Kamu Lulusan SMA/SMK dan Ingin Kerja di Dunia Penerbangan? Ada Info Menarik nih!
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Tembok pembatas stadion mini Padang Lekat Kepahiang Bengkulu ambruk dalam sekejap karena terhempas angin helikopter yang membawa rombongan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (19/7/2023). /Instagram
Harianjogja.com, JOGJA—Robohnya tembok stadion di Bengkulu karena hempasan angin helikopter rombongan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuai sorotan warganet. Mereka tak habis pikir tembok tersebut seketika ambruk padahal biaya pembangunannya menelan Rp700 juta.
Insiden ini membuat warganet mengira ada hal yang tidak beres dari proyek pembangunan tembok pembatas stadion mini Padang Lekat Kepahiang Bengkulu tersebut.
"oknum" ni kerja bener sedikit gabisa ya?" tulis salah satu warganet dalam kolom komentar di postingan Instagram @uncover.id, dikutip Harianjogja.com, Kamis (20/7/2023).
Akun @uncover.id membuat unggahan dengan menyindir apakah pemerintah Provinsi Bengkulu akan menyalahkan angin atas insiden tersebut. Di sisi lain, netizen menyoroti kualitas bangunan yang diklaim menghabiskan dana hingga ratusan juta. Mereka mempertanyakan struktur tembok yang tidak kuat.
"Kocak yang nyalahin Jokowi sama helikopternya, 700 juta tembok kaya triplek gitu berapa duit, sisanya kemana?," komentar seorang netizen.
Baca juga: Kepala Dinas Krido Tersangka Tanah Kas Desa, Sultan Jogja: Dia Tega, Saya Juga Tega
"Kena angin begitu roboh. Ini tembok dari batu bata atau terpal?" sindir netizen lain.
Ada pula yang mengagumi cara Presiden Jokowi dalam memantau buruknya proyek pembangunan daerah di Tanah Air. "Kerennya pak jokowo tiap kunjungan tau harus lewat mana kemarin ke Lampung jalan udah dibenerin lewat jalan lain yg masih ancur, sekarang kepahiang tau ada proyek stadiun yg menelan anggaran fantastis tapi hasil jauh dari kata berkelas dan berkualitas WKWKWKWK dibuat publik menilai soalnya pemerintah gak bisa ikut campur proyek daerah yg biasa disebut sistem desentralisasi ayo rakyat Kepahiang jangan diam aja kalian harus melek dengan otonomi daerah sendiri soalnya itu uang hasil pajak kalian wkwk," kata salah satu akun.
Sebelumnya diberitakan bahwa tembok pembatas stadion mini Padang Lekat Kepahiang Bengkulu ambruk dalam sekejap karena terhempas angin helikopter yang membawa rombongan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (19/7/2023). Peristiwa itu menjadi sorotan publik karena tembok yang baru saja dibangun itu menelan biaya Rp700 juta.
Jokowi tiba di Bengkulu untuk melakukan kunjungan kerja. Helikopter yang membawa rombongan pengawal presiden adalah jenis Puma AS-332L2.
Robohnya tembok ini pun menyita perhatian Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kepahiang Teddy Adeba. Ia menyayangkan tembok stadion yang dibangun dengan anggaran ratusan juta itu roboh saat helikopter rombongan Presiden Jokowi tiba.
"Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Stadion sepak bola mini tersebut merupakan sarana olahraga yang baru saja dibangun tahun lalu dengan anggaran mencapai Rp700 juta dari APBD Provinsi Bengkulu. Namun, belum sempat dihibahkan, sudah mengalami kerusakan akibat insiden ini," kata Teddy dalam keterangan resminya, dikutip dari Bisnis.com-jaringan Harianjogja.com.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Instagram, Bisnis.com
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Timnas Kongo batalkan TC di Kinshasa jelang Piala Dunia 2026 akibat wabah virus Ebola jenis Bundibugyo. Skuad Desabre langsung dialihkan ke Eropa.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Tiga proyektor SD Negeri 1 Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul hilang dicuri. Polisi masih selidiki kasus dengan kerugian mencapai Rp10 juta.
petugas mengamankan seorang pria berinisial MAR, warga Magelang, yang diduga berperan sebagai pengedar narkotika.
Niat mulia masyarakat untuk mengangkat anak perlu dibarengi dengan pemahaman terhadap prosedur dan ketentuan yang berlaku agar hak-hak anak tetap terlindungi se