Advertisement
Jenderal Paspampres Venezuela Dicopot Usai Penangkapan Maduro
Jenderal Javier Marcano Tbata - BBC
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Stabilitas keamanan di Venezuela terguncang setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan khusus AS dalam operasi militer yang memicu pergantian pucuk komando militer.
BBC melaporkan Jenderal Javier Marcano Tábata, Komandan Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres), resmi dicopot dari jabatannya. Pemecatan ini merupakan dampak langsung dari keberhasilan pasukan khusus Amerika Serikat, Delta Force, menculik Presiden Nicolás Maduro dalam sebuah operasi kilat di Caracas beberapa hari lalu.
Advertisement
Pemecatan Marcano Tábata dipicu oleh kegagalan unit elite pengamanan dalam mengantisipasi serangan udara dan darat AS. Meskipun unit intelijen militer (DGCIM) di bawah kepemimpinannya memiliki reputasi kuat, namun penembusan zona hijau kepresidenan dianggap sebagai aib militer terbesar.
Sebagai pengganti, Presiden Sementara Delcy Rodríguez menunjuk Gustavo González López, mantan kepala Sebin yang dikenal sebagai sosok kontroversial. Langkah ini dinilai sebagai upaya konsolidasi kekuasaan untuk mencegah pembelokan loyalitas militer di tengah ancaman serangan lanjutan dari Washington.
BACA JUGA
Presiden AS Donald Trump tidak menunjukkan tanda-tanda meredakan ketegangan. Trump secara terbuka memperingatkan Delcy Rodríguez bahwa ia akan menghadapi "nasib yang lebih buruk" jika tidak mematuhi instruksi AS.
Beberapa poin tuntutan dan klaim sepihak AS meliputi:
- Kontrol Sumber Daya: Trump mengklaim Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
- Target Pejabat Tinggi: AS memperketat perburuan terhadap Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dengan hadiah penangkapan sebesar $25 juta atas tuduhan narkoba.
- Operasi Militer: Isyarat "gelombang serangan kedua" jika pemerintah sementara menolak akses dan kendali AS terhadap kebijakan nasional.
Operasi militer AS dilaporkan menimbulkan korban jiwa yang signifikan di sisi loyalis pemerintah. Insiden ini menciptakan rasa trauma dan dipermalukan di kalangan militer Venezuela. Kuba, sekutu dekat Venezuela, menyatakan 32 warganya yang diduga bagian dari pengawal presiden tewas.
Insiden ini memicu rasa "dipermalukan" di kalangan pendukung pemerintah, melihat bagaimana pertahanan dan pengawal elite bisa ditembus dengan mudah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KPK Belum Tahan Yaqut dan Gus Alex, Tunggu Proses Lengkap
- Yaqut Resmi Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Segini Daftar Kekayaannya
- Bahlil: Tambang untuk Ormas Tetap Jalan Meski Diuji MK
- Ketegangan Baru: Uni Eropa Kritik Klaim Donald Trump atas Greenland
- Pencurian Baut Rel di Blitar Ancam Keselamatan Kereta
Advertisement
PMI DIY Galang Donasi Rp395 Juta Untuk Korban Banjir Sumatera
Advertisement
Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest
Advertisement
Berita Populer
- KUHP Baru Pidanakan Nikah Siri, Gus Hilmy: Problematis
- Jadwal Bus Sinar Jaya ke Pantai Parangtritis dan Baron, 9 Januari 2026
- Soal Superflu, Menkes Minta Warga Tetap Tenang
- Cegah Kecelakaan, Damkarmat Bersihkan Tumpahan Solar di Banguntapan
- Bruno Mars Umumkan Album Baru The Romantic Setelah 9 Tahun
- Lawson Indonesia Luncurkan Aplikasi MY LAWSON untuk Pelanggan
- Penembakan Agen Federal di Portland Picu Protes Tolak ICE
Advertisement
Advertisement



