27 Orang Tewas dalam Dua Penembakan Massal di Afrika Selatan

Jumali
Jumali Senin, 28 September 2026 10:47 WIB
27 Orang Tewas dalam Dua Penembakan Massal di Afrika Selatan

Ilustrasi. /freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Sedikitnya 27 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam dua penembakan massal terpisah yang terjadi hanya dalam hitungan jam di Afrika Selatan pada akhir pekan lalu. Kepolisian masih memburu para pelaku dan menyelidiki motif di balik dua serangan tersebut.

Penembakan pertama terjadi pada Sabtu malam di sebuah kedai minuman atau tavern di kawasan Wedela, Distrik West Rand, dekat Johannesburg. Delapan pria tak dikenal yang membawa pistol dan senapan serbu AK-47 melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang berada di dalam maupun di luar kedai.

Selain menembaki pengunjung, para pelaku juga menggeledah sejumlah orang dan merampas ponsel mereka. Mereka kemudian membakar dua kendaraan sebelum meninggalkan lokasi kejadian.

Serangan di Wedela tersebut menewaskan 17 orang yang terdiri atas 13 pria dan empat perempuan. Sebanyak 15 orang lainnya mengalami luka-luka dan mendapat penanganan setelah kejadian.

Komisioner Kepolisian Gauteng, Letjen Tommy Mthombeni, mengatakan mayoritas korban merupakan warga negara Afrika Selatan. Namun, terdapat pula warga negara Ethiopia dan Lesotho yang menjadi korban dalam penembakan tersebut.

Kepolisian menduga perampokan menjadi salah satu latar belakang penembakan di Wedela. Meski demikian, polisi juga tidak menutup kemungkinan serangan tersebut berkaitan dengan persaingan antarkelompok yang terlibat dalam aktivitas pertambangan ilegal.

Deputi Komisioner Kepolisian Provinsi, Mayjen Fred Kekana, menyampaikan dugaan lain mengenai serangan tersebut. Menurut dia, penembakan kemungkinan merupakan aksi balas dendam atas insiden pada bulan sebelumnya yang menyebabkan satu orang tewas dan satu lainnya terluka.

Polisi mengaku telah mengantongi foto serta sejumlah nama yang diduga berkaitan dengan pelaku penembakan. Hingga Minggu pagi, pengejaran terhadap mereka masih berlangsung.

Penembakan Kedua Terjadi di Lwandle

Beberapa jam setelah penembakan di Wedela, serangan bersenjata kembali terjadi di Afrika Selatan. Kali ini, penembakan berlangsung pada Minggu dini hari di sebuah tempat hiburan di kawasan Lwandle, township yang berada dekat Cape Town.

Para pelaku yang membawa senjata api masuk ke tempat hiburan tersebut dan melepaskan tembakan ke arah para pengunjung. Lima orang meninggal dunia di lokasi, sedangkan lima korban lainnya meninggal setelah sempat dibawa ke rumah sakit.

Selain 10 korban meninggal, sebanyak 11 orang dilaporkan mengalami luka-luka dalam serangan di Lwandle.

Komisioner Kepolisian, Letjen Sizkhele William Dyantyi, mengatakan penyidik menduga terdapat persaingan bisnis yang melatarbelakangi penembakan tersebut.

"Tampaknya ada persaingan bisnis atau kecemburuan usaha yang menjadi pemicunya, karena orang-orang mungkin membeli alkohol di tempat yang lebih murah lalu datang dan minum di tempat ini. Namun, kami masih terus menyelidikinya," ujar Dyantyi dikutip dari AFP.

Penembakan Lain Diselidiki di Khayelitsha

Pada Sabtu malam, polisi di wilayah Western Cape juga menangani kasus penembakan lain di township Khayelitsha. Empat pria menjadi korban dalam kejadian tersebut.

Tiga korban ditemukan sudah meninggal di lokasi kejadian. Dua korban berada di dalam mobil, sedangkan satu korban lainnya ditemukan di samping kendaraan. Korban keempat meninggal ketika tiba di fasilitas medis.

Kasus di Khayelitsha tersebut menambah rangkaian kekerasan bersenjata yang sedang diselidiki kepolisian Afrika Selatan pada akhir pekan tersebut.

Polisi Belum Tangkap Pelaku

BBC melaporkan, hingga Minggu pagi, belum ada pelaku yang ditangkap terkait rangkaian penembakan massal tersebut. Kepolisian masih melakukan perburuan terhadap para tersangka sekaligus menyelidiki kemungkinan hubungan antara berbagai kasus penembakan.

Rangkaian kekerasan itu terjadi hanya beberapa hari setelah penembakan di KwaMakhutha, dekat Durban, yang menewaskan 11 orang.

Afrika Selatan menghadapi persoalan pembunuhan dalam jumlah tinggi. Rata-rata 58 hingga 60 kasus pembunuhan tercatat setiap hari di negara tersebut.

Kondisi itu berlangsung bersamaan dengan kekhawatiran mengenai kejahatan terorganisir yang melibatkan jaringan narkoba, pemerasan, hingga aktivitas penambangan ilegal.

Pada Februari lalu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyebut kejahatan terorganisir sebagai ancaman paling langsung terhadap demokrasi dan pembangunan ekonomi negara tersebut.

Sebagai bagian dari upaya menghadapi tingginya angka pembunuhan, pemerintah Afrika Selatan bahkan mengerahkan personel militer untuk mendampingi kepolisian di wilayah-wilayah dengan tingkat pembunuhan tertinggi.

Rangkaian penembakan terbaru tersebut kembali menempatkan persoalan kekerasan bersenjata dan kejahatan terorganisir sebagai perhatian dalam penanganan keamanan di Afrika Selatan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online