Direktur Lion Air: Boeing Gagal Peringatkan Pilot Kami

Pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 beregister PK-LQP di apron bandara. - Jetphotos
16 November 2018 06:05 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Petinggi Lion Air mengatakan buku manual Boeing untuk pesawat bikinan mereka B737 MAX 8 yang jatuh di Laut Jawa 13 menit setelah lepas landas dari Jakarta, sama sekali tidak mencantumkan apapun tentang fitur anyar pengaman anti-stall, sehingga diduga memicu tragedi Lion Air PK-LQP.

Direktur Operasional Lion Air Zwingli Silalahi mengatakan, buku manual yang disertakan Boeing untuk produknya 737 MAX 8 telah gagal memberikan peringatan pilot tentang potensi bahaya yang mungkin muncul dari fitur anyar yang mereka terapkan di pesawat tergres produk manufaktur asal AS itu.

“Kami sama sekali tidak mendapatkan [informasi] itu dalam manual Boeing 737 MAX 8,” kata Zwingli, seperti dikutip CNN International, Kamis (15/11/2018). “Itulah sebabnya kami tidak mendapat training khusus untuk mengatasi situasi spesifik seperti itu.”

Padahal belakangan diketahui, sistem pengamanan otomatis yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) itu, telah memicu respons menukikkan pesawat akibat anomali pada sensor Angle of Attack (AoA).

Beberapa hari lalu, FAA menerbitkan emergency Airworthiness Directives (AD) mengacu pada buletin Flight Crew Operating Manual (FCOM) dari Boeing Co., untuk disampaikan kepada otoritas penerbangan Indonesia selaku State of Register. Buletin yang dirilis sejak 6 November 2018 tersebut berjudul Uncommanded Nose Down Stabilizer Trim Due to Erroneous Angle of Attack (AoA) During Manual Flight Only. Buletin yang dalam bahasa Boeing dianggap sebagai “penegasan” itu, disampaikan kepada seluruh maskapai dan pilot agar bisa melakukan antisipasi saat terjadi hal serupa.

Laporan tersebut berisi sistem operasi manual B737 Max 8 tentang cara mengatasi situasi jika hidung pesawat tiba-tiba turun dengan sendirinya karena kesalahan data dari sensor AoA. Sensor ini memonitor sudut kemiringan ideal antara bagian depan dengan belakang pesawat untuk mencegah terjadinya kondisi stall.

Pernyataan petinggi Lion Air ini muncul sekaligus mendukung komentar yang dibuat oleh Asosiasi Gabungan Pilot Amerika atau Allied Pilots Association (APA) yang menuduh Boeing telah menyembunyikan informasi tentang potensi bahaya dalam fitur pengamanan otomatis terbaru yang ditanamkan pada B737 Max 8.

Baik Lion Air dan APA, menolak klaim Boeing yang menyatakan Buletin Boeing itu hanya untuk memperkuat atau menegaskan prosedur yang telah ada. Menurut mereka informasi dalam buletin itu adalah informasi yang sama sekali baru dan bukan penegasan.

"Mereka [Boeing] tidak memberi kami semua informasi yang kami butuhkan ketika kami menerbangkan pesawat," kata Kapten Dennis Tajer, juru bicara APA.

Menurut Zwingli, buletin Boeing juga tidak meminta para pilot agar menjalani pelatihan khusus Max 8. "Kami tidak menerima informasi apa pun dari Boeing atau dari regulator tentang pelatihan tambahan untuk pilot kami," kata Zwingli.

Zwingli mengatakan, jika nantinya hasil investigasi yang dilakukan oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Indonesia, Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS, dan Boeing menyatakan bahwa pelatihan tambahan diperlukan, pilot Lion Air akan melakukannya.

Satu demi satu fakta yang menyertai kecelakaan Lion Air JT 610 dengan registrasi PK-LQP terus bermunculan dan semakin berkembang. Terakhir, penyidik Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan sistem anti-stall tidak ada dalam manual book Boeing 737 Max 8.

Jika sebelumnya KNKT menyebut mesin pesawat tersebut masih aktif saat jatuh dan menghujam di perairan Tanjung Karawang, kali ini dugaan berkembang ke arah program pelatihan yang dilakukan Boeing terhadap pilot B 737 Max 8.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut pengakuan sejumlah pilot di Amerika Serikat yang marah karena Boeing telat menginformasikan potensi bahaya dalam fitur anti-stall mereka, bisa menjadi salah satu pertimbangan untuk melengkapi bahan investigasi. “Semua program training yang diberikan Boeing sedang kami pelajari,” kata Soerjanto.

Namun dia menegaskan perincian program pelatihan Boeing terhadap pilot yang menerbangkan B737-8 Max belum bisa diungkapkan ke publik. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga agar tidak menjadi polemik.

KNKT menyebutkan proses pelatihan pilot menjadi salah satu hal yang akan diinvestigasi termasuk yang dilakukan sebelum kecelakaan Lion Air terjadi. Bahkan, investigasi juga dilakukan sejak pesawat tersebut dibuat, bagaimana analisis keselamatan Boeing bekerja, hingga dikirimkan ke maskapai.

“Proses investigasi saat ini masih dalam tahap pengumpulan data faktual, belum analisa. Sabar dulu,” ujarnya.

Lebih dari dua pekan sejak jatuhnya Lion Air JT-610 di Perairan Karawang, KNKT terus mengintensifkan pencarian perekam suara di dalam kokpit (cockpit voice recorder/CVR) yang kemungkinan terpendam di dalam lumpur dasar Tanjung Karawang. Adapun, dari total 189 korban, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri baru bisa mengidentifikasi 92 korban.