Kapal Induk Prancis Charles de Gaulle Bergerak ke Hormuz

Newswire
Newswire Sabtu, 16 Mei 2026 15:27 WIB
Kapal Induk Prancis Charles de Gaulle Bergerak ke Hormuz

Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Prancis mengonfirmasi kapal induk Charles de Gaulle telah bergerak menuju kawasan Laut Arab hingga mendekati Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Kehadiran armada militer tersebut disebut menjadi bagian dari misi pengamanan jalur maritim internasional di kawasan Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Prancis Alice Rufo menyampaikan kapal induk kebanggaan Prancis itu telah melewati Terusan Suez dan kini berada di wilayah Laut Arab sebelum melanjutkan pelayaran menuju area sekitar Selat Hormuz.

"(Kapal) Telah melewati Terusan Suez, menuju Laut Arab, dan berada di wilayah tersebut," kata Alice Rufo kepada televisi BFMTV, Jumat (15/5/2026).

Menurut Rufo, kehadiran kapal induk Charles de Gaulle bertujuan untuk mendukung pemantauan situasi keamanan sekaligus memperkuat pengaruh diplomasi regional dan global Prancis di kawasan strategis tersebut.

Ia menegaskan bahwa kapal induk Prancis itu tidak hanya ditempatkan di sekitar Selat Hormuz, tetapi juga menjalankan misi lebih luas di perairan Timur Tengah.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Prancis telah mengumumkan bahwa Charles de Gaulle menjalankan operasi bersama Inggris di Laut Merah dan Teluk Aden guna menjaga keamanan pelayaran internasional, termasuk jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.

Iran Ancam Respons Tegas

Pergerakan kapal perang Prancis dan Inggris di sekitar Selat Hormuz memicu reaksi keras dari Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi sebelumnya menegaskan bahwa kehadiran armada asing di kawasan tersebut akan mendapat respons cepat dari militer Iran.

Pada 10 Mei 2026 lalu, Kazem Gharibabadi menyatakan angkatan bersenjata Iran siap merespons setiap aktivitas militer asing yang dinilai mengancam keamanan wilayah perairan strategis negaranya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Konflik tersebut kemudian berdampak pada keamanan jalur pelayaran internasional, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute distribusi minyak terbesar dunia.

Meski sempat tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada 7 April 2026, situasi di kawasan belum sepenuhnya stabil. Amerika Serikat masih melakukan blokade akses maritim terhadap sejumlah pelabuhan Iran, sementara Teheran memberlakukan aturan transit khusus bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Kondisi tersebut membuat kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia internasional karena berpengaruh langsung terhadap keamanan energi global dan stabilitas perdagangan internasional.

Selat Hormuz Urat Nadi Energi Global

Selat Hormuz merupakan urat nadi terpenting dalam sistem distribusi energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, selat ini merupakan titik sempit yang secara strategis memisahkan wilayah Iran di utara dengan Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.

Pentingnya jalur ini terletak pada volume minyak mentah yang melaluinya; diperkirakan sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia, atau lebih dari 20 juta barel per hari, melewati selat ini menuju pasar-pasar utama di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Keberadaan Selat Hormuz memberikan pengaruh besar terhadap stabilitas harga energi dunia karena tidak adanya jalur alternatif yang setara dalam kapasitas pengiriman. Perannya tidak hanya terbatas pada minyak bumi, tetapi juga sebagai jalur utama bagi sebagian besar ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) dari produsen besar seperti Qatar.

Karena lebarnya yang hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, jalur ini sangat rentan terhadap gangguan geopolitik. Ketegangan di wilayah tersebut sering kali memicu kekhawatiran pasar akan terhambatnya pasokan, yang secara instan dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global dan mengganggu ketahanan energi di berbagai negara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online