Advertisement
Trump Akui Negosiasi AS-Iran Ada di Jalan Buntu
Donald Trump / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, MOSKWA—Peluang kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menemui titik terang. Presiden AS Donald Trump mengakui negosiasi yang berlangsung belum menghasilkan kesepakatan final dan bahkan berpotensi gagal.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara di Las Vegas, Kamis, di tengah komunikasi yang masih berjalan antara Washington dan Teheran.
Advertisement
“Kami belum mencapai kesepakatan. Mungkin saja tidak akan tercapai,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Meski demikian, Trump tetap membuka peluang adanya perkembangan positif dalam waktu dekat. Ia menyebut kemungkinan muncul “kejutan menyenangkan”, termasuk potensi penurunan harga minyak dan bensin.
BACA JUGA
Negosiasi Masih Berjalan di Tengah Gencatan Senjata
Trump juga mengisyaratkan pertemuan lanjutan antara kedua negara dapat berlangsung pada akhir pekan ini. Hal itu terjadi seiring masih berlakunya gencatan senjata sementara antara kedua pihak.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan di Islamabad pada 11 April setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan perundingan tersebut belum membuahkan hasil dan delegasi AS kembali tanpa kesepakatan.
Situasi semakin kompleks setelah Angkatan Laut AS memberlakukan blokade terhadap lalu lintas maritim di sekitar Selat Hormuz pada 13 April.
Selat ini merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, sehingga setiap ketegangan berdampak langsung terhadap pasar energi global.
Klaim Uranium Tambah Dinamika
Di tengah negosiasi yang belum pasti, Trump juga mengklaim Iran bersedia menyerahkan uranium yang diperkaya kepada Amerika Serikat.
“Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan mereka telah menyetujuinya,” kata Trump, seperti dilaporkan The Washington Post.
Ia menyebut uranium yang dimaksud sebagai “debu nuklir”, merujuk pada material yang sangat diperkaya.
Ketegangan antara kedua negara sebelumnya memuncak setelah serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari yang menyasar sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut diikuti aksi balasan Iran ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Hingga kini, proses diplomasi masih berlangsung dengan ketidakpastian tinggi, sementara dinamika geopolitik terus memengaruhi stabilitas kawasan dan harga energi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Polisi Ungkap Kronologi Kebakaran Tewaskan Satu Keluarga di Jakbar
- TNI AD Kerahkan 209 Personel Evakuasi Heli Jatuh di Kalbar
- Wajah TNI Tersangka Teror Air Keras Akan Terungkap di Sidang
- Kejagung: Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terima Suap Rp1,5 Miliar
- Tragedi Kahramanmaras: Siswa Tembaki Kelas, Telan 9 Korban Jiwa
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Harga Kedelai Melonjak, Ancaman Cabut Izin Menguat
- Wajah TNI Tersangka Teror Air Keras Akan Terungkap di Sidang
- Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih 2026, Cek Syarat dan Linknya
- PLN Beri Diskon Tambah Daya Listrik Setengah Harga Saat WFH
- Uang Miliaran dan Emas Disita dari Kantor Tersangka TPPU
- Museum Terbuka Bakalan Mulai Ramai, Sleman Siapkan Tiket Masuk
- Motor Tanpa Plat, Pelajar di Gunungkidul Dihukum Push Up
Advertisement
Advertisement







