Advertisement
Cuaca Pagi Terik Lalu Hujan Tiba-tiba Ini Penyebabnya
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem. - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Perubahan cuaca ekstrem yang terasa cepat dalam beberapa hari terakhir, dari panas terik di pagi hari hingga hujan pada siang atau malam, dipastikan dipicu masa peralihan musim. Kondisi ini membuat atmosfer menjadi tidak stabil dan mudah memicu hujan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mencatat dalam beberapa hari terakhir hujan dengan intensitas ringan hingga lebat terjadi di sejumlah wilayah DKI Jakarta. Curah hujan tertinggi bahkan mencapai 51 mm per hari pada 13 April 2026.
Advertisement
Pada waktu yang sama, suhu udara juga terpantau cukup tinggi dengan suhu maksimum mencapai 34,6 derajat Celsius. “Kondisi cuaca yang terasa cepat berubah ini dipengaruhi oleh masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau yang menyebabkan atmosfer menjadi lebih labil,” kata Andri, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, cuaca cerah pada pagi hari menandakan proses pemanasan berlangsung optimal. Kondisi ini kemudian memicu pembentukan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan pada siang hingga malam hari.
BACA JUGA
Selain itu, dinamika atmosfer skala lokal hingga regional serta gangguan pola angin, seperti perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di wilayah Jawa bagian barat, turut memperkuat proses terbentuknya awan hujan.
“Dalam beberapa hari ke depan, masih terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah DKI Jakarta, terutama pada tanggal 15–16 April 2026,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan bahwa Indonesia sedang memasuki masa transisi menuju musim kemarau. Pada fase ini, cuaca cenderung tidak menentu dengan perubahan yang berlangsung cepat dalam satu hari.
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan musim kemarau 2026 diperkirakan akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut dipengaruhi dinamika iklim global, termasuk potensi berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua tahun ini.
Hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen zona musim di Indonesia telah memasuki periode kemarau. Jumlah ini diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan, dengan sebagian besar wilayah mulai mengalami kemarau secara bertahap pada April hingga Juni 2026.
Adapun wilayah yang mulai memasuki musim kemarau meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Riau, serta sejumlah daerah di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga Papua Barat.
“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” kata Faisal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Kecelakaan Beruntun di Jalur Ngawi-Mantingan, Truk Tabrak Bus Mira
- BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya
- Korut Kecam Jepang soal Denuklirisasi, Ketegangan Meningkat
- Dapur MBG di Ngawi Meledak Timbulkan Luka Bakar, Diselidiki Labfor
- Pelecehan Seksual di FHUI Jadi Alarm Serius, Simak Kronologinya
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Mobil Terjun ke Ceruk Enam Meter di Kalasan Sleman Saat Hujan
- FEB UI Masuk Empat Besar Dunia Sekolah Ekonomi Islam
- Kebakaran BYD di China Picu Kekhawatiran, Ini Risiko EV
- Polemik Tempo, NasDem DIY Bantah Isi Laporan dan Tegaskan Sikap
- Australia U-17 Tinggal Butuh 1 Poin ke Semifinal AFF
- Korut Kecam Jepang soal Denuklirisasi, Ketegangan Meningkat
- BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya
Advertisement
Advertisement









