Pariwisata Indonesia Favorit Dunia, DIY Harus Bersiap

Wisatawan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. - Harian Jogja/Nina Atmasari
07 November 2018 12:25 WIB Abdul Hamied Razak News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Lonely Planet, penerbit buku panduan perjalanan dan media digital terbesar di dunia, memasukkan Indonesia dalam 10 negara terbaik untuk dikunjungi turis pada 2019. Ini adalah kesempatan bagi DIY untuk meraup keuntungan dari industri pariwisata karena Candi Borobudur termasuk wilayah favorit.

Pemeringkatan versi Lonely Planet itu diterbitkan dalam buku Best in Travel 2019 dengan kover foto Pura Ulun Danu di Bali. Buku itu diterbitkan Oktober lalu dan pemerintah Indonesia menerima penghargaan di London, Inggris, Selasa (6/11/2018).

Indonesia berada dalam posisi ketujuh dari daftar 10 negara yang mesti dikunjungi tahun depan versi Lonely Planet.

Wilayah yang sangat luas dan bentang alam yang beragam menjadi alasan utama Lonely Planet memasukkan Indonesia dalam rekomendasi mereka. Pengunjung disebut bisa menikmati berbagai budaya yang berbeda di tiap pulau, termasuk di sisi kuliner.

“Berkat investasi yang besar di koneksi udara, darat, dan laut, plus kebijakan bebas visa untuk warga negara dari 169 negara, sangat mudah untuk mengunjungi dan mengeksplorasi negara tropis ini,” demikian tulis Lonely Planet dalam laman resminya.

Beberapa destinasi wisata yang direkomendasikan di Indonesia adalah Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Gili di Nusa Tenggara Barat, Ubud di Bali, Tana Toraja di Sulawesi Selatan, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Raja Ampat di Papua Barat, dan Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah.

Secara keseluruhan, ada empat negara Asia yang terpilih, sekaligus mendominasi daftar tersebut.

Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk daftar 10 besar itu. Ini cukup mengejutkan, karena nama Thailand dan Malaysia yang selama ini menjadi pesaing justru tidak ada dalam daftar Lonely Planet.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai rekomendasi dari Lonely Planet itu sangat penting. Itu akan membantu Indonesia mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2019. “Referensi ini jelas tidak main-main. Lonely Planet adalah panduan utama bagi wisatawan mancanegara,” kata dia sebagaimana dilansir Antara, Selasa.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menerima penghargaan dari Director Client Solution Lonely Planet, Ali Teeman, di Paviliun Indonesia dalam pameran pariwisata World Travel Market (WTM) London yang berlangsung pada 5-7 November 2018.

Arief Yahya mengatakan penghargaan ini menjadi pengakuan atas semakin melesatnya pariwisata Indonesia. “Menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi Indonesia masuk dalam jajaran terbaik di dunia untuk dikunjungi,” ujar dia.

Adapun Ali Teeman mengatakan Indonesia merupakan tujuan wisata yang sangat digemari pelancong di dunia.  Gempa Bumi yang dalam beberapa bulan ini mengguncang Indonesia tak memengaruhi penilaian Lonely Planet terhadap tingkat keamanan pelesiran di Indonesia.

“Gempa baru-baru ini terjadi di beberapa bagian Indonesia yang berada di lintasan Ring of Fire. Respons atas bencana alam dilakukan dengan baik. Negara ini tetap aman bagi para wisatawan.”

Menangkap Peluang

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY Udi Sudiyanto mengatakan apa yang dirilis Lonely Planet tersebut merupakan kesempatan bagus bagi Indonesia, khususnya DIY. “Ini kesempatan bagus mengalahkan negara-negara ASEAN. Ini juga kesempatan emas agar Indonesia segera melakukan lompatan yang luar biasa,” kata dia kepada Harian Jogja, Selasa.

Meski begitu, ada tantangan yang harus disiapkan oleh para pelaku wisata di Jogja. Salah satunya dengan menyiapkan atraksi dan kreasi yang unik agar wisatawan mau berlabuh ke Indonesia. Menurutnya, tren wisatawan tahun depan lebih pada hal yang berkaitan dengan eksperimen.

“Tidak hanya eksperimen fisik, seni dan budaya, tetapi juga pada aktivitas masyarakat. Misalnya pergi ke pasar tradisional, membuat panganan tradisional dan eksperimen yang bersifat unik lainnya,” kata Udi.

Kesiapan itu harus dilakukan tidak hanya di Jogja, tetapi di seluruh daerah yang memiliki destinasi dunia. Mulai daerah Jawa, Bali, Lombok dan lainnya.

“Mereka [wisatawan] ingin terlibat kegiatan budaya dengan penduduk setempat. Bagaimana kebudayaan orang Jawa, Sunda, Bali atau Lombok. Bukan hanya seni, tetapi kehidupan sehari-hari. Mereka ingin lebih tahu itu,” ujar dia.

Asita mengharapkan destinasi wisata di setiap daerah berbenah dan memenuhi fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan dunia. “Misalnya, fasilitas toilet. Harus standar internasional. Persiapan dan penetrasi tinggal dua bulan lagi. Semua pihak harus cepat tanggap. Ketika Lonely Planet merilis itu, semua pihak juga harus mendukungnya karena ini sebuah kesempatan,” ujar Udi.

Yang tidak kalah penting, lanjut dia, adanya kemudahan dan dukungan akses para wisatawan tersebut ke Indonesia. Baginya, penerbangan internasional harus ditambah. Dia mengharapkan New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang akan beroperasi pada April 2019 mendatang bisa mempermudah akses wisatawan ke DIY. “Pemasaran dan branding wisata Jogja harus dilakukan lebih kencang lagi. Jogja harus memanfaatkan momentum ini,” ucap Udi.

Dari sekitar 160 anggota Asita DIY, 60% sudah terbiasa melayaniwisatawan asing. “Kangan sampai Indonesia masuk salah satu 10 besar destinasi wisata  yang layak dikunjungi pada 2019, tetapi kita tidak melakukan apa-apa.”

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY Aris Riyanta mengungkapkan masuknya Indonesia dalam 10 destinasi wisata favorit dunia pada 2019 mendatang harus disambut dengan optimisme yang tinggi. DIY menargetkan 600.000 kunjungan turis asing tahun depan. Jumlah itu naik tiga kali lipat daripada kunjungan wisatawan mancanegara tahun ini.

“Jadi para pelaku wisata, semuanya, harus makin solid, pintar dan cepat dalam menangkap peluang,” kata Aris saat dihubungi Harian Juga.

Sebelumnya,  Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata DIY, Arya Nugrahadi mengatakan Pemda DIY sepanjang tahun ini terus meningkatkan standar fasilitas dan amenitas yang ada di sejumlah destinasi wisata. Pada semester II 2018, ada sekitar 150 homestay yang diberi stimulus untuk menyediakan toilet duduk, pemanas air, hingga toilet difabel.

“Harapannya semua kalangan bisa terpenuhi kebutuhannya,” kata dia.

Arya mengatakan ada pembangunan dan penambahan fasilitas lainnya di sejumlah destinasi wisata. Misalnya, pengembangan akses dan sarana prasarana di Geosite Ngingrong, Gunungkidul. Pemda DIY juga fokus membangun community based tourism, yakni mendorong masyarakat di kawasan-kawasan wisata untuk memajukan daerahnya. “Semua persiapan ini dilakukan untuk menarik minat dan jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang ke DIY,” kata dia.