Advertisement
Tanker Iran Tembus Hormuz Saat Klaim Blokade Memanas
Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA— Sebuah kapal tanker raksasa milik Iran dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz dan memasuki perairannya sendiri, meski sebelumnya Amerika Serikat mengklaim telah menghentikan aktivitas perdagangan maritim menuju negara tersebut.
Laporan ini disampaikan oleh Fars News Agency pada Rabu (14/4/2026). Kapal tersebut disebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dan tetap mengaktifkan sistem pelacakan selama pelayaran tanpa upaya penyamaran.
Advertisement
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait klaim tersebut.
Jalur Vital Energi Dunia
Secara geografis, Selat Hormuz terletak di antara Iran di sebelah utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di sisi selatan. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Fungsinya sangat krusial karena menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, terutama untuk distribusi minyak mentah. Sebagian besar ekspor energi dari negara-negara Teluk—termasuk Iran, Arab Saudi, hingga Kuwait—harus melewati selat sempit ini sebelum menuju pasar global.
Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Karena itu, setiap gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada harga energi global dan stabilitas ekonomi internasional.
Klaim Blokade Dipertanyakan
Sebelumnya, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan telah “sepenuhnya menghentikan” perdagangan laut menuju dan dari Iran.
Langkah itu disebut mencakup seluruh kapal dari berbagai negara yang melintas di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Namun, Komandan CENTCOM, Brad Cooper, menegaskan pihaknya tidak akan mengganggu kebebasan navigasi kapal yang melintas di Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran.
Situasi ini memunculkan pertanyaan terkait efektivitas blokade yang diumumkan, terutama setelah kapal tanker Iran tetap bisa melintas tanpa hambatan di jalur strategis tersebut.
Dipicu Gagalnya Negosiasi
Ketegangan meningkat setelah perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan pada akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan untuk menghentikan konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Kondisi ini memperbesar risiko eskalasi di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi “urat nadi” perdagangan energi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Polisi Ungkap Kronologi Kebakaran Tewaskan Satu Keluarga di Jakbar
- TNI AD Kerahkan 209 Personel Evakuasi Heli Jatuh di Kalbar
- Wajah TNI Tersangka Teror Air Keras Akan Terungkap di Sidang
- Kejagung: Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terima Suap Rp1,5 Miliar
- Tragedi Kahramanmaras: Siswa Tembaki Kelas, Telan 9 Korban Jiwa
Advertisement
Dari Sampah Dapur Jadi Pakan, Aksi Ibu-ibu di Jogja Curi Perhatian
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- DIY Masuk Fase Akhir Siklus Gempa Besar, Warga Diminta Waspada
- Harga Kedelai Melonjak, Ancaman Cabut Izin Menguat
- Wajah TNI Tersangka Teror Air Keras Akan Terungkap di Sidang
- Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih 2026, Cek Syarat dan Linknya
- PLN Beri Diskon Tambah Daya Listrik Setengah Harga Saat WFH
- Uang Miliaran dan Emas Disita dari Kantor Tersangka TPPU
- Museum Terbuka Bakalan Mulai Ramai, Sleman Siapkan Tiket Masuk
Advertisement
Advertisement







