Beras Ilegal Masuk Indonesia, Amran: Ini Musuh Negara
Amran Sulaiman menegaskan beras ilegal harus diberantas karena merugikan 115 juta petani dan berpotensi mengganggu swasembada pangan.
Donald Trump - Antara
Harianjogja.com, JOGJA—Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai titik kritis setelah Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan militer. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan menyusul dinamika diplomasi, kendala kesiapan militer, serta penolakan dari sejumlah sekutu utama di kawasan Timur Tengah.
Laporan Axios pada Minggu (18/1) mengungkapkan bahwa situasi sempat berada dalam kondisi yang sangat genting. Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut militer telah bersiaga penuh dan mampu bertindak cepat apabila perintah diberikan.
“Situasinya sangat genting. Militer berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu dengan sangat cepat,” ujar pejabat AS tersebut, menggambarkan kesiapan tinggi yang sempat terbangun.
Sejumlah pemerintahan di kawasan Timur Tengah bahkan telah memperkirakan operasi militer akan diluncurkan tak lama setelah pertemuan pada hari Selasa. Namun, hingga waktu berlalu, perintah serangan yang dinantikan tidak pernah dikeluarkan.
Trump diketahui sempat mempersempit pilihan serangan terhadap target Iran. Meski demikian, berbagai komplikasi yang muncul membuat Presiden AS tersebut bersikap ragu dan menunda pengambilan keputusan final.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi pembatalan rencana serangan adalah pergeseran aset militer Amerika Serikat ke kawasan Karibia dan Asia. Kondisi ini menyebabkan kesiapan di Timur Tengah dinilai tidak memadai, dengan sejumlah pejabat menyebut bahwa “wilayah tersebut belum siap” untuk mendukung operasi berskala besar.
Di sisi lain, diplomasi rahasia turut memainkan peran penting. Pertukaran pesan antara utusan AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi disebut menjadi titik balik. Pada Rabu pagi, Araghchi dilaporkan mengirimkan pesan kepada Witkoff yang berisi komitmen untuk menghentikan pembunuhan serta membatalkan eksekusi terhadap para demonstran yang telah dijadwalkan.
Tekanan juga datang dari sekutu dekat Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan memperingatkan Trump bahwa Israel belum siap menghadapi kemungkinan pembalasan dari Iran. Netanyahu juga menilai rencana militer AS yang diajukan tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menjamin keberhasilan tanpa risiko besar.
Kekhawatiran serupa disampaikan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Ia menyatakan kecemasan mendalam terkait potensi dampak eskalasi konflik terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Pada Rabu sore, menurut para pejabat AS, semakin jelas bahwa perintah serangan tidak akan dikeluarkan, sekaligus menandai berakhirnya fase paling tegang dalam krisis tersebut.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyuarakan dukungannya terhadap para demonstran di Iran dan melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Teheran atas penanganan unjuk rasa yang pecah sejak 28 Desember, yang dipicu oleh tekanan ekonomi.
Presiden AS itu juga sempat mengisyaratkan bahwa opsi militer akan ditempuh apabila pemerintah Iran merespons demonstrasi dengan penggunaan kekuatan mematikan terhadap warga sipil, sebuah pernyataan yang sempat memicu kekhawatiran luas di tingkat global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Amran Sulaiman menegaskan beras ilegal harus diberantas karena merugikan 115 juta petani dan berpotensi mengganggu swasembada pangan.
Performa Intel Core Ultra, keamanan kelas bisnis, dan ketahanan MIL-STD-810H dalam laptop kerja yang ringan dan terjangkau untuk profesional
KRI Sriwijaya-100 resmi masuk TNI AL. Kapal induk ini siap menjalankan tugas negara, terutama misi kemanusiaan dan OMSP.
Hukuman Nadiem Makarim dalam kasus korupsi Chromebook diringankan menjadi 9 tahun. Uang pengganti turun menjadi Rp548,76 miliar.
FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi ujian John Herdman bersama Timnas Indonesia setelah hasil Piala AFF sebelumnya belum memuaskan.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menggelar Mitra Gathering dan Pameran Budaya 2026 sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-64 Duta Wacana.