Update Korban Gempa NTT M7,7: 53 Orang Meninggal, 137 Terluka
BNPB mencatat 53 orang meninggal dan 137 terluka akibat gempa M7,7 NTT. Sebanyak 5.659 warga mengungsi hingga Minggu.
Ilustrasi Buku/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA—Pelestarian manuskrip Nusantara tidak dapat dilepaskan dari ekosistem sosial-budaya yang melingkupinya. Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa ketahanan manuskrip sebagai warisan budaya tidak hanya bergantung pada upaya dokumentasi atau digitalisasi, tetapi juga pada keberlanjutan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Periset PR MLTL BRIN, Agus Iswanto, mengungkapkan temuan penelitiannya terkait tradisi pembacaan manuskrip ruwatan di Jember, Jawa Timur. Dalam tradisi tersebut, manuskrip justru mampu bertahan karena terus digunakan dalam praktik ritual yang diwariskan lintas generasi.
“Manuskrip ini tidak bisa digantikan oleh cetakan atau digital. Untuk ruwatan, syaratnya harus naskah tulis tangan beraksara Pegon dan dibaca dalam ritual,” kata Agus dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Menurut Agus, kekuatan tradisi manuskrip terletak pada ekosistem yang utuh dan saling terhubung. Ekosistem tersebut mencakup penyalin naskah, pembaca, peruwat, tuan rumah penyelenggara ritual, hingga audiens yang menjadi bagian dari praktik budaya tersebut.
Ia menegaskan bahwa digitalisasi tetap memiliki peran penting dalam upaya pelestarian, namun tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi untuk menjaga keberlanjutan manuskrip sebagai tradisi hidup.
“Tidak semua budaya manuskrip bisa diselamatkan hanya dengan digitalisasi. Ekosistem sosial-budaya masyarakatlah yang menentukan,” ujarnya menegaskan.
Pandangan serupa disampaikan Peserta Program Doktoral Riset BRIN/Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) Universitas Indonesia, Muh. Heno Wijayanto. Ia menilai manuskrip kerap disalahpahami sebagai artefak statis yang terlepas dari konteks sosial dan praktik budaya.
Dalam kajiannya mengenai transformasi ritual lewatan di Jawa Tengah melalui teks Bhima Swarga, Heno menemukan bahwa ketahanan manuskrip tersebut justru terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan perubahan zaman dan sistem kepercayaan.
“Manuskrip seharusnya dilihat sebagai tradisi yang hidup, melibatkan praktik tulis, ritual, dan pendidikan yang terus berlanjut. Kunci resiliensinya adalah adaptasi. Tradisi bertahan bukan karena utuh, tetapi karena mampu memberi makna baru bagi masyarakatnya,” urai Heno.
Sementara itu, Peneliti Budaya sekaligus Assistant Professor dari Universitas Leiden, Belanda, Verena Meyer, menyoroti paradoks dalam praktik pelestarian warisan tekstual. Ia mengkritisi kecenderungan yang lebih mengutamakan teks tua sebagai artefak “asli” dibandingkan tradisi manuskrip yang masih hidup di tengah masyarakat.
Menurut Verena, digitalisasi memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi membantu penyelamatan teks, namun di sisi lain berpotensi mencabut manuskrip dari ekosistem sosial yang memberi makna pada keberadaannya.
“Digitalisasi membantu, tetapi juga bisa mencabut teks dari ekosistem yang memberinya makna. Arsip digital pada dirinya sendiri belum merupakan ekosistem tempat tradisi bisa hidup,” ucap Verena Meyer.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BNPB mencatat 53 orang meninggal dan 137 terluka akibat gempa M7,7 NTT. Sebanyak 5.659 warga mengungsi hingga Minggu.
Kisah Muhammad Ali Taher, pengusaha Palestina yang menyerahkan seluruh hartanya untuk membantu Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari Belanda.
Investasi langsung perusahaan Jerman di AS anjlok hampir dua pertiga secara tahunan menjadi hanya €4,3 miliar di semester I 2026—level terendah sejak 2023. Kebi
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi industri keuangan di DIY untuk memperkuat peran sektor jasa keuangan dalam mewujudkan
Indonesia bukan satu-satunya negara yang merdeka di bulan Agustus. India (15/8), Malaysia (31/8), Korea (15/8), hingga Ukraina (24/8) juga rayakan kemerdekaan d
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melepas keberangkatan 16 personel gabungan dan ribuan paket bantuan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Provinsi NTT