Advertisement

Hadapi Lonjakan Harga Bahan MBG, BGN Dorong Pangan Lokal

Newswire
Kamis, 23 April 2026 - 19:07 WIB
Abdul Hamied Razak
Hadapi Lonjakan Harga Bahan MBG, BGN Dorong Pangan Lokal Foto ilustrasi menu Makan Bergizi Gratis berupa mi ayam lengkap dengan sayur dan kerupuk pangsit serta buah. - dok - Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong optimalisasi pemanfaatan pangan lokal dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini ditujukan untuk menekan potensi lonjakan harga bahan pangan akibat permintaan besar yang terjadi secara serentak di berbagai daerah.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pendekatan fleksibel menjadi kunci dalam penyusunan menu MBG. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diberikan keleluasaan untuk menyesuaikan menu berdasarkan ketersediaan bahan pangan di wilayah masing-masing.

Advertisement

Menurutnya, kebijakan menu yang seragam secara nasional justru berisiko memicu lonjakan harga karena tingginya permintaan dalam waktu bersamaan. “Kalau semua daerah diwajibkan menu yang sama, tekanan konsumsi akan tinggi dan harga bahan pasti naik,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Dadan mencontohkan pengalaman saat peringatan ulang tahun Prabowo Subianto pada 17 Oktober 2025. Saat itu, menu MBG diseragamkan menjadi nasi goreng dengan telur. Dampaknya, kebutuhan telur melonjak drastis hingga mencapai 36 juta butir atau sekitar 2.200 ton dalam satu hari. Kondisi tersebut sempat memicu kenaikan harga telur hingga Rp3.000 per kilogram di pasaran.

Ia menilai, kasus tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan pangan dalam skala besar harus mempertimbangkan kapasitas produksi dan distribusi. Oleh karena itu, diversifikasi menu menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan pasar sekaligus memastikan kecukupan gizi masyarakat.

Selain telur, Dadan juga menyoroti kebutuhan daging sapi dalam program MBG. Ia menjelaskan bahwa satu SPPG dapat membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi dalam satu kali proses memasak. Jumlah tersebut setara dengan satu ekor sapi.

Jika kebijakan memasak daging sapi dilakukan serentak di seluruh SPPG, maka kebutuhan sapi akan meningkat signifikan dan berpotensi mengganggu stabilitas harga di pasar. “Bayangkan jika semua SPPG memasak sapi di hari yang sama, kebutuhan nasional bisa melonjak sangat tinggi,” katanya.

Untuk itu, BGN menekankan pentingnya variasi sumber protein dalam menu MBG, seperti telur, daging ayam, ikan, hingga daging sapi. Pendekatan ini tidak hanya menjaga stabilitas harga, tetapi juga memastikan asupan gizi yang seimbang bagi penerima manfaat.

BGN berharap, dengan pemanfaatan pangan lokal dan variasi menu yang adaptif, program MBG dapat berjalan berkelanjutan tanpa menimbulkan gejolak harga di pasar. Langkah ini sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah dan memberdayakan potensi ekonomi lokal di seluruh Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Setelah Ambulans, Damkar Sleman Juga Disasar Laporan Fiktif DC Pinjol

Setelah Ambulans, Damkar Sleman Juga Disasar Laporan Fiktif DC Pinjol

Sleman
| Kamis, 23 April 2026, 21:37 WIB

Advertisement

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Wisata
| Rabu, 22 April 2026, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement