Survei Segara Research: 73,8% Ojol Gabung karena Tak Dapat Kerja Formal

Newswire
Newswire Jum'at, 02 Oktober 2026 22:27 WIB
Survei Segara Research: 73,8% Ojol Gabung karena Tak Dapat Kerja Formal

Massa yang tergabung dalam Koalisi Ojol Nasional (KON) berunjuk rasa di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (29/8/2024). Kemenkominfo berkomitmen untuk mencari solusi yang adil dan akan segera bertemu dengan aplikator untuk membahas tuntutan pengemudi ojek daring dan kurir. ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/rwa.

Harianjogja.com, JAKARTA—Sebanyak 73,8 persen pengemudi ojek online (ojol) bergabung sebagai pekerja gig atau pekerja berbasis platform digital karena tidak mendapatkan pekerjaan formal. Temuan tersebut berdasarkan survei Segara Research Institute terhadap 506 pekerja gig di lima kota di Indonesia.

Survei yang dilakukan pada Agustus-September 2026 tersebut mencakup responden di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Dari total responden, sebanyak 175 orang merupakan mitra pengemudi ojol dan taksi daring.

Segara Research Institute merilis hasil survei tersebut di Jakarta, Jumat (2/10/2026). Secara keseluruhan, sebanyak 40,3 persen responden mengatakan memilih pekerjaan gig karena tidak mendapatkan pekerjaan formal.

Sementara itu, 57,3 persen responden mengaku tidak pernah bekerja di sektor formal. Temuan tersebut menunjukkan pekerjaan berbasis platform menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap lapangan kerja formal.

Pekerjaan Gig Jadi Sumber Penghasilan

Pekerja gig dalam survei tersebut mencakup berbagai jenis pekerjaan berbasis platform digital. Kelompok ini antara lain pekerja lepas atau freelancer, pengemudi ojek online, kurir logistik, penjual jasa melalui platform digital, hingga kreator konten.

Pada kelompok pengemudi ojol, sebanyak 22,1 persen responden tercatat pernah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang yang perlu diperhatikan dalam melihat posisi pekerjaan gig sebagai sumber penghasilan.

Segara mencatat pekerjaan gig menjadi salah satu alternatif penghasilan bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal. Selain memberikan akses terhadap penghasilan, fleksibilitas waktu menjadi salah satu karakteristik yang paling banyak disebut oleh responden.

Sebanyak 88,1 persen responden menyebut fleksibilitas waktu sebagai keunggulan pekerjaan gig. Pada kelompok mitra pengemudi ojek daring, persentasenya bahkan mencapai 95 persen.

Pola penghasilan dari pekerjaan gig juga tidak sepenuhnya sama pada setiap pekerja. Sebanyak 81,6 persen responden menjadikan pekerjaan gig sebagai sumber penghasilan utama.

Di sisi lain, 32,4 persen responden menjalankan lebih dari satu pekerjaan gig. Sebanyak 18,4 persen lainnya masih memiliki pekerjaan formal di samping menjalankan pekerjaan berbasis platform.

Tantangan Ojol Usia 45 Tahun ke Atas

Survei Segara juga menemukan adanya kelompok pengemudi ojol yang berusia 45 tahun ke atas. Sebanyak 23,3 persen mitra ojek daring dalam survei berada pada kelompok usia tersebut.

Menurut Segara, kelompok pekerja tersebut menghadapi tantangan relatif lebih besar untuk kembali masuk ke pasar kerja formal. Karena itu, karakteristik pekerja gig dinilai perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam merancang kebijakan terkait pekerjaan berbasis platform digital.

Ekonom Segara Research Institute YB Kadarusman mengatakan karakter pekerja gig penting diperhatikan dalam penyusunan kebijakan. Hal itu karena platform digital selama ini menjadi salah satu pintu masuk bagi masyarakat yang membutuhkan sumber penghasilan utama maupun tambahan.

“Kita ingin memberikan perlindungan, tetapi kalau desain perlindungannya membuat jumlah orang yang bisa mendapatkan pekerjaan menjadi jauh lebih sedikit, maka dampaknya terhadap masyarakat juga harus dihitung,” ujarnya.

Temuan survei tersebut memperlihatkan beragamnya latar belakang masyarakat yang masuk ke sektor pekerjaan gig. Selain menjadi pilihan bagi mereka yang belum memperoleh pekerjaan formal, pekerjaan berbasis platform juga digunakan sebagai sumber penghasilan utama maupun tambahan.

Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa fleksibilitas menjadi salah satu alasan penting bagi pekerja gig, khususnya mitra pengemudi ojol. Pada saat yang sama, keberadaan pekerja yang sebelumnya pernah mengalami PHK maupun mereka yang belum pernah masuk sektor formal menjadi bagian dari karakteristik tenaga kerja berbasis platform digital.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online