Kementan Targetkan Pembangunan 5 Kawasan Peternakan Terintegrasi Rampung 2027
Kementan menyiapkan anggaran Rp17 triliun untuk ekosistem peternakan terintegrasi. Lima kawasan ditargetkan rampung pada 2027.
Ilustrasi/badanwakafindonesia.com
Bisnis.com, JAKARTA – Pemahaman masyarakat terhadap wakaf dinilai masih rendah. Sejauh ini yang banyak tersosialisasikan hanya zakat, infak, dan sedekah.
Badan Wakaf Indonesia (BWI) menyebut permasalahan utama wakaf di Indonesia berakar pada tingkat literasi dan pemahaman masyarakat. Pasalnya, kondisi wakaf yang terjadi di Indonesia belum sepenuhnya berjalan dengan efisien.
“Tantangan yang dihadapi perwakafan kita itu tidak lain adalah literasi atau pemahaman terhadap perwakafan. Kira-kira sekitar 50 persen tingkat pemahaman pengetahuan atau literasi baru sampai ke pengetahuan,” kata Ketua Badan Pelaksana BWI, Prof Mohammad Nuh di Bogor, Jumat (8/4/2022).
Untuk itu, Nuh berharap media sebagai garda pemberitaan memiliki peran lebih besar untuk mendongkrak literasi wakaf ke masyarakat. Dengan demikian, akan muncul wakif-wakif baru yang turut dalam memajukan dan mengembangkan perwakafan guna mencapai kemartabatan dan kesejahteraan umat di Indonesia.
Baca juga: Masih Ada LAZ Belum Berizin di DIY
Di sisi lain, Ketua Forum Pemred Arifin Asydhad menilai isu perwakafan yang beredar di media massa tidak mengangkat isu-isu yang menarik dan cenderung monoton. Hal inilah yang semakin menjadi bukti nyata adanya tantangan perwakafan.
“Memang tidak mudah dalam ekosistem media, kita berada dalam ekosistem media yang tidak kita inginkan. Dengan adanya platform global masuk, maka media mengalami perubahan,” tuturnya.
Belum Tersosialisasikan
Sementara itu, cendekiawan muslim Azyumardi Azra menilai bahwa selama ini yang lebih tersosialisasi di masyarakat Indonesia adalah zakat, infak, dan sedekah (ZIS), sedangkan WAF yang merupakan wakaf dinilai belum tersosialisasikan secara luas.
“Kita coba bangun komitmen atas kesadaran bahwa wakaf adalah sesuatu yang sangat dahsyat, apabila dipotret kedahsyatannya sangat luar biasa,” ujar anggota divisi Humas, Sosialisasi, dan Literasi Wakaf BWI, Susono Yusuf.
Dia pun memberikan contoh pada Bank Wakaf Mikro (BWI), yakni lembaga keuangan mikro syariah yang bertujuan untuk memberdayakan usaha mikro kecil di sekitar lingkungan pesantren. Upaya ini dilakukan dengan pola pendampingan yang diharapkan dapat mendorong ekonomi masyarakat.
Hal ini sejalan dengan harapan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin yang menyatakan BWM harus dikelola secara baik dan profesional agar terjaga keberlangsungannya, serta kapasitasnya dapat dikembangkan.
“Amanah yang diberikan harus dijaga. Modal awal harus dapat dikembangkan bukan justru dihabiskan. Jadi, jangan dikasih modal, habis. Ini penting untuk menjaga kepercayaan dan nama baik pesantren, termasuk kredibilitas pemda setempat,” pesan Wapres, dikutip Jumat (8/4/2022).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Kementan menyiapkan anggaran Rp17 triliun untuk ekosistem peternakan terintegrasi. Lima kawasan ditargetkan rampung pada 2027.
PSS Sleman kalah 1-2 dari Borneo FC setelah Stefan Ashkovski mendapat kartu merah. Pieter Huistra menilai insiden itu mengubah dinamika pertandingan.
Kelurahan Cokrodiningratan mengajak 60 KK mengolah sampah organik lewat budi daya manggot yang menghasilkan 50–70 kg setiap dua minggu.
DPRD DIY menyempurnakan Raperda Penanggulangan Bencana sesuai masukan Kemendagri untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan daerah.
Jogja Expo 2026 di JEC Bantul mencatat potensi perputaran ekonomi lebih dari Rp25 miliar dengan 121 tenant dan 5.382 peserta.
Jumlah pedagang di 32 pasar rakyat Sleman turun 297 orang. Disperindag menyebut faktor usia, kesehatan, regenerasi, dan tekanan ekonomi.