Advertisement
Keributan Pendaki Gunung Lawu Dipicu Rebutan Spot Foto
Foto ilustrasi mendaki gunung, dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT
Advertisement
Harianjogja.com, KARANGANYAR—Keributan antarpendaki di puncak Gunung Lawu viral di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan aksi dorong-mendorong di area spot foto ikonik. Insiden ini terjadi di tengah padatnya jumlah pendaki yang memadati kawasan puncak pada akhir pekan.
Dalam rekaman yang beredar pada Senin (27/4/2026), terlihat sejumlah pendaki terlibat cekcok hingga berujung adu fisik ringan. Bahkan, seorang pendaki tampak terjatuh akibat dorongan saat situasi memanas, sementara pendaki lain berupaya melerai konflik tersebut.
Advertisement
Berdasarkan informasi yang beredar, kejadian itu berlangsung pada Minggu (26/4/2026) ketika kondisi puncak sedang dipadati pengunjung atau pendaki.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, membenarkan peristiwa tersebut terjadi di kawasan puncak Gunung Lawu.
Ia menjelaskan bahwa keributan dipicu oleh antrean pengambilan foto yang tidak tertata dengan baik di area yang memiliki ruang sangat terbatas, terutama di sekitar plakat penanda puncak.
“Area puncak memang terbatas, sementara minat berfoto sangat tinggi, terutama di titik ikonik sehingga harus bergantian,” ujarnya, Senin (27/4/2026) malam.
Menurutnya, lonjakan jumlah pendaki membuat antrean menjadi tidak terkoordinasi, sehingga memicu kesalahpahaman antar kelompok yang sama-sama ingin segera mengakses spot foto. Kedua pihak yang terlibat diketahui merupakan rombongan open trip dari luar daerah.
Situasi sempat memanas, namun berhasil dikendalikan dalam waktu singkat setelah sukarelawan dan petugas turun tangan melakukan mediasi. Kedua kelompok akhirnya sepakat menyelesaikan masalah secara damai tanpa berlanjut ke konflik lebih jauh.
Kawasan puncak Gunung Lawu, khususnya Hargo Dumilah, memang dikenal sebagai magnet utama bagi pendaki yang ingin menikmati panorama matahari terbit dan fenomena lautan awan. Kondisi ini membuat area tersebut sering dipadati, terutama saat akhir pekan dan musim pendakian ramai.
Pemerintah setempat pun mengingatkan pentingnya menjaga etika selama pendakian. Pendaki diminta untuk saling menghormati satu sama lain. Selain itu harus mematuhi antrean, serta mengutamakan keselamatan agar kejadian serupa tidak kembali terulang di Gunung Lawu yang menjadi destinasi favorit tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Tabrakan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek, Ini Penjelasan PT KAI
- 22 Biksu Sri Lanka Ditangkap Bawa 110 Kg Ganja dari Thailand
- Suhu Tembus 34C! Tangerang Raya Jadi Wilayah Terpanas Jabodetabek
- Jejak Kelam Washington Hilton: Dua Insiden Penembakan Presiden AS
- Pemerintah Keluarkan PMK 24/2026, Harga Tiket Pesawat jadi Lebih Murah
Advertisement
Dua Bundaran di GT Purwomartani Disiapkan, Antisipasi Macet Jogja-Solo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Talud Sungai Jogja Rapuh, Rp4 Miliar Disiapkan untuk 5 Titik Prioritas
- Command Center MBG Resmi 17 Mei 2026 Perbaiki Tata Kelola
- Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 27 April 2026, Tarif Rp8.000
- Mei 2026 Surga Liburan: Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
- Klinik Satelit Makkah Siaga Layani Jamaah Haji 2026
- Pemkot Jogja Segera Cari Daycare Aman Pengganti Little Aresha
- 336 Gempa Tektonik Getarkan Sulawesi Utara Maret 2026
Advertisement
Advertisement








