Trump Tolak Tawaran Iran, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Newswire
Newswire Senin, 28 September 2026 13:27 WIB
Trump Tolak Tawaran Iran, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga minyak dunia melonjak pada pembukaan perdagangan di Asia, Senin (28/9/2026) pagi, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak tawaran damai Iran. Harga minyak mentah Brent menembus US$106 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga menguat.

Dilansir dari CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 1,8% menjadi US$106,31 per barel. Adapun harga minyak mentah WTI meningkat 1,3% ke level US$93,62 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah, khususnya setelah Iran menawarkan opsi damai kepada AS. Proposal tersebut ditujukan untuk mengakhiri konflik di kawasan sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, tawaran Iran itu ditolak Trump. Presiden AS tersebut justru berencana kembali menyerang Iran setelah pemilihan umum paruh waktu pada November 2026 mendatang.

"Mereka [Iran] mengajukan usulan tetapi saya menolaknya," kata Trump.

Iran Tawarkan Selat Hormuz Dibuka dalam 7 Hari

Sebelumnya, Iran mengajukan kesepakatan kepada AS yang membuka peluang normalisasi pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.

Penutupan jalur strategis tersebut telah mengguncang arus energi dunia dan memicu volatilitas harga minyak serta gas. Karena itu, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu bagian penting dalam proposal Iran kepada AS.

Melansir BBC, Sabtu (26/9/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Selat Hormuz dapat kembali dibuka dalam waktu sepekan apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan.

Menurut Araghchi, ketentuan tersebut sebenarnya telah tercantum dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding yang diteken kedua negara pada Juni.

"Tergantung Amerika Serikat sekarang," kata Araghch.

Proposal Iran tersebut telah disampaikan kepada AS melalui Qatar. Namun, Araghchi tidak merinci langkah yang harus diambil Washington untuk merealisasikan kesepakatan tersebut.

Dia menegaskan tuntutan Iran bukan persyaratan baru. Seluruh tuntutan tersebut, menurutnya, telah tercantum dalam nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati.

"Jika persyaratan yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali dan pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari," ujarnya.

Iran Tunggu Respons AS

Di tengah proposal pembukaan kembali Selat Hormuz tersebut, delegasi Iran tidak berencana menggelar putaran perundingan baru dengan perwakilan Amerika Serikat (AS) di New York.

Kantor berita IRNA melaporkan informasi tersebut dengan mengutip seorang sumber. Sebelumnya, pada Rabu (23/9), Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan perwakilan negaranya telah berkomunikasi dengan pihak AS melalui Qatar di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada Selasa sebelumnya.

“Tidak ada rencana untuk putaran pembicaraan baru dengan pihak AS dalam agenda perwakilan Iran. Menteri luar negeri akan kembali ke Iran pada Selasa (29/9) setelah menyelesaikan agenda yang telah dijadwalkan,” kata sumber tersebut kepada IRNA.

Meski tidak ada rencana putaran perundingan baru, sumber tersebut mengatakan Iran masih menunggu tanggapan dari AS terkait proposal yang telah disampaikan.

Perkembangan tawaran damai Iran dan penolakan Trump tersebut menjadi perhatian pasar energi karena berkaitan langsung dengan Selat Hormuz, jalur strategis yang berperan penting dalam arus energi dunia. Ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur tersebut turut menjadi latar belakang pergerakan harga minyak pada perdagangan Senin (28/9/2026).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online