BGN Turun Tangan Selidiki Insiden MBG di Jember
BGN menginvestigasi insiden gangguan pencernaan pada siswa penerima MBG di Jember. Operasional SPPG Karangsono dihentikan sementara.
Presiden Prabowo Subianto. - ANTARA/YouTube Sekretariat Presiden
Harianjogja.com, JAKARTA— Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan seluruh biaya tambahan yang timbul dalam perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto tidak dibebankan kepada negara, melainkan ditanggung secara pribadi oleh Presiden. Penjelasan ini disampaikan untuk meluruskan berbagai isu mengenai pembiayaan kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Melalui unggahan resmi Sekretariat Kabinet di Jakarta, Senin, Teddy juga merespons sekaligus mengapresiasi aspirasi mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal yang sebelumnya menyoroti pelaksanaan kunjungan luar negeri Presiden.
"Masalah biaya di luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi, segala kelebihan biaya [biaya tambahan] dari yang telah dianggarkan oleh negara itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Seskab.
Pernyataan tersebut menjadi jawaban atas sorotan Dino terkait kunjungan luar negeri Presiden yang dinilai membutuhkan anggaran besar, sebagaimana disampaikan dalam salah satu video yang diunggah melalui akun media sosial pribadinya.
Selain menjelaskan soal biaya tambahan perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto, Teddy juga mengungkapkan jumlah anggota rombongan dalam kunjungan kenegaraan saat ini lebih ramping dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya.
"Jadi, kalau dulu, itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," katanya.
Menurut Teddy, kunjungan luar negeri Presiden memiliki peran strategis dalam membangun kedekatan dan komunikasi langsung dengan para pemimpin negara lain. Hubungan personal antarpemimpin dinilai penting di tengah berbagai dinamika global yang terus berkembang.
Ia mencontohkan sejumlah tantangan internasional yang saat ini dihadapi dunia, mulai dari konflik di Ukraina hingga ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Dalam situasi seperti itu, hubungan diplomatik yang kuat disebut menjadi salah satu modal penting bagi Indonesia.
Teddy menilai manfaat dari hubungan baik yang dibangun melalui kunjungan luar negeri Presiden tidak hanya berdampak pada aspek diplomasi, tetapi juga memberikan keuntungan konkret bagi kepentingan nasional.
Beberapa di antaranya adalah terjaganya pasokan bahan bakar minyak (BBM), stabilitas harga subsidi BBM, serta keamanan ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia.
Selain itu, Teddy turut menyoroti perkembangan implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Menurut dia, perjanjian tersebut ditargetkan mulai berlaku pada 2027 dan akan memberikan tarif nol persen untuk seju
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BGN menginvestigasi insiden gangguan pencernaan pada siswa penerima MBG di Jember. Operasional SPPG Karangsono dihentikan sementara.
Medan berat di Desa Watuduwur tak surutkan semangat Satgas TMMD Kodim 0708 Purworejo. Pembangunan jalan terus dikebut demi akses warga.
Kejaksaan Agung menjadwalkan ulang pemeriksaan Heru Pambudi sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi importasi tekstil di Ditjen Bea dan Cukai tahun 2018-2020.
Program biodiesel B50 diproyeksikan menghemat devisa Rp170 triliun pada 2026, menciptakan 2,1 juta lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Konflik AS dan Iran meluas ke Suriah dan Bahrain. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 11% dalam sepekan di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
Radar GCI pertama Indonesia di Banjarbaru mampu mendeteksi objek hingga 515 kilometer dan memperkuat pengawasan ruang udara nasional secara real time.