria. Fenomena ini memperburuk risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Meski demikian, badan meteorologi Spanyol Aemet tidak mengeluarkan peringatan merah pada Kamis (25/6/2026). Suhu diperkirakan masih berada di kisaran 37 hingga 38 derajat Celsius, dengan potensi hujan dan badai petir di beberapa daerah.

Gelombang panas juga berdampak luas di Inggris. Negara tersebut mencatat suhu tertinggi dalam lebih dari setengah abad, dengan temperatur mencapai 36,1 derajat Celsius di Gosport, Hampshire.

Badan meteorologi Inggris, Met Office, menyebut angka tersebut sebagai rekor suhu harian tertinggi untuk bulan Juni, melampaui rekor sebelumnya sebesar 35,6 derajat Celsius yang terjadi pada 1976.

Suhu ekstrem ini bahkan memaksa pembatalan sejumlah kegiatan publik, termasuk London Climate Action Week. Panitia menyebut kondisi suhu dalam ruangan yang tidak memiliki pendingin berisiko membahayakan kesehatan peserta.

Selain itu, kepadatan transportasi umum yang meningkat selama cuaca panas turut menjadi pertimbangan pembatalan acara tersebut.

Sebelumnya, Met Office sempat memperkirakan suhu di Inggris dan Wales dapat mencapai 39 derajat Celsius. Namun, proyeksi tersebut kemudian direvisi menjadi lebih rendah, meski tetap berada pada kategori panas ekstrem.

Fenomena gelombang panas ini menjadi peringatan serius akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Selain meningkatkan risiko kesehatan, suhu ekstrem juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat secara luas.

Para ahli mengingatkan bahwa frekuensi dan intensitas gelombang panas diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, sehingga diperlukan langkah mitigasi dan adaptasi yang lebih serius dari berbagai pihak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online