Tambang Emas Ilegal Longsor di Angola, 28 Penambang Tewas

Newswire
Newswire Senin, 25 Mei 2026 13:07 WIB
Tambang Emas Ilegal Longsor di Angola, 28 Penambang Tewas

Ilustrasi tambang - Freepik

Harianjogja.com, LUANDA—Sedikitnya 28 orang meninggal dunia setelah tambang emas ilegal di wilayah barat laut Angola mengalami longsor. Dari jumlah korban tewas tersebut, 13 orang di antaranya diketahui berasal dari satu keluarga, sementara dua orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.

Peristiwa longsor tambang emas ilegal itu terjadi saat puluhan penambang tengah berada di lokasi untuk melakukan aktivitas penambangan mineral strategis, termasuk emas. Aparat kepolisian setempat menyebut proses pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan guna menemukan korban lain yang kemungkinan masih tertimbun material longsoran.

"Sebanyak 28 orang tewas, termasuk 13 di antaranya dari satu keluarga, dan dua lainnya hilang setelah tambang untuk memproduksi mineral strategis ilegal seperti emas, longsor," kata juru bicara kepolisian, Gaspar Luis Inacio kepada stasiun radio RNA, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, tim gabungan masih melakukan operasi pencarian dan evakuasi di area tambang yang runtuh. Petugas juga terus menyisir kemungkinan adanya korban tambahan mengingat jumlah pekerja di lokasi cukup banyak saat kejadian berlangsung.

Sementara itu, petugas pengawas kesehatan terkait, Francisco Rodrigues mengatakan tiga korban luka saat ini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Bengo dan berada dalam kondisi stabil.

Para penyintas mengungkapkan bahwa lebih dari 70 penambang berada di kawasan tambang ketika longsor terjadi. Kesaksian tersebut memperkuat dugaan masih adanya korban lain yang belum ditemukan di bawah timbunan tanah dan bebatuan.

Angola dikenal sebagai salah satu negara kaya sumber daya alam di pesisir barat daya Afrika. Negara tersebut memiliki cadangan minyak bumi dan berlian dalam jumlah besar yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian nasional.

Dalam catatan sejarahnya, Angola pernah berada di bawah penjajahan Portugal selama sekitar 400 tahun. Koloni tersebut dimulai pada 1575 ketika penjelajah Paulo Dias de Novais mendirikan pemukiman di Luanda yang kini menjadi ibu kota Angola.

Setelah lepas dari penjajahan Portugal, Angola resmi merdeka pada 11 November 1975. Namun, negara itu kemudian dilanda perang saudara berkepanjangan yang berlangsung lebih dari dua dekade sebelum akhirnya mencapai perdamaian penuh pada 2002.

Seiring pulihnya kondisi politik dan keamanan pascaperang saudara, Angola berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Afrika. Pemerintah negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir juga terus mempercepat pembangunan infrastruktur serta memperluas kerja sama ekonomi dengan berbagai negara di dunia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online