Advertisement

Dampak Konflik Timur Tengah, Plastik di Korea Terancam Langka

Jumali
Rabu, 25 Maret 2026 - 02:17 WIB
Jumali
Dampak Konflik Timur Tengah, Plastik di Korea Terancam Langka Bendera Korea Selatan. / Ilustrasi Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Gangguan pasokan bahan baku plastik memicu kepanikan warga Korea Selatan hingga terjadi aksi borong.

Warga dilaporkan memborong kantong sampah karena khawatir pasokan plastik akan menipis dan harga melonjak tajam.

Advertisement

Peringatan ini disampaikan oleh Korea Federation of Plastics Industry Cooperatives yang menyebut distribusi bahan baku plastik dan vinil terganggu akibat hambatan rantai pasok global.

Kondisi tersebut memaksa perusahaan petrokimia mengurangi pengiriman bahan baku ke pabrik dalam negeri, sehingga produksi berbagai produk plastik ikut terancam.

Mengutip laporan The Korea Herald, sebanyak 71% perusahaan yang disurvei telah menerima pemberitahuan terkait pengurangan atau penundaan pengiriman resin sintetis.

Tak hanya itu, sekitar 92% pelaku industri juga mengaku mendapat informasi kenaikan harga bahan baku, yang berpotensi mendorong lonjakan harga produk di tingkat konsumen.

"Sekitar 92 persen pelaku industri mengatakan telah diberitahu tentang kenaikan harga untuk bahan baku," tulis laporan federasi tersebut pada Selasa (24/3/2026).

Salah satu bahan paling terdampak adalah naphtha, yang menjadi komponen utama dalam produksi berbagai kebutuhan harian seperti kantong sampah, kemasan makanan, hingga botol plastik.

Terganggunya pasokan naphtha membuat ketersediaan produk plastik di pasaran ikut terancam, memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Kondisi ini kemudian memicu reaksi berantai di tingkat ritel, di mana warga mulai menimbun produk plastik sebagai langkah antisipasi terhadap kelangkaan.

Fenomena ini dinilai berisiko memperparah krisis karena aksi borong justru dapat mempercepat habisnya stok di pasar.

Pemerintah Korea Selatan saat ini tengah berupaya mencari jalur distribusi alternatif setelah melakukan pendataan terhadap 37 perusahaan manufaktur. Namun, tantangan besar tetap muncul dari lonjakan biaya operasional akibat naiknya harga minyak mentah global.

Di tengah situasi ini, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam berbelanja dan tidak melakukan penimbunan berlebihan agar distribusi produk penting—terutama untuk kebutuhan medis dan pangan—tetap terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Daya Beli Turun, Kunjungan Wisata Glagah Ikut Menyusut

Daya Beli Turun, Kunjungan Wisata Glagah Ikut Menyusut

Kulonprogo
| Rabu, 25 Maret 2026, 02:47 WIB

Advertisement

Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata

Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata

Wisata
| Minggu, 22 Maret 2026, 16:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement