Advertisement
Selat Hormuz Berpotensi Dibuka, Harga BBM Bisa Turun?
Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pakistan menjadi pusat diplomasi penting dengan menjamu delegasi dari Turki, Mesir, dan Arab Saudi guna membahas pembukaan kembali Selat Hormuz yang lumpuh selama satu bulan terakhir.
Selat strategis ini merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia, sehingga penutupannya berdampak langsung pada lonjakan harga energi global, termasuk di Indonesia.
Advertisement
Dalam pertemuan tersebut ungkap Reuters, Mesir mengusulkan penerapan tarif pelintasan kapal tanker yang mengacu pada sistem di Terusan Suez.
Selain itu, muncul gagasan pembentukan konsorsium internasional yang melibatkan Turki, Mesir, dan Arab Saudi untuk mengelola distribusi minyak di jalur tersebut secara mandiri.
BACA JUGA
Langkah ini dinilai sebagai solusi pragmatis untuk menjaga arus energi tetap berjalan di tengah konflik geopolitik yang memanas.
Peran Strategis Pakistan
Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Iran, Pakistan memainkan peran penting sebagai jembatan komunikasi antara Teheran dan Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengungkapkan bahwa Iran telah memberikan izin bagi 20 kapal tambahan berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz. Langkah ini menjadi sinyal awal pelonggaran pembatasan jalur energi global.
Diplomasi di Tengah Ancaman Konflik
Upaya ini berlangsung di tengah ketegangan tinggi setelah Iran menutup jalur pelayaran sebagai respons atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Di sisi lain, Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dilaporkan menjalin komunikasi intensif dengan Wakil Presiden AS, JD Vance.
"Prioritas kami adalah mengamankan gencatan senjata. Menjamin jalur aman bagi kapal-kapal dapat menjadi langkah pembangunan kepercayaan yang penting," ungkap sumber diplomatik Turki.
Jika Selat Hormuz kembali dibuka, tekanan terhadap harga minyak dunia berpotensi mereda. Sebaliknya, jika negosiasi gagal, lonjakan harga energi global dapat berlanjut dan berdampak langsung pada harga BBM serta biaya hidup di Indonesia.
Hingga kini, proposal tersebut telah disampaikan ke Gedung Putih, namun belum ada respons resmi dari pihak terkait. Pasar global pun menunggu hasil diplomasi ini sebagai penentu arah harga energi dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Patroli China di Laut China Selatan Ancam Energi RI
- Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
- Gempa M 6,5 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Berhamburan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
Advertisement
Stok Elpiji 3 Kg Sleman Aman, Perang Timur Tengah Belum Berdampak
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Rusia Stop Ekspor BBM, Harga Pertalite RI Terancam?
- Rumah Warga Pandes Bantul Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp80 Juta
- 144 Penyakit Ditanggung BPJS, Ini Daftar Lengkapnya
- Aktivitas Merapi Masih Tinggi, Guguran Lava Terjadi Ratusan Kali
- MotoGP COTA 2026 Dimulai, Berikut Jadwal Lengkapnya
Advertisement
Advertisement







