Bimbel Adalah Tren, Tak Pede Belajar Jika Tak Ikut

Ilustrasi siswa - Reuters
10 November 2018 09:35 WIB Lajeng Padmaratri/Salsabila Annisa Azmi News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Para siswa tahun terakhir di sekolah menengah atas berlomba giat belajar untuk mengincar universitas idaman. Bimbingan belajar (bimbel) baik offline maupun online menjadi solusi mendongkrak kepercayaan diri mereka menghadapi ujian kelulusan dan kelak ujian masuk universitas.

Naufal R, 17, siswa Kelas XII sebuah SMA di Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul segera memacu sepeda motornya menuju gedung lembaga bimbingan belajar (lembijar) di Jalan Hos Cokroaminoto Jogja. Seragam sekolahnya masih melekat di badan penuh keringat setelah kegiatan sekolah hampir separuh hari. Kegiatannya kemudian berlanjut belajar lagi di lembijar hingga menjelang Matahari terbenam.

Rutinitas itu dijalani Naufal setiap hari Senin-Kamis. Diakuinya belajar dari pagi hingga petang membuatnya lelah. Namun ia merasa belum cukup belajar di sekolah.

“Aku rasa perlu ikut bimbel, ya karena di sekolah lesnya cukup fokus sampai ujian nasional saja. Persiapan SBMPTN [seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri] enggak ada. Kalau di sini [lembijar] kan bisa les sampai persiapan SBMPTN,” kata Naufal kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Soal-soal di lembijar yang selalu terdepan dibandingkan di sekolah dan tentor bimbel yang mumpuni membuat Naufal merasa bimbel meningkatkan kepercayadiriannya. Kalau tidak ikut bimbel, Naufal tak yakin mampu bersaing dengan teman-temannya yang kini hampir semuanya ikut bimbel. Siswa yang bercita-cita masuk Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada atau Institut Teknologi Sepuluh November ini harus membayar Rp8 juta per tahun untuk kelas bimbelnya.

Rasa tak percaya diri juga dialami Tsaniah M, 17, siswi sebuah SMA negeri di Kota Jogja. Ia merasa tidak yakin jika harus belajar sendiri.  “Karena butuh [bimbel]. Kayaknya enggak bisa belajar sendiri. Ikut bimbel itu membantu banget,” katanya.

Ia merasa terbantu ketika menerima tugas dari sekolah kemudian bisa mengerjakannya lewat pendampingan dari bimbel yang diikutinya. “Sebenarnya saling melengkapi. Kalau di bimbel kan misal materinya duluan, terus kami [siswa] sudah tahu, meskipun enggak tahu banget, tapi pas di pelajaran oh udah tahu jadi saling melengkapi. Soalnya kalau di pelajaran [di sekolah] doang itu kayak kurang enggak sih? Kami kayak ketinggal banget enggak sih?” ungkap Tsaniah.

Tiga kali seminggu ia berangkat ke tempat les di Kotabaru Jogja dari sekolahnya di Jalan Magelang untuk ikut bimbingan pada pukul 16.30 WIB. Selepas bimbel, ia harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk pulang ke rumahnya di Tempel, Sleman. “Kadang capek, tergantung mood juga,” ujar siswi Kelas IPA ini. Padahal setiap hari Jumat sekolahnya sudah menyediakan jam ekstra belajar selepas jam sekolah.

Gadis yang berkeinginan untuk melanjutkan di Program Studi Teknik Arsitektur UGM ini mencoba percaya diri selama belajar karena sudah dibantu lembaga bimbingan belajar. Ia tidak ingin memikirkan kemungkinan tidak lolos tes masuk perguruan tinggi. “Sempat kepengin nyoba bimbel online, karena pengen soal-soalnya itu lho. Ada pembahasannya juga, jadi nambah perbendaharaan soal,” tutur gadis berjilbab yang menyebut biaya bimbelnya mencapai Rp5,5 juta.

 

Versi Online

Tak ingin tambah stres karena berisik di kelas, Washfa Rifdah Andia, 17, siswi kelas 12 di SMA Negeri 4 Jogja memutuskan membeli paket bimbel berupa DVD aplikasi dari sebuah bimbel di Kota Jogja.  Paket DVD ini  memuat teori, latihan soal kurikulum K13, KTSP dan K13 revisi, pembahasan dan server forum diskusi siswa. Ia harus merogoh kocek Rp900.000 untuk mata pelajaran IPS.

“Kalau menurutku, aku lebih bisa paham [dengan bimbel online] bisa nerangin kapan aja di mana aja kami mau, tanpa harus kena berisik dari orang lain. Kalau di bimbel offline kan pasti lazim ya berisik kayak gitu, dan aku pun juga enggak ikut bimbel offline karena aku merasa kurang paham karena kuota kelas terlalu banyak tadi,” kata Washfa. Biasanya Washfa mengakses DVD-nya saat malam hari, seusai memanggil guru les privat ke rumahnya.

Washfa pun merasa lebih paham hingga ke akar-akar dengan video penjelasan soal yang ada di dalam DVD. Sayangnya saat server bimbel online tiba-tiba error atau down dia tidak bisa mengakses materi-materi pembelajaran melalui laptopnya.

