Surat ke Langit untuk Mendiang Orang Tua

Ria Papermoon berfoto bersama puppeters, keluarga, dan tokoh Puno, Tala dan Red Clouds seusai pementasan Puno, Letters to The Sky di IFI LIP Jogja, Kamis (5/7/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
14 Juli 2018 11:25 WIB Salsabila Annisa Azmi News Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJAKematian masih menjadi ihwal yang tabu diperbincangkan dalamhubungan orang tua dan anak-anak. Melalui pementasan Puno, Letters to The Sky, Ria Papermoon mengajak anak semua usia memandang kematian dan rasa kehilangan sebagai bagian dari hidup manusia yang harus diterima. Pengalaman menghangatkan hati pun dialami Ria selama proses pembuatan dan pementasan karya. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Salsabila Annisa Azmi.

Wayang boneka berambut ikal itu bernama Tala. Seorang gadis kecil yang berusaha menerima kepergian ayah tercintanya, Puno. Tokoh Tala digerakkan oleh para puppeters Papermoon Puppet Theater dengan sangat anggun, melayang-layang di udara mengikuti irama musik menyayat hati. Sebuah perahu kertas berwarna kuning berisikan pesan kerinduan untuk mendiang ayahnya ada dalam dekapannya.

Tala baru mengetahui bahwa dalam waktu 40 hari setelah kematian, ayahnya masih berada di Bumi. Tala mengembara dari hutan ke hutan, terbang melayang-layang di langit, sambil terus mendekap perahu kertas kuningnya. Sampai akhirnya dia bertemu Puno di langit. Dua tokoh itu melayang-layang di udara, membaca pesan yang tertulis dalam perahu kertas kuning itu bersama-sama.

Suara isak tangis mulai terdengar saat sosok berbentuk awan putih menjemput Puno ke alam lain. Tala perlahan-lahan kembali berpijak ke Bumi, duduk sendirian di atas sebuah dipan. Lampu teater mulai menyala benderang perlahan-lahan. Ratusan perahu kertas kuning yang digantungkan di atap panggung perlahan-lahan turun mengelilingi sosok Tala. Masih diiringi suara isak tangis dan tepuk tangan penonton, lampu teater mulai gelap. Sosok Maria Tri Sulistyani atau biasa disebut Ria Papermoon muncul di antara penonton membungkukkan badan sebagai tanda ucapan terima kasih pada pengujung pentas di IFI LIP Jogja, awal bulan ini.

Ria mengungkapkan alasan penciptaan Puno, Letters to The Sky. Karya yang sudah dipentaskan di Singapura, Bangkok dan Filipina tersebut, bagi Ria, menggambarkan keakrabannya dengan rasa kehilangan. Ayah, ibu, dan kakak pertamanya telah meninggalkan dunia ini. Namun ada bagian kecil yang sangat mengusik hati Ria.

“Kakak saya meninggal 2006, karena kecelakaan. Dia meninggalkan anak sembilan tahun dan tiga tahun. Saya waktu itu bingung saya harus bilang apa ke keponakan saya soal kematian kakak. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti semua itu. Banyak pertanyaan. Saya berharap melalui karya ini kematian bisa dibicarakan dengan anak,” ujar Ria yang ngobrol santai di bangku penonton.

Menurut Ria, kematian masih menjadi hal tabu untuk diperbincangkan dalam relasi anak dan orang tua. Terutama saat sang anak masih berusia balita. Naluri orang tua yang ingin melakukan apa saja untuk membuat anaknya bahagia, terkadang juga memaksa mereka berbohong, menutup mata sang anak dari kenyataan.

“Akibatnya banyak anak kecil atau bahkan orang dewasa yang enggak tahu gimana caranya menghadapi perasaan kehilangan. Terlalu mendadak karena enggak pernah dipersiapkan dan dibicarakan, bahwa suatu saat kita pasti akan meninggalkan dunia ini,” kata Ria.

Dalam pertunjukan Puno, Letters to The Sky di Singapura, saat lampu teater perlahan-lahan terang benderang setelah cerita hampir tamat, seorang anak kecil menangis tersedu-sedu. Ria segera mendekati anak tersebut.

“Saya bertanya kenapa kamu menangis? Dia jawabnya bohong, ‘No, I just got a flu’. Dia bohong,” kata Ria sambil tertawa.

Ria melihat tangan anak itu terus menggenggam tangan ibunya. Ibunya tersenyum kepada Ria, mengatakan bahwa selama pertunjukan sang anak tak henti-hentinya memeluk ibunya. “Anak itu bilang, ‘Mama jangan mati dulu, tunggu aku sampai dewasa’.”

