Advertisement
Bulog Siapkan Pembayaran Digital Gabah Petani Rp6.500 per Kilogram
Panen padi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Perum Bulog berencana menerapkan sistem pembayaran digital atau nontunai dalam pembelian gabah kering panen (GKP) dari petani. Langkah ini diambil untuk memastikan harga pembelian gabah sesuai ketentuan pemerintah, yakni Rp6.500 per kilogram, serta mencegah praktik penyelewengan di lapangan.
Melalui pembayaran nontunai, Bulog ingin memastikan dana benar-benar diterima petani sesuai harga resmi tanpa potongan. Sistem ini juga memungkinkan pemantauan transaksi secara real time dari pusat komando Bulog.
Advertisement
Kebijakan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat tata kelola penyerapan gabah nasional sekaligus mendukung transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan cadangan pangan pemerintah.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pembayaran digital diperlukan agar harga pembelian gabah tidak menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan.
BACA JUGA
“Tujuannya supaya pembayaran ke petani betul-betul Rp6.500 per kilogram. Kalau pakai uang tunai, kami tidak bisa memonitor di lapangan apakah benar dibayar sesuai harga atau tidak,” ujar Rizal dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Minggu (11/1/2026).
Seiring rencana tersebut, Bulog mendorong petani untuk segera memiliki rekening bank dan buku tabungan. Petugas lapangan nantinya akan merekap data pembayaran petani yang bisa dipantau langsung oleh pusat.
Menurut Rizal, skema ini akan meminimalkan potensi praktik tidak sehat oleh oknum di lapangan sekaligus mempercepat proses pembayaran kepada petani.
Untuk mendukung pelaksanaan kebijakan ini, Bulog akan menggandeng bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
“Kami akan melibatkan perbankan nasional agar proses pembayaran digital ini memudahkan para petani, khususnya di daerah,” katanya.
Selain sistem pembayaran, Bulog juga menargetkan penyerapan beras sebanyak 4 juta ton pada 2026, meningkat dibandingkan target 2025 yang sebesar 3 juta ton. Peningkatan target ini sejalan dengan penambahan cadangan pangan pemerintah.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan pemerintah memutuskan menaikkan cadangan beras pemerintah dari 3 juta ton menjadi 4 juta ton, serta cadangan jagung dari 300.000 ton menjadi 1 juta ton.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendukung program prioritas nasional, termasuk program makan bergizi gratis (MBG), yang membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Dengan penerapan pembayaran digital gabah dan peningkatan target serapan beras, Bulog diharapkan mampu memperkuat perlindungan harga bagi petani sekaligus menjaga stabilitas pangan nasional. Langkah ini menjadi bagian penting dari transformasi tata kelola pangan yang lebih transparan dan modern.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- MRP Kecam Penembakan Pilot Smart Air oleh KKB di Papua
- Satgas Ungkap 20 KKB Serang Pesawat Smart Air di Papua, Dua Kru Tewas
- DPR Desak SKB Tiga Menteri Atasi 11 Juta PBI BPJS Nonaktif
- Gempa Donggala M4,1 Guncang Sulteng, BMKG Ungkap Penyebabnya
- Pendaftaran Calon Pimpinan OJK Dibuka, Begini Tahapan dan Syaratnya
Advertisement
Jadwal Bus Sinar Jaya Rute Jogja-Parangtritis dan Baron, Minggu 15 Feb
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
- Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp76.500, Bawang Merah Rp44.350
- Prabowo Minta TPA Open Dumping Dihentikan, Sampah Ditangani dari Hulu
- Utang Pemerintah Tembus Rp9.637,9 Triliun, Rasio 40,46 Persen PDB
- Bank Jateng Resmikan KCP RSUD Moewardi dan Donasi Ambulans
- BGN Cairkan Rp32,1 Triliun Dana MBG, Perputaran Uang Tembus Rp29 T
- DLH Luncurkan Gerakan Kulonprogo ASRI, Ini Tujuannya
- Yu Beruk Wafat, Duka Seni Tradisi Yogyakarta
Advertisement
Advertisement






