Inter Miami Dekati Casemiro, Berpeluang Main Bareng Messi
Inter Miami dikabarkan selangkah lagi merekrut Casemiro dengan status bebas transfer untuk bermain bersama Lionel Messi di MLS.
Edukasi mahasiswa lewat Fintech Academy untuk mencegah pinjol ilegal, fraud digital, dan meningkatkan literasi keuangan. /Istimewa
Harianjogja.com, SOLO—Meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital di kalangan anak muda memunculkan tantangan baru berupa maraknya pinjaman online ilegal, penipuan digital, hingga penyalahgunaan data pribadi. Menjawab kondisi tersebut, OVO Finansial memperkuat edukasi literasi keuangan digital bagi mahasiswa melalui program Fintech Academy.
Program bertajuk “Fintech for Future: Membangun Literasi dan Keamanan Pendanaan Digital Generasi Muda” itu digelar di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Rabu (20/5/2026), hasil kolaborasi Fintech Academy by OVO Finansial bersama MoneyFestasi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian roadshow kampus Fintech Academy yang sebelumnya dimulai di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, awal Mei 2026. Melalui program tersebut, OVO Finansial menargetkan peningkatan literasi keuangan digital secara lebih merata di berbagai daerah.
Kegiatan ini mendorong mahasiswa menjadi pengguna layanan keuangan digital yang lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab. Edukasi ini diharapkan mampu membantu generasi muda terhindar dari risiko pinjol ilegal maupun fraud digital sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap ekosistem teknologi finansial yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Setelah Surakarta dan Purwokerto, roadshow Fintech Academy dijadwalkan berlanjut ke sejumlah kampus lain, termasuk Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Agustus 2026. Generasi muda dinilai tidak cukup hanya mampu menggunakan layanan digital, tetapi juga harus memahami risiko di balik kemudahan teknologi finansial. Hal ini penting mengingat tingginya angka pendanaan macet di industri pinjaman daring yang didominasi kelompok usia produktif muda.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026, kelompok usia 19–34 tahun menyumbang 48,65 persen pendanaan macet di industri pinjaman online. Angka tersebut menunjukkan hampir separuh kredit macet berasal dari generasi muda yang aktif menggunakan layanan keuangan digital.
Selain itu, ancaman fraud digital, social engineering, hingga rendahnya kemampuan pengelolaan keuangan pribadi dinilai semakin rentan menghantui pengguna layanan finansial berbasis digital.
Fintech Academy kali ini menghadirkan Head of Public Affairs OVO Finansial, Mekhdi Ibrahim Johan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, Dila Maghrifani, serta Financial Planner Debora Aprianita sebagai narasumber diskusi panel.
Dalam forum tersebut, para pembicara membahas perkembangan pendanaan digital di Indonesia, perilaku generasi muda di era cashless, ancaman kejahatan siber, hingga pentingnya membangun ekosistem layanan finansial yang aman dan berkelanjutan.
Pertumbuhan industri pendanaan digital di Indonesia sendiri masih menunjukkan tren positif. Data OJK per Februari 2026 mencatat outstanding pembiayaan pinjaman daring tumbuh 25,75 persen secara tahunan dengan nilai mencapai Rp100,69 triliun.
Direktur Utama OVO Finansial, Riady Nata, mengatakan mahasiswa bukan hanya pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga calon pelaku ekonomi masa depan yang perlu dibekali kemampuan memahami risiko finansial dan keamanan digital.
“Pendanaan digital membuka peluang yang besar bagi generasi muda untuk mengakses layanan keuangan secara lebih mudah. Namun, kemudahan ini harus diikuti dengan pemahaman yang baik dan kritis mengenai keamanan digital. Pengguna harus tahu cara menjaga data pribadi, membedakan platform yang legal dan ilegal, serta mengenali modus kejahatan siber yang kian kompleks,” ujar Riady.
Riady juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah panik saat menerima pesan mencurigakan yang mengatasnamakan OVO Finansial. Menurutnya, kepanikan sering dimanfaatkan pelaku fraud untuk menipu pengguna layanan digital.
“Kami mendorong masyarakat untuk selalu skeptis terhadap komunikasi yang tidak bisa diverifikasi asal-usulnya. Jangan sampai kepanikan justru dimanfaatkan oleh pelaku fraud untuk menipu pengguna,” tambahnya.
Dari sisi akademik, Dosen FEB UNS Dila Maghrifani menilai kampus memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis mahasiswa di tengah berkembangnya budaya transaksi nontunai.
“Literasi keuangan digital tidak hanya berbicara tentang kemampuan menggunakan aplikasi atau layanan digital, tetapi juga memahami risiko, menjaga data pribadi, dan mengambil keputusan secara rasional. Jangan sampai kemudahan transaksi digital ini malah membuat kita terjebak boros hanya demi mengejar gengsi atau tren sesaat,” ujar Dila.
Sementara itu, Financial Planner Debora Aprianita menekankan pentingnya membangun kebiasaan finansial sehat sebelum menggunakan layanan pendanaan digital.
“Sebelum menggunakan layanan pendanaan digital, anak muda perlu bertanya pada diri sendiri: apakah ini kebutuhan, apakah mampu membayar kembali, dan apakah layanan yang digunakan legal serta terpercaya. Literasi finansial yang baik akan membantu mereka memanfaatkan layanan digital secara lebih bijak,” jelas Debora.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Inter Miami dikabarkan selangkah lagi merekrut Casemiro dengan status bebas transfer untuk bermain bersama Lionel Messi di MLS.
Gelombang gugur massal landa wakil Indonesia di 16 besar Malaysia Masters 2026. Jonatan Christie (jojo) jadi satu-satunya harapan tersisa di perempat final.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa konfirmasi batal berangkat haji 2026 bersama keluarga. Tegaskan bukan karena perintah Presiden Prabowo.
Duta Besar Belanda Marc Gerritsen sangat terkesan dengan pengalaman bersepeda menyusuri pedesaan di sekitar Candi Prambanan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Timnas Kongo batalkan TC di Kinshasa jelang Piala Dunia 2026 akibat wabah virus Ebola jenis Bundibugyo. Skuad Desabre langsung dialihkan ke Eropa.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)