Mata Ria berbinar-binar menceritakan pengalaman itu.

Menggetarkan

Pengalaman itu merupakan keberhasilan karyanya. Ria memang membuat karya itu untuk anak-anak. Bagi Ria, setua apa pun usia seseorang, baik balita atau menginjak 30 tahun, dia tetaplah seorang anak. Satu dua sahabat Ria menonton pertunjukkannya, segera setelah pementasan selesai, mereka merogoh ponsel dan menelepon kedua orang tua mereka. Sekedar menanyakan kabar, mengucap betapa mereka sangat mencintai orang tua mereka.

“Memang saya ingin anak-anak kecil tahu kematian adalah bagian dari perjalanan hidup manusia yang memang harus dilewati. Tetapi saya juga ingin mengajak orang dewasa yang larut dalam kesibukan untuk merenung, berhenti sejenak, mengingat-ingat orang tua mereka di rumah, atau almarhum orang tua mereka,” kata Ria.

Seusai pentas, Ria mendesain ratusan perahu kertas diturunkan dari atap-atap teater menggunakan benang besi. Kapal kertas itu berisi pesan-pesan dari ratusan orang di Singapura, Bangkok dan Filipina yang telah menyaksikan pementasan wayang bonekanya. Saat menulis pesan untuk mendiang orang terkasih, mereka berharap pesan itu bisa menembus langit sampai ke alam lain. Pesan dengan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, ditulis ulang oleh Ria.

“Saya merinding menuliskan pesan-pesan tersebut.”

Tujuannya mengajak para penggemarnya mengingat mereka yang telah tiada dan mengirim doa sudah tercapai.

Mengirim pesan identik dengan pesawat kertas. Namun dalam pertunjukan wayang bonekanya dia menggunakan perahu kertas. Pemilihan perahu kertas tak terjadi sekonyong-konyong. Sebelum tercetus ide tersebut, Ria kehilangan sahabatnya yang tinggal di Filipina.

“Namanya Don. Dia sahabat saya. Sebelum tahun 2014 saat Letters to The Sky versi pertama tampil di Salihara Jakarta, sebenarnya dia ngotot banget mau bikin project tentang langit sama saya. Tetapi dia tiba-tiba koma, waktu itu tiga hari, kemudian meninggal,” ucap Ria.

Abu sahabatnya itu kemudian diletakkan di dalam sebuah guci berbentuk kapal. Melalui kapal kertas berisi pesan kerinduan yang selalu didekap Tala untuk Puno, Ria ingin mengenang sahabatnya itu. Dia ingin pementasan karyanya kali ini ditujukan untuk Don, kedua keponakan yang ditinggalkan kakaknya, juga semua penggemarnya.

Pemilihan kapal kertas sebagai ikon pementasan karya seninya juga merupakan hasil riset budaya di Asia Tenggara. Pelabuhan menjadi tempat orang menyeberang ke pulau lain, mengantarkan ke kehidupan berbeda. Pelabuhan juga menjadi tempat abu kremasi ditebarkan.

Dalam pementasan perihal rasa kehilangan akibat kematian orang terkasih itu, Ria bahkan mengemas sosok penjemput nyawa menjadi lebih bisa diterima anak-anak. Jika biasanya sosok penjemput nyawa digambarkan dengan malaikat maut yang menyeramkan, Ria menciptakan sosok itu dalam bentuk awan putih berbadan gempal yang membawa selembar daun bergambar wajah Puno.

“Itu namanya Red Clouds. Kenapa Red Clouds? Sehari sebelum Don meninggal, saya sempat doa, tolong Don jangan diambil. Tetapi saya seperti melihat vision, ada awan merah melintas di kamar saya. Saya merasa dia pamit. Ya, saya relakan dia,” kata Ria.

Ria pun merasa awan tersebut harus ada dalam pementasan untuk menghormati sahabatnya itu. Ria merasa sangat terharu ketika selesai pementasan di Singapura dan Filipina, banyak anak-anak yang berlari memeluk sosok Red Clouds. Ria berharap dengan reaksi itu, anak-anak lebih bisa menerima perihal rasa kehilangan akibat kematian orang-orang yang dicinta. “Saya ingin mereka melihat kematian sebagai suatu hal yang pasti dilalui manusia. Bukan suatu hal yang menyeramkan, bukan pocong loncat-loncat. Hanya berpindah ke alam lain,” kata Ria.

 

 

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia