Teddy Beberkan 7 Hasil Diplomasi Prabowo, Investasi Tembus Rp2.430 T

Newswire
Newswire Selasa, 02 Juni 2026 04:17 WIB
Teddy Beberkan 7 Hasil Diplomasi Prabowo, Investasi Tembus Rp2.430 T

Presiden Prabowo Subianto. Antara/Galih Pradipta

Harianjogja.com, JAKARTA—Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memaparkan sejumlah capaian yang disebut sebagai hasil nyata diplomasi Presiden Prabowo Subianto selama sekitar satu setengah tahun terakhir. Menurutnya, efektivitas diplomasi tidak dapat diukur hanya dari banyaknya perjalanan luar negeri, melainkan dari manfaat konkret yang dirasakan masyarakat dan negara.

Pernyataan itu disampaikan Teddy melalui unggahan akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet pada Senin (1/6/2026) sebagai respons atas berbagai kritik mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa ruang kritik dan masukan terhadap pemerintah tetap terbuka, namun capaian yang telah diraih juga perlu dilihat secara objektif.

“Bicara diplomasi berarti bicara hasil. Manfaat nyata bagi bangsa. Kritik dan masukan itu penting. Ruang untuk kritik dan masukan selalu terbuka. Tetapi jangan mengaburkan fakta dari mereka yang sedang bekerja,” ujar Teddy.

Secara khusus, Teddy menanggapi sejumlah masukan yang sebelumnya disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Ia menyampaikan apresiasi atas pandangan tersebut, tetapi merasa perlu memberikan klarifikasi terhadap beberapa isu yang berkembang.

Terkait pembiayaan kunjungan luar negeri Presiden Prabowo, Teddy menegaskan bahwa setiap biaya tambahan yang melampaui anggaran negara ditanggung langsung oleh Presiden secara pribadi.

Ia juga membantah anggapan bahwa rombongan Presiden dalam lawatan luar negeri terlalu besar. Menurut dia, jumlah delegasi saat ini justru jauh lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya.

“Kalau dulu itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50-60 orang maksimal,” katanya.

Mengenai frekuensi kunjungan internasional Presiden, Teddy menjelaskan bahwa dinamika geopolitik dunia membuat agenda diplomasi tidak selalu dapat disusun jauh hari sebelumnya. Selain agenda rutin, terdapat pula sejumlah pertemuan yang harus dilakukan secara cepat menyesuaikan perkembangan global dan kebutuhan nasional.

Menurutnya, tingginya intensitas pertemuan Presiden dengan para pemimpin dunia tidak dapat dilepaskan dari situasi internasional yang sedang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perang di Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah.

Dalam konteks tersebut, hubungan personal antarpemimpin negara dinilai memiliki nilai strategis karena dapat menjadi modal penting ketika Indonesia membutuhkan dukungan internasional di masa mendatang.

“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi,” ujarnya.

Tujuh Capaian Diplomasi Prabowo

Teddy kemudian memaparkan tujuh hasil diplomasi yang menurutnya menjadi bukti konkret manfaat hubungan internasional yang dibangun Presiden Prabowo.

Pertama, bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS yang dinilai memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, termasuk menjaga stabilitas pasokan energi dan pangan.

Kedua, tercapainya kesepakatan tarif nol persen dengan Uni Eropa melalui penyelesaian proses negosiasi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.

Ketiga, masuknya investasi senilai sekitar Rp2.430 triliun dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir. Teddy juga menyoroti hasil kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan yang menghasilkan komitmen bisnis sebesar US$33,89 miliar atau sekitar Rp575 triliun.

Keempat, penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) melalui kerja sama dengan sejumlah negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, serta beberapa negara Eropa lainnya.

Kelima, peningkatan dukungan terhadap penyelenggaraan ibadah haji, termasuk pengembangan kawasan perkampungan haji Indonesia di Arab Saudi yang disebut sebagai salah satu hasil diplomasi strategis pemerintah.

Keenam, keterlibatan aktif Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina melalui pengiriman bantuan logistik, pengoperasian kapal rumah sakit, hingga pemberian beasiswa pendidikan bagi pelajar Palestina.

Ketujuh, keberhasilan diplomasi pemerintah dalam memulangkan warga negara Indonesia yang sempat diamankan otoritas Israel di laut lepas beberapa waktu lalu.

“Yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya. Itu yang kita utamakan,” kata Teddy.

Strategi Diversifikasi Investasi Asing

Di tengah sorotan terhadap kunjungan luar negeri Presiden Prabowo, sejumlah pengamat melihat adanya upaya pemerintah memperluas sumber investasi asing agar tidak hanya bergantung pada negara-negara mitra tradisional di Asia.

Selama ini, arus investasi asing ke Indonesia masih didominasi Singapura, China, dan Hong Kong. Pada kuartal I/2026, investasi dari Singapura tercatat mencapai US$4,6 miliar, disusul Hong Kong sebesar US$2,7 miliar dan China sekitar US$2,2 miliar.

Investasi dari China terutama mengalir ke sektor infrastruktur, hilirisasi mineral, dan industri pengolahan sumber daya alam. Karena itu, kunjungan kenegaraan Presiden ke Jepang, Korea Selatan, dan Prancis dipandang sebagai bagian dari strategi memperluas jaringan investasi ke kawasan Asia Timur dan Eropa.

Dari Jepang dan Korea Selatan, pemerintah mengumumkan komitmen bisnis senilai US$33,89 miliar atau sekitar Rp575 triliun yang mencakup sektor energi, ekonomi digital, industri masa depan, serta hilirisasi.

Sementara itu, kunjungan ke Prancis menghasilkan kesepakatan komersial baru senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp61 triliun yang meliputi kerja sama energi, perdagangan, pertahanan, pendidikan, dan pengembangan mineral kritis.

Pembentukan France-Indonesia High Level Business Council juga diarahkan untuk mengawal realisasi berbagai nota kesepahaman dan investasi yang telah disepakati kedua negara.

“Yang tadi saya sampaikan adalah hasil konkret nyata 1,5 tahun terakhir. Dan semua itu adalah diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara, baik yang dipublikasikan, maupun tidak dipublikasikan, karena yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya. Itu yang kita utamakan,” tutur Teddy.

Realisasi Investasi Lampaui Target

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau setara 101,3 persen dari target pemerintah sebesar Rp1.905,6 triliun. Nilai tersebut tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari total realisasi investasi tersebut, investasi asing (PMA) menyumbang Rp900,9 triliun atau 46,6 persen, sedangkan investasi domestik (PMDN) mencapai Rp1.030,3 triliun atau 53,4 persen.

Capaian tersebut turut menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja sepanjang 2025. BKPM juga mencatat kontribusi sektor hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 30,2 persen dari total investasi nasional, meningkat 43,3 persen secara tahunan.

Adapun lima daerah tujuan investasi terbesar meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sulawesi Tengah. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan pemerintah untuk menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi yang dijalankan melalui berbagai kunjungan luar negeri telah berkontribusi terhadap peningkatan investasi dan penguatan fondasi ekonomi nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online