Kementan Targetkan Pembangunan 5 Kawasan Peternakan Terintegrasi Rampung 2027

Rika Anggraeni
Rika Anggraeni Minggu, 27 September 2026 18:17 WIB
Kementan Targetkan Pembangunan 5 Kawasan Peternakan Terintegrasi Rampung 2027

Ilustrasi peternakan ayam broiler. - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan anggaran sekitar Rp17 triliun untuk membangun ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir di sejumlah wilayah Indonesia. Pada tahap awal, pemerintah menargetkan lima kawasan peternakan rampung pada 2027.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan ekosistem tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan.

Pengembangan tersebut secara khusus diarahkan untuk memperkuat ketersediaan komoditas ayam, telur, dan susu. Pemerintah menyiapkan sejumlah mata rantai produksi agar sektor peternakan dapat berjalan dalam ekosistem yang terintegrasi.

“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” kata Amran dalam keterangan tertulis, dikutip pada Minggu (27/9/2026).

Lima Kawasan Peternakan

Lima kawasan yang menjadi tahap awal pengembangan ekosistem peternakan berada di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo.

Untuk pembangunan di lima kawasan tersebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp2,2 triliun. Anggaran tersebut merupakan bagian dari total anggaran sekitar Rp17 triliun yang dipersiapkan untuk pengembangan ekosistem peternakan.

“Anggarannya sudah turun, beliau [Presiden Prabowo Subianto] sudah tanda tangan Rp2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp17 triliun, tetapi bukan di sini saja,” ujarnya.

Amran menargetkan pembangunan lima kawasan tersebut selesai pada tahun depan. Pemerintah juga telah menyelesaikan proses administrasi dan penganggaran untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan.

“Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” lanjutnya.

Integrasi Pakan hingga Produksi Susu

Ekosistem peternakan yang dibangun nantinya mencakup sejumlah mata rantai produksi. Mulai dari pabrik pakan, produksi day old chick (DOC), peternakan ayam, telur, hingga sapi perah dan produksi susu.

Konsep tersebut ditujukan untuk memangkas rantai pasok sekaligus menekan biaya distribusi bahan baku pakan. Salah satu caranya dengan memanfaatkan produksi jagung dari daerah yang berada di sekitar kawasan peternakan.

Menurut Amran, pola tersebut akan lebih efisien dibandingkan jagung dari sentra produksi dikirim ke wilayah lain untuk diolah menjadi pakan, kemudian pakan tersebut kembali dikirim ke daerah peternakan.

Dengan integrasi dari hulu hingga hilir, pemerintah berharap rantai produksi dan distribusi dapat berjalan lebih efisien.

Produksi Peternakan Terhubung Program MBG

Pada sisi hilir, pemerintah juga akan mengintegrasikan hasil produksi peternakan dengan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program tersebut akan menjadi penyerap atau offtaker bagi sejumlah produk peternakan, termasuk ayam, telur, dan susu.

“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi offtaker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” ucapnya.

Amran menambahkan pengembangan peternakan sapi perah dan produksi susu juga menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Langkah itu ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Salah satu kawasan yang disiapkan berada di Bone dengan luas lahan sekitar 150 hektare. Kawasan tersebut diharapkan dapat mendorong aktivitas ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online