KPK Dalami Aliran Rp106,3 Miliar yang Diduga ke Nusron Wahid
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Muhadjir Effendy/Antara
Harianjogja.com, JAKARTA--Stunting atau tubuh pendek karena kekurangan gizi kronis dituding penyebab sumber daya manusia (SDM) Indonesia rendah.
Bonus demografi membuat Indonesia memiliki angkatan kerja yang banyak. Masalahnya, tidak semua angkatan kerja memiliki kualitas yang setara.
Dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2020, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan 5 program kerja prioritas pemerintah yang mengutamakan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Salah satu isu yang sedang disorot dan terkait dengan SDM adalah persoalan stunting.
Disinggung pula oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy di kesempatan yang sama, bahwa SDM di Indonesia berkualitas rendah karena 54 persen dari usia produktif 18 sampai 65 tahun adalah mantan stunting.
"Angkatan kerja kita 54 persennya mantan stunting. Inilah penyebab kenapa Sumber Daya Manusia (SDM) kita rendah kualitasnya," paparnya di Gedung JIExpo Kemayoran, Rabu (19/2/2020).
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Stunting pada anak bisa dilihat dari ukuran tubuhnya yang lebih pendek dari anak seusianya. Meski anak stunting dipastikan berukuran pendek, tetapi anak pendek tidak selalu stunting.
Muhadjir menjelaskan untuk menghilangkan stunting maka target yang disasar adalah dari seribu hari kehidupan awal manusia, yakni masa prenatal dan masa pemberian ASI. Inilah faktor yang menentukan keberhasilan zero stunting di usia kerja.
Hingga bulan September 2019, tercatat ada 1.968.800 orang yang berada di usia kerja 15-65 tahun. Total keseluruhan angkatan kerja ada 136 juta dan dari angkatan kerja tersebut ada yang menganggur sekitar 7 juta.
"Jadi pemerintah punya PR membuat 7 juta lapangan kerja. Karena terdapat lulusan SMA jadi kita punya setiap tahun melahirkan lulusan SMK dan SMA sebanyak 3 juta pertahun. Jadi kira-kira dibutuhkan 11 juta lapangan kerja,” jelasnya lagi.
Menurutnya, tidak ada pilihan lain dari pemerintah harus menyiapkan lapangan kerja. Karena tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara maju dan berdaya saing tinggi apabila masih ada 7 juta orang yang menganggur.
"Terciptanya lapangan kerja itu dari adanya investasi. Salah satu investasinya adalah memiliki SDM yang unggul dan sehat. Stunting ini faktor yang menentukan, kalau bisa zero stunting, tentu SDM kita lebih baik," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Dishub Sleman menata parkir Lapangan Beran Tridadi dengan tarif Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 bagi mobil saat non-event.
Daftar pemenang MTV VMAs 2026 lengkap. Madonna meraih tujuh piala, sedangkan Taylor Swift mencetak rekor baru dalam sejarah VMA.
Kemenimipas mengungkap hasil investigasi temuan Ombudsman di Lapas Cibinong. Lima pejabat struktural dinonaktifkan terkait peristiwa tersebut.
Siaga darurat kekeringan Bantul diperpanjang hingga akhir 2026. Sebanyak 752 tangki air telah disalurkan ke 12.186 jiwa.
Progres Bendungan Jragung mencapai 97% dan ditargetkan selesai Desember 2026 untuk menopang irigasi 4.500 hektare sawah.