Cara yang sama juga dilakoni kawan satu sekolah Tsaniah, Siti Mufidah. Ia memilih menggunakan bimbingan belajar online sejak Juli 2018. Siswi yang akrab disapa Ida ini berlangganan paket bimbel Ruangguru selama satu tahun dengan biaya Rp348.750. Siswi IPS ini mengaku bisa mengatur waktu belajarnya sendiri. “Biasanya pakai aplikasinya sepulang sekolah, sekitar jam lima sore sampai jam sembilan malam.”

Siswi yang ingin melanjutkan ke Program Studi Manajemen UGM ini merasa sangat terbantu karena kalau mengandalkan belajar di sekolah saja, ia belum tentu paham. “Kalau siang mesti udah enggak fokus. Gurunya juga belum tentu enak ngajarnya, jadi belum tentu paham,” katanya.

 

Uang Kembali

Kepala Cabang Ganesha Operation (GO) Jogja Dwi Fahruddin Ali Ahmad mengatakan siswa bimbel GO menggunakan diktat yang seluruh soal berasal kurikulum K13, KTSP, dan K13 revisi. "Itu cara kami mengatasi berbagai jenis soal. Buat buku banyak tentu cost-nya tinggi. Lebih baik dijadikan satu sudah komplit, siswa lebih senang," kata Dwi kepada Harian Jogja belum lama ini.

Bimbel Go juga membagi kelas berdasarkan kuota siswa dan fasilitas. Ada tiga jenis yaitu kelas reguler biayanya Rp10 juta per tahun . Jika dipangkas diskon anak guru dan diskon per bulan, biayanya bisa menjadi Rp8 Juta. Sedangkan biaya kelas eksklusif silver Rp13 juta, kelas eksklusif gold Rp14 juta dan kelas eksklusif platinum Rp20 juta per tahun.Uang kembali atau cashback apabila siswa tidak lolos di PTN hanya akan diterima oleh siswa kelas eksekutif saja sekitar 30% hingga 40%.

Jaminan uang kembali juga ditawarkan SSCI. Herbawan, Manajer Pendidikan SMA di SSCI mengatakan lembaganya hanya sebagai pelengkap, artinya sekolah sudah memberikan teori sehingga SSCI memperbanyak persentase latihan soal. SSCI menyesuaikan sekolah yang menggunakan beberapa kurikulum yang berbeda. Ada tiga program yang disediakan yaitu program silver berisi 25 siswa dengan biaya sekitar Rp4 juta, gold dengan biaya sekitar Rp6 juta dan platinum Rp16 juta. “Yang terakhir memang agak mahal karena kami ada jaminan jika nanti tidak lolos perguruan tinggi bisa kembali 50 persen biayanya. Tapi ada syaratnya dengan kehadiran les sebanyak 80 persen dan harus memilih jurusan yang sudah direkomendasikan oleh SSCI,” jelas Herbawan.

Biaya bimbel offline yang mencapai jutaan rupiah itu akan berbeda jauh jika dibandingkan biaya bimbel online. Misalnya saja Zenius Education yang memiliki Cabang di Gramedia Jogja.

Petugas Zenius Education Bagian Cabang Jogja, Nurdiana pihaknya menjual kepingan DVD berupa satuan maupun paket terkandung segala jenis soal mengacu pada kurikulum K13, KTSP, dan K13 revisi. Bentuk latihan soal berupa softfile dan penjelasan dijabarkan dalam bentuk video. Nur mengatakan dalam satu paket DVD Xpedia 2.0 terdapat latihan soal UN dan SBMPTN tahun lalu, pembahasan soal berupa video, dan juga server diskusi antar siswa. Satu paket DVD IPS dibanderol Rp900.000 sedangkan IPA dibanderol Rp1 Juta ke atas. DVD itu bisa digunakan sampai kapan pun. Caranya dengan memasukkan kepingan DVD ke laptop. "Ada juga yang pakai voucher, untuk mengakses materi pembelajaran di website. Harganya bervariasi tergantung masa berlaku voucher," kata Nur.

Harga bimbel online yang cukup terjangkau juga ditawarkan Ruangguru. Deni Arifin selaku Education Consultant Senior Lead mengatakan aplikasi belajar Ruangguru yang berjalan sejak 2014 menyediakan beberapa fitur belajar mulai dari jenjang sekolah dasar hingga persiapan SBMPTN. Untuk berlangganan selama satu semester akses fitur Ruangbelajar, pengguna Ruangguru cukup membayar sebesar Rp600.000. Sedangkan, untuk masa akses satu tahun sekitar Rp800.000. “Tapi nanti bisa kami kasih fitur premium, misal dia sudah aktif nonton video belum, ikut kuis belum,” kata Deni.

Deni menekankan Ruangguru hadir sebagai inovasi untuk memfasilitasi siswa belajar berbasis audio, visual, dan animasi yang didukung dengan rangkuman berbentuk infografis. “Siswa juga diberi rapor setiap dua minggu sekali, jadi tahu kekurangannya apa,” kata dia.